Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pernah Kirim ke Negeri Kincir Angin, Fakta Perjalanan Panjang Arief Wibisono Tekuni Dunia Keris

Abdul Basri • Minggu, 30 Juli 2023 | 03:14 WIB

 

WARISAN LELUHUR: Arief Wibisono merapikan beberapa keris buatannya di kediamannya di Jalan Nugroho, Desa Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Selasa (25/7). 
WARISAN LELUHUR: Arief Wibisono merapikan beberapa keris buatannya di kediamannya di Jalan Nugroho, Desa Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Selasa (25/7). 
 

Senjata tradisional keris bukan hal baru di Madura. Bahkan, pada masa kerajaan sudah dikenal di kalangan masyarakat luas. Beberapa literatur juga menyebutkan menjadi cikal bakal perjalanan sejarah Madura, terutama Pamekasan. Karena itu, Arief Wibisono memutuskan memperdalam dan merawat warisan senjata nenek moyang tersebut.

LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

AYO masuk, aduh maaf berantakan tempatnya,” kata Arief Wibisono ketika mempersilakan masuk JPRM saat berkunjung ke kediamannya di Jalan Nugroho Desa Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Selasa (25/7).

Arief menekuni pembuatan keris sejak 2006 lalu. Tidak heran, ketika tiba di rumahnya, terlihat banyak peralatan dan perkakas pembuatan keris. Selain itu, ada beberapa lukisan hasil karyanya.

Saat berbincang santai, Arief menceritakan awal mula menekuni dunia keris. Ketika itu hadir dalam sebuah event bertajuk Bangkitnya Keris Jawa di Jakarta pada 2006 silam. Itu setelah keris diakui oleh Unesco sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) di Konferensi Jenewa di Prancis 2005.

Sebelum berangkat ke Jakarta, Arief mengaku bermimpi Presiden pertama Ir. Soekarno tengah menunggangi kuda hitam di depan rumahnya. Tiba-tiba dia terbangun dan dapat telepon. ”Saya ditelepon oleh panitia di event itu untuk menjaga beberapa keris di kelas unggulan, saya kaget tapi langsung saya katakan siap,” kata Arief pada JPRM.

Selepas pulang dari Jakarta, Arief punya keinginan untuk menekuni dunia keris secara serius. Meski, awal-awal tidak tahu dan banyak pertanyaan keris itu dari mana? Untuk apa? Kenapa masih bisa eksis sampai sekarang?

Tanpa disadari pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul dengan sendirinya. Justru, atas pertanyaan itu keinginan Arief untuk menekuni dunia keris semakin gigih. Apalagi, kala itu Arief berprofesi sebagai jurnalis di TVRI.

Dengan mengandalkan relasi yang luas, Arief akhirnya memutuskan untuk mengenal lebih jauh tentang senjata tradisional tersebut. Bahkan, tidak hanya menekuni dunia keris, Arief juga menyukai budaya Indonesia, khususnya Madura.

Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) itu menyatakan, untuk mengetahui sejarah senjata keris, tentu harus tahu juga sejarah Madura secara umum. Yang jelas, pada masa pemerintahan Arya Wiraraja, keris sudah ada dengan jenis keris gerre manjeng dan bar ambat yang populer di Pamekasan.

Arief menyampaikan, ada beberapa hal yang membedakan antara keris Pamekasan dan daerah lain. Seperti halnya dari sisi bentuk dan pamornya yang lebih tegas. Selain itu, bilahnya juga tebal dan ada ciri khusus yang biasanya terdapat di paksinya.

Pamor keris merupakan seni melukis di dalam api dengan pengambilan motif dari alam sekitar seperti tumbuhan dan binatang. ”Sebenarnya untuk motifnya, para empu menangkap dari alam sekitar, seperti biji pala, kalareh sakongkong, banyu mili, ganggang kanyut, rambut senuri, dan sebagainya,” kata ayah dari dua anak itu.

Dia mengaku awal-awal membuat keris tentu belajar secara otodidak. Hanya mencontoh dari empu-empu senior.

Ketua Rumah Budaya Pamekasan itu menyebutkan, hasil pembuatan kerisnya ada yang dihargai hingga ratusan juta. Akan tetapi, ada juga yang hanya ratusan ribu. ”Saya tidak mau munafik, mulai dulu para empu membuat keris agar dapur di rumah bisa tetap ngebul,” katanya dengan tertawa lepas.

Pembelinya dari berbagai kalangan, mulai pejabat hingga masyarakat biasa. Bahkan, juga ada yang dari luar negeri. ”Pernah menjual produksi kerisnya seharga Rp 50 juta ke Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto,” ucapnya.

Dia mengatakan, selama menekuni dunia keris, pihaknya pernah mengirim 21 keris, tujuh celurit dan enam lukisan ke negeri kincir angin. Hal tersebut tidak terlepas dari sejarah panjang antara Indonesia dengan Belanda.

Adapun keris yang juga kental dengan mistis, Arief menjelaskan bahwa ada penyucian keris di malam satu Suro. Tujuannya, ingin membersihkan hati dan pikiran tanpa unsur metafisik yang lain.

”Sebenarnya kembali ke diri kita masing-masing, setiap pekerjaan memiliki tujuannya masing-masing. Dan kembali ke kita, mau yang mana? Seperti itu saja,” katanya.

Ketua Bidang Kepemudaan Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) periode 2016–2019 itu berharap, para generasi muda bisa mengetahui beragam senjata tradisional warisan leluhurnya. Artinya, tidak hanya celurit, tapi tombak dan juga keris menjadi senjata tradisional yang harus dipelajari.

”Makanya saya tidak pernah membatasi diri saya untuk berteman dengan siapa pun. Bahkan banyak anak-anak muda yang datang ke sini, ngobrol santai saja,” pungkasnya. (*/daf)

 

Editor : Abdul Basri
#keris #Arya Wiraraja #kincir angin #madura #budaya #Perjalanan