Harus Dipaksakan karena Istiqamah Itu Sulit
SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Tepuk tangan bergemuruh begitu nama para pemenang Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional (MQKN) 2023 disebut. Satu per satu nama peserta terbaik dipanggil untuk mendapat penghargaan pada Selasa (17/7) malam itu. Salah seorang di antara nama itu adalah Arini Ridhaka, santri Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee.
Arini berhasil menempati posisi juara pertama MQK Marhalah Ulya Bidang Akhlak Kategori Putri. Nilai yang diperoleh mengungguli kafilah dari Jawa Tengah Nabilah Annaila dan kafilah Sumatera Utara Ulyamuthomainnah Siregar. Sementara juara harapan diraih kafilah Riau Oca Siskina, kafilah Jawa Barat Dalfa Tsabitatul Wahidah, dan kafilah Jambi Wiryana.
MQKN 2023 terdiri atas 25 bidang lomba. Yakni, fiqih ula, nahwu ula, akhlak ula, tarikh ula, dan tauhid ula. Kemudian fiqih wustha, nahwu wustha, akhlak wustha, tarikh wustha, ushul fiqih wustha, tafsir wustha, hadist wustha, dan tauhid wustha. Sedangkan untuk tingkat ulya ada 12 bidang. Yakni, fiqih ulya, nahwu ulya, akhlak ulya, tarikh ulya, ushul fiqih ulya, dan ilmu tafsir ulya. Kemudian, tafsir ulya, ilmu hadist ulya, balaghah ulya, tauhid ulya, dan bahtusl kutub ma’had ali.
Sebelum meraih gelar juara tingkat nasional, perempuan 20 tahun itu sudah banyak mengoleksi prestasi. Putri pasangan Ach. Bahri dan Tuffahah tersebut pernah juara di tingkat Jawa Timur sejak duduk di tingkat SLTA.
Arini mendapatkan informasi lomba membaca kitab tingkat provinsi pada awal Mei lalu. Tempatnya di Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Namun, saat itu dirinya tidak merasa akan terpilih untuk mengikuti perlombaan tersebut. Sebab, banyak santri lain yang mampu membaca kitab dengan baik. ”Alhamdulillah, nama saya masuk untuk dipercayai mengikuti lomba,” katanya.
Setelah itu, Arini mencari pembimbing untuk mengikuti perlombaan. Sejak saat itu dirinya menyempatkan waktu untuk meminta bimbingan membaca kitab yang baik. Sebab kegiatan di pesantren cukup padat. ”Hanya punya waktu di malam hari untuk bimbingan ke ustad,” ucap Arini.
Selama tiga minggu mengikuti bimbingan, akhirnya dia mengikuti lomba tingkat provinsi. Beruntung dirinya bisa fokus dan tampil dengan maksimal. ”Alhamdulillah dapat juara 1,” tuturnya.
Arini terus belajar membaca kitab dengan optimal. Hingga akhirnya kembali mendapat permintaan untuk mengikuti lomba tingkat nasional. Hal itu membuat dirinya makin tertantang untuk belajar lebih baik lagi.
Selama satu bulan melakukan persiapan dengan matang sebelum lomba dilaksanakan. Segala persiapan yang dilakukan membuahkan hasil maksimal. Tepuk tangan menggema lokasi acara di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, saat namanya disebut sebagai juara pertama. ”Untuk tingkat nasional juga juara 1,” ujar Arini.
Dia melihat perlombaan tingkat provinsi dan nasional berbeda. Di tingkat provinsi hanya pembacaan dan menjabarkan maksud. Sedangkan di tingkat nasional disertai pemaknaan.
Arini mengaku, untuk bisa membaca kitab yang bagus tidak mudah. Butuh keseriusan dan semangat belajar tinggi. ”Yang sulit itu istiqamahnya. Jadi harus dipaksakan untuk belajar,” imbuh Arini. (iqb/luq)
Editor : Abdul Basri