Tebar 10 Ribu Benih Lele Jadi Ikhtiar Achmad Jadid, Jurnalis Pamekasan Tambah Penghasilan

Amin Bashiri • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 09:30 WIB
MASA PANEN: Achmad Jadid memanen lele hasil budidaya di Dusun Tengah, Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Rabu (9/9).
MASA PANEN: Achmad Jadid memanen lele hasil budidaya di Dusun Tengah, Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Rabu (9/9).

 

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Kesibukan sebagai jurnalis tidak menghalangi Achmad Jadid untuk mencoba peruntungan dari budidaya lele.

Pria asal Dusun Tengah, Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, itu mulai menekuni usaha ini sejak Maret 2026.

Jadid yang telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2019 itu mulai menekuni budidaya lele dan menebar bibit pertama sekitar 10 ribu benih.

Benih berukuran 5–7 sentimeter itu dibudidayakan di empat kolam yang masing-masing berukuran 3 x 5 meter.

Pada tahap awal, benih dibagi ke dalam dua kolam. Sementara itu, dua kolam lainnya disiapkan untuk proses sortir setelah sekitar 15 hari sejak penebaran.

”Cara itu dilakukan agar pertumbuhan lele lebih terkontrol sekaligus memudahkan proses pemeliharaan,” ungkap Jadid.

Jadid menerapkan pola panen bertahap. Dari 10 ribu benih yang ditebar, panen pertama biasanya sekitar 20 persen.

Hasil terbesar diperoleh pada panen kedua yang bisa mencapai 70 persen, sedangkan sekitar 10 persen sisanya dipanen pada tahap ketiga.

Dengan jumlah benih dan pola pemeliharaan tersebut, hasil panen keseluruhan biasanya mencapai 8–9 kuintal.

Karena benih yang ditebar sudah berukuran 6–7 sentimeter, seluruh lele umumnya dapat dipanen dalam waktu sekitar 2,5 bulan.

”Kalau tebar 10 ribu bibit, biasanya panen diangka 8 sampai 9 kuintal. Karena bibitnya saya tebar ukuran 6–7 sentimeter, sekitar 2,5 bulan sudah panen semua,” ujar pria berusia 33 tahun itu.

Jadid mengutarakan, ada tantangan yang dihadapi dalam menjalankan usaha tersebut. Salah satunya kenaikan harga pakan.

Sebelumnya, pakan lele kemasan 30 kilogram dibanderol sekitar Rp 375 ribu per sak. Saat ini, harganya naik menjadi Rp 405 ribu per sak.

Dalam satu siklus budidaya, kebutuhan pakan mencapai sekitar 28 sak sejak awal penebaran hingga panen.

 Jika menggunakan harga lama, biaya pakan menghabiskan sekitar Rp 10,5 juta.

Jika ditambah pembelian 10 ribu benih sebesar Rp 2,3 juta dan biaya listrik sekitar Rp300 ribu selama tiga bulan, total modal produksi mencapai sekitar Rp13,1 juta.

Dengan hasil panen sekitar 900 kilogram dan harga jual Rp27 ribu per kilogram, omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp 24,3 juta. Dari hitungan tersebut, terdapat selisih sekitar Rp 11,2 juta dari biaya produksi.

”Sekarang pakan sudah naik menjadi Rp 405 ribu. Dulu satu sak isi 30 kilogram sekitar Rp375 ribu, sekarang. Jadi, biaya produksinya tentu berbeda,” sebut Ketua Jurnalis Center Pamekasan dua periode tersebut.

Saat ini, harga jual lele cukup menguntungkan peternak. Harga rata-rata berada di kisaran Rp 27 ribu hingga Rp 28 ribu per kilogram. Bahkan, harga cenderung tinggi karena ketersediaan stok lele di pasaran terbatas.

Jadid juga melihat peluang baru dari keberadaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, keberadaan dapur MBG ikut membuka pasar bagi pembudidaya lele. ”Alhamdulillah, berkat adanya dapur MBG, petani lele benar-benar merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

Bagi Jadid, budidaya lele menjadi salah satu ikhtiar untuk menambah penghasilan di luar profesinya sebagai jurnalis.

Di tengah aktivitas jurnalistik yang tetap dijalani, kolam-kolam lele di belakang rumah menjadi ladang usaha yang terus dikembangkan.

”Usaha ini juga menjadi ikhtiar untuk memanfaatkan peluang yang ada di sekitar kita,” pungkasnya. (lil/bil)

Editor : Amin Bashiri
ekonomi bisnis budidaya lele