Tiga Kunci UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Global Menurut BRI

Hendriyanto • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 13:31 WIB
BRI menggelar penguatan literasi keuangan untuk terus mengembangkan UMKM di Indonesia.
BRI menggelar penguatan literasi keuangan untuk terus mengembangkan UMKM di Indonesia.

JAKARTA, RadarMadura.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia untuk naik kelas hingga mampu menembus pasar global. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pembiayaan, kapasitas usaha, literasi keuangan, serta pembukaan akses bisnis dan pasar internasional.

Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris Y. S. mengatakan, terdapat tiga kunci yang perlu diperkuat agar semakin banyak UMKM Indonesia mampu masuk ke pasar ekspor. Ketiga aspek tersebut mencakup kapasitas usaha dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis.

Hal tersebut disampaikan Dippo dalam Indonesia Economic Forum 2026 bertema “The Future of Indonesia’s Exports: Transforming Towards Value-Added, Competitive and Sustainable Growth”. Forum tersebut membahas strategi memperkuat daya saing ekspor Indonesia dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Berangkat dari tiga hal tersebut, kami memberikan pembiayaan untuk membantu kapasitas, kami memberikan program pendampingan untuk membantu literasi, dan kami membuka sebesar-besarnya akses yang kami miliki untuk membantu akses bisnis dari UMKM,” ujar Dippo.

Menurut Dippo, pembiayaan menjadi fondasi awal bagi UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus kualitas produk. Akses modal memungkinkan pelaku usaha memperbesar skala bisnis, meningkatkan kapasitas produksi, serta memenuhi standar yang dibutuhkan pasar yang lebih luas.

Baca Juga: Penyakit Jantung Habiskan Rp 100 Triliun Lebih dari Pembiayaan BPJS Kesehatan

Komitmen tersebut tercermin dari portofolio kredit BRI kepada segmen UMKM. Hingga akhir triwulan II 2026, kredit kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan porsinya mencapai sekitar 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Namun, Dippo menekankan bahwa pembiayaan saja belum cukup untuk membawa UMKM menembus pasar global. Pelaku usaha juga perlu memiliki literasi keuangan dan tata kelola yang baik karena pasar ekspor memiliki tuntutan lebih kompleks, termasuk transparansi keuangan dan kemampuan memenuhi standar calon buyer.

“Ekspor itu bukan hanya menjual barang. Buyer di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan. Kemampuan dari produsen menjelaskan bagaimana cara memproduksi, bagaimana keuangannya, sumbernya dari mana, itu juga penting untuk dilihat dari sisi buyer,” jelas Dippo.

Karena itu, BRI mengembangkan ekosistem pemberdayaan UMKM yang berjalan berdampingan dengan pembiayaan. Hingga Juni 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan, Klasterku Hidupku lebih dari 44 ribu klaster usaha, LinkUMKM sekitar 17,3 juta pelaku UMKM, dan Rumah BUMN sekitar 596 ribu pelaku UMKM.

“Yang paling berat adalah bagaimana secara pelan-pelan kita meningkatkan skala mereka, literasi mereka sampai mereka bisa diakses secara internasional. Ini tidak boleh dibalik. Kalau hari ini kita kasih akses tapi literasinya belum dapat, maka akses itu akan sia-sia juga,” ungkap Dippo.

Setelah kapasitas dan kesiapan usaha diperkuat, tantangan berikutnya adalah mempertemukan UMKM dengan pasar. BRI memanfaatkan ekosistem nasabah dari berbagai segmen melalui pendekatan One BRI Solution, sehingga pelaku UMKM dapat terhubung dengan nasabah korporasi maupun komersial dan memiliki peluang masuk ke rantai nilai yang lebih besar.

Baca Juga: BRI Perkuat Dukungan MotoGP Mandalika 2026, Gabungkan Olahraga, Pariwisata dan UMKM

Pendekatan tersebut juga diwujudkan melalui BRI UMKM EXPO(RT). Pada penyelenggaraan 2025, ajang tersebut menghadirkan lebih dari 1.000 UMKM dan merealisasikan commitment deal melalui business matching sebesar USD90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun.

Kegiatan tersebut juga mempertemukan UMKM dengan 506 pembeli terdaftar dari 34 negara. Menurut Dippo, business matching menjadi salah satu upaya mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Dippo mencontohkan pengembangan UMKM di sektor perikanan dan industri kayu di Jawa Timur sebagai bagian dari pemanfaatan ekosistem tersebut. BRI tidak bekerja sendiri dalam membuka akses pasar internasional, tetapi memanfaatkan jaringan nasabah korporasi dan komersial yang telah memiliki hubungan bisnis dengan buyer di berbagai negara.

“Ketika mereka berhasil menjual produknya, mereka tidak sendiri. BRI tidak memberikan akses itu sendiri. Kita menggunakan nasabah-nasabah korporasi dan komersial kita yang kebetulan juga memiliki buyer di negara-negara tersebut. Jadi kolaborasi ini contohnya,” kata Dippo. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
bri umkm bisnis literasi keuangan