SATU di antara yang optimistis yakni Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Sumenep. Mereka yakin bahasa Madura punya ruang tersendiri. Buktinya, diskusi rutin malem salekoran pada Jumat (24/6) digelar dengan tajuk Ngopene Basa, Ngopene Bangsa.
Malam itu, Lesbumi menghadirkan Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Lukman Hakim AG sebagai pemantik. Laju diskusi berjalan cukup hangat. Berbagai pertanyaan dan pernyataan muncul sepanjang forum yang dipandu novelis Nun Urnoto El Banbary itu. Gagasan dan wacana tentang bahasa Madura bertumbuhan. Tentu kaitannya dengan praktik tulis.
Lukman mengatakan, fenomena bahasa Madura sebagai bahasa komunikasi sudah selesai dan tak perlu diperdebatkan lagi. Namun, sebagai bahasa tulis, bahasa Madura masih menemukan problem.
Sebagai orang yang punya perhatian lebih terhadap bahasa Madura, Lukman menyarankan para pengguna bahasa Madura punya pemahaman yang kompleks tentang tata bahasa Madura. Sebab, fenomena salah tulis selalu mudah ditemui, terutama di media sosial.
Bahkan, kata dia, kesalahan penulisan itu juga kerap dilakukan oleh orang yang punya gelar akademik mentereng. Juga para politisi, terutama pada masa-masa kampanye yang banyak menggunakan bahasa Madura untuk menggaet calon pemilih.
Meski demikian, Lukman tak ingin menghakimi mereka. Sebab, perlu diakui bahwa bahasa Madura, di tengah tawaran dunia modern, memang seolah kalah pamor dengan bahasa asing. Karena itu, banyak remaja Madura, pelajar lebih-lebih, akan lebih memilih bahasa asing daripada bahasa Madura.
Penyebabnya banyak. Mulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Tidak sedikit orang tua di Madura sudah tidak berbahasa Madura dengan anak-anak mereka. Kemudian didukung kebijakan pemerintah yang kurang peduli. Bahkan, di lingkungan lembaga pendidikan sekalipun, bahasa Madura hanya dijadikan pelengkap untuk menggugurkan kewajiban muatan lokal.
Selain itu, jumlah buku berbahasa Madura sangat jauh lebih sedikit dibanding buku-buku berbahasa yang lain. Karena itu, kemudian muncul kesan belajar bahasa Madura dianggap lebih sulit daripada belajar bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa asing lainnya.
”Tidak salah jika pengetahuan tentang bahasa Madura minim. Tapi ini sungguh ironis,” ungkap penulis buku Sagara Aeng Mata Ojan, Cengkal Burung, Oreng-Oreng Palang, dan Tang Bine Majembar Ate itu.
Menurut dia, jika benar-benar mempelajari paramasastra Madura bagai menenggak air laut. Semakin dalam mempelajari dan menekuni bahasa dan sastra Madura akan terasa nikmat dan selalu haus. Jika sudah paham betul tentang bahasa Madura, saya yakin tidak akan muncul ungkapan lebih mudah belajar bahasa asing.
”Perbedaan antara suara dan tulisan tidak hanya terjadi pada bahasa Madura seperti saba (sawah) yang dibaca sabâ. Bahasa Inggris juga banyak yang demikian,” papar pria tiga anak itu.
Di samping itu, belajar bahasa Madura butuh sikap jekjek (konsistensi). Jika merasa lebih pas dengan ejaan 2011, maka secara keseluruhan harus dipakai. Demikian juga dengan ejaan tahun sebelumnya. Bukan ngangguy eja’an ngala’ karebba dibi’.
Yang banyak terjadi adalah menggunakan ejaan 2011, namun d titik bawah (ḍ) tidak dipakai. Selain itu, tidak sedikit yang mempertahankan ejaan itu terkesan hanya formalitas. Namun, dalam kehidupan nyata diabaikan.
Dia menaruh hormat kepada para ahli bahasa Madura. Baik yang menggunakan ejaan 1973 maupun ejaan 2011. Di sisi lain dia mengajak kepada orang Madura secara umum untuk belajar bahasa Madura. ”Tidak baik mentang-mentang punya gelar banyak atau jabatan tertentu kemudian menulis bahasa Madura tanpa memperhatikan paramasastra Madura. Yang demikian bahaya karena bisa dianggap benar dan ditiru oleh mereka yang tidak tahu,” ungkap Lukman.
Lukman juga optimistis bahwa usia bahasa Madura akan panjang. Hal itu ditandai dengan munculnya penulis-penulis muda yang ambil bagian dalam sastra berbahasa Madura. Juga semakin banyak nama benda atau produk tertentu menggunakan bahasa Madura, meskipun secara bahasa perlu dikoreksi. Fenomena ini menandai bahwa masih banyak orang yang punya perhatian terhadap bahasa daerah.
”Ini penting kita baca sebagai tanda bahwa keberlangsungan bahasa Madura akan panjang, dan kita tak perlu pesimistis,” ungkap peraih Anugerah Sastra Rancage 2021 itu.
Hal yang paling dibutuhkan saat ini, kata Lukman, adalah ruang dan apresiasi bagi mereka. Di sisi lain, penghargaan khusus karya berbahasa Madura serta penghargaan pemerhati atau pelestari bahasa dan sastra perlu dipikirkan oleh pemerintah.
Menurut dia, penghargaan seperti Sumenep Awards perlu dilanjutkan. ”Peraih olimpiade MIPA sering diarak keliling kota. Tapi, apresiasi kepada sastrawan tidak seheboh itu. Jangan-jangan karena dunia sastra di Madura dianggap biasa dan eksak dinilai luar biasa?” (di/luq) Editor : Abdul Basri