Dari Jualan Online hingga Punya Kedai, Mawiyah Kembangkan Usaha Bersama PNM Mekaar

Hendriyanto • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 21:19 WIB
INSPIRATIF : Mawiyah, perempuan asal Sepaku, Kalimantan Timur yang sukses mengembangkan usaha berkat menjadi nasabah PNM Mekaar.
INSPIRATIF : Mawiyah, perempuan asal Sepaku, Kalimantan Timur yang sukses mengembangkan usaha berkat menjadi nasabah PNM Mekaar.

SEPAKU, RadarMadura.id – Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak dapat berkontribusi menambah penghasilan keluarga. Hal itu dibuktikan Mawiyah, perempuan asal Sepaku, Kalimantan Timur, yang merintis usaha untuk memperbaiki ekonomi keluarganya.

Mawiyah mulai memberanikan diri merintis usaha secara daring pada 2023. Pada tahun yang sama, perempuan berusia 34 tahun tersebut bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar setelah mendapat informasi mengenai pembiayaan dari petugas.

Tambahan modal yang diperoleh kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha yang telah dirintisnya. Setahun kemudian, tepatnya pada 2024, Mawiyah membuka kedai sederhana di depan rumah.

Kedai tersebut menawarkan aneka minuman, jus, jajanan, serta gorengan yang menjadi pilihan masyarakat sekitar. Kehadiran kedai membuat Mawiyah tidak hanya menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga memiliki usaha dan penghasilan sendiri.

“Alhamdulillah, usaha semakin berkembang. Dari yang awalnya hanya berjualan online, pada tahun 2024 saya mulai membuka kedai di depan rumah yang menjual aneka minuman, jus, jajanan, dan gorengan,” ujar Mawiyah.

Menurut Mawiyah, menjalankan usaha tentu memiliki tantangan karena pendapatan tidak selalu sama setiap hari. Namun, semangat dan konsistensi menjadi modal penting untuk menjaga usaha tetap berjalan dan berkembang.

Baca Juga: BRI Raih Penghargaan Sports Industry of the Year 2026, Konsisten Dukung Ekosistem Olahraga Indonesia

“Kalau menjalankan usaha pasti ada naik turunnya penghasilan. Tapi menurut saya, selama kita tetap semangat dan konsisten menjalani usaha, insyaallah akan ada hasil baik yang didapat,” katanya.

Kepuasan pelanggan juga menjadi salah satu sumber semangat Mawiyah dalam menjalankan usaha. Baginya, pelanggan yang kembali membeli setelah mencoba produk di kedainya menjadi tanda bahwa produk yang ditawarkan mendapat respons positif.

Setelah memperoleh pembiayaan, Mawiyah semakin berani menambah variasi produk yang dijual. Pilihan minuman, jus, jajanan, dan gorengan yang lebih beragam membantu menarik pelanggan sekaligus meningkatkan pemasukan kedai.

Bagi Mawiyah, menjalankan usaha sendiri seperti mengelola perusahaan dalam skala kecil. Ia bertanggung jawab mengatur seluruh arus keuangan, mulai dari memisahkan modal, menyiapkan angsuran, memenuhi kebutuhan operasional, hingga menentukan pendapatan untuk dirinya sendiri.

“Rasanya seperti punya perusahaan sendiri, karena semua harus kita kelola sendiri. Saya harus membagi uang untuk modal yang diputar kembali, menyiapkan angsuran Mekaar, dan mengatur kebutuhan usaha,” ungkapnya.

Baca Juga: Ringankan Beban Warga Rentan, Dinsos P3A Sumenep Bagi Ratusan Paket Sembako

Ia juga belajar “menggaji” dirinya sendiri dari keuntungan usaha yang diperoleh. Kebiasaan tersebut membuat Mawiyah semakin memahami pentingnya memisahkan keuangan usaha dan keuangan pribadi.

Dengan pengelolaan keuangan yang teratur, angsuran pembiayaan tidak dianggap sebagai beban. Mawiyah menyiapkannya dari hasil penjualan sehingga perputaran modal kedai tetap terjaga.

Usaha Mawiyah kini tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke kedai. Selain berjualan setiap hari di depan rumah, ia menerima pesanan dan menyediakan layanan pesan antar.

Ketika ada acara atau kegiatan tertentu, Mawiyah juga membawa produk jualannya ke lokasi untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Cara tersebut menjadi bagian dari upayanya memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan usaha.

Dukungan yang diterima Mawiyah juga tidak berhenti pada akses pembiayaan. Ia pernah mengikuti kelas memasak yang diselenggarakan PNM Mekaar untuk menambah pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam mengembangkan produk kedainya.

Kisah Mawiyah menggambarkan bagaimana akses pembiayaan yang disertai pemberdayaan dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membangun sumber penghasilan.

Pembiayaan menjadi salah satu pintu bagi pelaku usaha ultra mikro untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan kapasitas dalam mengelola keuangan.

Perjalanan tersebut sejalan dengan semangat Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengintegrasikan kekuatan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM.

Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi diarahkan untuk memperluas sekaligus memperdalam akses layanan keuangan bagi masyarakat, khususnya segmen ultra mikro.

Baca Juga: UNIPDU Gelar Pengabdian Masyarakat di Desa Dempol, Edukasi Obat dan Kesehatan Gigi Anak

Ekosistem tersebut menghubungkan pembiayaan, simpanan, transaksi, pemberdayaan, hingga pendampingan usaha. Dengan integrasi tersebut, kebutuhan masyarakat dapat dilayani sesuai dengan perkembangan usaha dan kapasitas ekonominya.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa dalam ekosistem Holding UMi, perjalanan nasabah tidak berhenti ketika memperoleh pembiayaan.

Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan keuangan sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan kapasitas ekonominya.

“Dengan demikian, pelaku usaha ultra mikro memiliki ruang untuk terus bertumbuh, memperkuat usahanya, membangun kebiasaan menabung, hingga secara bertahap mengakses layanan keuangan yang semakin luas,” ujar Dhanny.

Hingga akhir triwulan II 2026, Holding UMi telah melayani 33,8 juta debitur aktif serta mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro.

Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM juga telah mendorong sekitar 2,3 juta debitur naik kelas, mencerminkan upaya untuk memastikan akses keuangan dapat berkembang menjadi pemberdayaan dan peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
sepaku PNM Mekaar bri jualan online