MERAUKE, RadarMadura.id – Bagi Mur Dwi Astuti, mengembangkan usaha pertanian padi di Merauke, Papua, bukan perjalanan yang mudah. Selain ketekunan mengelola lahan, petani harus menghadapi perubahan cuaca, keterbatasan air, hingga serangan hama yang dapat memengaruhi hasil panen.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, ketersediaan modal menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga usaha tetap berjalan dan berkembang. Perjalanan Mur dalam memenuhi kebutuhan finansial pun berlangsung secara bertahap sesuai dengan perkembangan usahanya.
Sebelum memanfaatkan fasilitas perbankan, perempuan asal Merauke tersebut lebih dahulu mengenal layanan gadai emas di Pegadaian. Pengalaman itu tidak hanya membantunya memenuhi kebutuhan keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar mengelola keuangan untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Baca Juga: Dari Laundry Rumahan hingga BRILink Agen, Kisah Hernawati Bertumbuh Bersama Holding Ultra Mikro
Seiring perkembangan usaha, kebutuhan modal Mur semakin meningkat. Setelah menjalankan usaha selama lebih dari satu tahun dengan skala sebelumnya, ia kemudian memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro BRI untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional pertanian.
Akses pembiayaan tersebut turut membuka ruang bagi Mur untuk memperluas lahan garapan. Dari semula mengelola satu hektare, kini lahan pertanian yang digarapnya telah berkembang menjadi tiga hektare.
Bertambahnya luas lahan bukan berarti tantangan yang dihadapi Mur menjadi lebih ringan. Menurutnya, kondisi cuaca dan serangan hama masih menjadi persoalan yang kerap dihadapi, terlebih saat musim kemarau ketika ketersediaan air menjadi terbatas.
“Kita ini tergantung musim, biasanya ya padi kalau bagus ya kita dapat hasil bagus, kalau jelek ya jelek,” ungkapnya.
Ketika kebutuhan modal semakin besar, Mur mencari alternatif pembiayaan yang dapat mendukung kegiatan pertaniannya secara produktif. Ia kemudian memilih KUR Mikro BRI, salah satunya karena skema tersebut tidak mengharuskannya menyediakan jaminan lain.
Dalam proses pengajuan, Mur juga memperoleh pendampingan dari petugas BRI. Ia mengatakan komunikasi dilakukan secara langsung dengan respons yang cukup cepat.
“Kita langsung menghubungi petugasnya, langsung ditanya-tanya, dilayanin,” ujarnya.
Baca Juga: Polsek Camplong Warning Pelajar Jauhi Kenakalan Remaja
KUR Mikro BRI selanjutnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan operasional pertanian. Penggunaan dana tersebut antara lain untuk proses budidaya, pembayaran tenaga kerja, hingga biaya penggunaan alat pertanian.
Dukungan modal tersebut membantu Mur meningkatkan skala usahanya hingga lahan yang dikelolanya mencapai tiga hektare. Seiring bertambahnya skala usaha, ia juga mulai merasakan perubahan dalam cara mengelola keuangan.
Mur mengakui sebelumnya masih mengalami kesulitan mengatur keuangan usaha. Melalui pendampingan BRI, ia mulai belajar menyisihkan sebagian uang untuk kembali digunakan sebagai modal pada siklus tanam berikutnya.
“Soalnya kan kita ini belum bisa mengelola keuangannya. Nah, terus kita dibantu oleh BRI, jadi kita bisa simpan-simpan uangnya lebih mudah,” kata Mur.
Bagi Mur, kemampuan mengelola keuangan menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan usaha pertanian yang sangat bergantung pada musim. Tambahan modal tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan operasional, tetapi juga memberinya ruang untuk mengembangkan lahan secara bertahap.
Baca Juga: DKPP Pamekasan Belum Salurkan Bantuan Perajang Tembakau
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi perjalanan kemandirian ekonomi bagi Mur sebagai perempuan yang menekuni sektor pertanian. Ia membuktikan bahwa perempuan juga memiliki peluang untuk berkembang dan berkontribusi melalui usaha produktif.
“Ya, yang penting kita tuh mau berusaha, pasti perempuan juga bisa,” ujarnya.
Kini, dengan lahan yang telah berkembang dari satu menjadi tiga hektare, Mur masih menghadapi tantangan perubahan musim dan ketersediaan air. Namun, pengalaman memperoleh akses pembiayaan membuatnya lebih berani melihat peluang untuk mengembangkan usaha.
Ia pun mengajak petani dan pelaku usaha kecil lainnya untuk tidak ragu mengambil langkah selama mampu memenuhi kewajibannya. Baginya, keberanian berusaha dan kemampuan mengelola keuangan menjadi modal penting untuk menjaga usaha tetap tumbuh.
Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan perjalanan Mur di Merauke menggambarkan bagaimana ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi) yang terdiri dari BRI, Pegadaian, dan PNM dapat membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha secara bertahap sesuai kebutuhan dan perkembangan usahanya. Sinergi tersebut memungkinkan masyarakat memanfaatkan layanan keuangan yang relevan seiring dengan perubahan kebutuhan dan skala usaha.
“Pengalaman Mur yang terlebih dahulu memanfaatkan gadai emas di Pegadaian, kemudian beralih memanfaatkan KUR Mikro BRI, menunjukkan adanya ruang bagi pelaku usaha untuk tumbuh dan naik kelas seiring meningkatnya kebutuhan modal” ungkapnya.
Melalui sinergi dalam Holding Ultra Mikro, BRI, Pegadaian, dan PNM terus memperkuat akses layanan keuangan bagi masyarakat ultra mikro, mikro, dan kecil. Akses tersebut diharapkan tidak hanya membantu masyarakat memperoleh pembiayaan, tetapi juga mendorong mereka mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Editor : Hendriyanto