Kinerja BRI Triwulan II 2026 Solid, Laba Tumbuh 17,5 Persen Jadi Rp 31,2 Triliun

Hendriyanto • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 10:21 WIB
BRI terus melakukan transformasi yang berdampak pada peningkatan laba.
BRI terus melakukan transformasi yang berdampak pada peningkatan laba.

JAKARTA, RadarMadura.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus melanjutkan agenda transformasi sebagai fondasi untuk membangun pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.

Transformasi yang dijalankan secara konsisten tersebut mulai tercermin pada penguatan kinerja BRI, termasuk laba bersih yang mencapai Rp31,2 triliun pada Triwulan II 2026 atau tumbuh 17,5% secara year-on-year (yoy).

Capaian tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Turut hadir Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K., Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, serta Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, di tengah dinamika ekonomi dan ketidakpastian global yang masih tinggi, BRI mampu menjaga momentum pertumbuhan yang sehat. Perseroan juga terus memperbaiki kualitas aset serta memperkuat profitabilitas.

Baca Juga: UMKM Tetap Jadi Core Business, Kredit BRI Tembus Rp 1.235 Triliun

“Transformasi yang kami jalankan secara konsisten sejak manajemen baru hadir di BRI mulai menunjukkan hasil yang positif. Kami melakukan penguatan dari sisi bisnis, budaya dan efisiensi, digitalisasi, hingga manajemen risiko yang tetap kuat. Transformasi ini membuat BRI semakin produktif dan mampu menjaga pertumbuhan secara sehat,” ujarnya.

Hery menambahkan, BRI memandang pertumbuhan berkelanjutan tidak semata-mata diukur dari besarnya laba yang dihasilkan. Perseroan juga menaruh perhatian besar terhadap kualitas pertumbuhan yang dihasilkan.

“Karena itu, Perseroan terus mendorong ekspansi bisnis secara selektif dan prudent, menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat tata kelola dan manajemen risiko di seluruh lini bisnis,” imbuhnya.

Melalui BRIVolution Reignite, BRI melanjutkan agenda transformasi melalui dua strategi besar yang berjalan secara simultan. Strategi tersebut meliputi penguatan pendanaan serta perbaikan bisnis inti yang telah ada, sekaligus pembangunan sumber pertumbuhan baru.

Dari sisi pendanaan, BRI berfokus memperbesar basis dana murah dan transaksional melalui pendekatan berbasis ekosistem. Strategi tersebut dijalankan dengan memaksimalkan kapabilitas digital channel, mulai dari akuisisi merchant, peningkatan transaksi BRImo dan QRIS, hingga penguatan BRILink Agen.

Pada saat yang sama, BRI terus memperdalam penetrasi pada klaster bisnis dan mengintegrasikan value chain. Perseroan juga mengoptimalkan One BRI Solution untuk memperkuat ekosistem layanan dan pendanaan.

Pada bisnis inti, BRI melakukan revamp terhadap segmen mikro yang selama ini menjadi kekuatan utama perseroan. Di saat yang sama, BRI mulai membangun sumber pertumbuhan baru melalui optimalisasi potensi value chain dan ekosistem.

Baca Juga: Ancaman Kebakaran Terus Mengintai, Damkar Pamekasan Catat 109 Peristiwa Selama Delapan Bulan

Fokus pengembangan tersebut mencakup penyempurnaan product value proposition dan targeting untuk mengakuisisi nasabah berkualitas. BRI juga memperluas layanan bullion bank melalui sinergi di dalam BRI Group.

Lebih lanjut, Hery menuturkan bahwa fundamental yang semakin kuat dan arah transformasi yang semakin jelas membuat BRI optimistis dapat melanjutkan momentum positif ke depan.

Penguatan tersebut sekaligus memberikan ruang bagi BRI untuk terus menjalankan perannya dalam mendukung berbagai agenda prioritas pemerintah dan menggerakkan perekonomian nasional.

Dalam menjalankan peran tersebut, BRI tetap menjaga kualitas aset dan menerapkan prinsip kehati-hatian. Menurut Hery, dukungan terhadap program pemerintah dan penguatan fundamental bisnis harus berjalan secara beriringan.

“Bagi BRI, mendukung program pemerintah dan menjaga kualitas aset bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keduanya harus berjalan bersama agar pertumbuhan yang kami hasilkan hari ini dapat menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang,” lanjutnya.

Baca Juga: Sejumlah SPBU di Bangkalan Kehabisan Stok, Pertalite Langka, Pengendara Beralih ke Pertamax

Dalam mendorong dan mengakselerasi pertumbuhan perekonomian Indonesia secara berkelanjutan, BRI aktif menjadi mitra pemerintah dalam memperkuat pembangunan dan inklusi ekonomi.

Peran tersebut dijalankan antara lain melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), FLPP, dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis, serta pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

BRI juga mendukung penyaluran berbagai bantuan sosial pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Sembako Stimulus, dan BLTS Kesra.

Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya BRI untuk memperluas dampak ekonomi kerakyatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan.

Peran BRI dalam mendukung berbagai agenda pembangunan nasional berjalan beriringan dengan upaya perseroan memperkuat fundamental dan menjaga kualitas pertumbuhan bisnis.

Hal tersebut tercermin dari kinerja BRI hingga Triwulan II 2026 yang tetap solid, baik dari sisi pertumbuhan bisnis, profitabilitas, efisiensi, maupun kualitas aset.

Hingga Triwulan II 2026, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% secara year-on-year (yoy). Penyaluran kredit tumbuh lebih tinggi sebesar 16,2% menjadi Rp1.646 triliun.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% yoy. BRI tidak hanya berfokus meningkatkan volume DPK, tetapi juga terus memperkuat kualitas pendanaan melalui peningkatan rasio CASA.

Peningkatan profitabilitas BRI turut diikuti perbaikan efisiensi dan kualitas aset. Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0% menjadi 2,4%, sementara Cost to Income Ratio (CIR) membaik dari 41,9% menjadi 39,2%.

Dari sisi kualitas aset, rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0% menjadi 2,9%. Sementara itu, Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4% menjadi 3,1%.

Baca Juga: Relokasi Industri Tiongkok dan Pertaruhan Masa Depan Ekonomi Bangkalan

Penguatan fundamental tersebut turut menopang kemampuan perseroan dalam menghasilkan imbal hasil yang solid. Return on Asset (ROA) BRI tetap terjaga pada kisaran 2,7%, sementara Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6% pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8% pada Triwulan II 2026.

Meski terus menjalankan transformasi, Hery menegaskan bahwa DNA BRI tetap sama, yakni tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia. UMKM akan tetap menjadi core business dan fondasi utama pertumbuhan BRI.

Oleh karena itu, keberhasilan transformasi tidak hanya dilihat dari kemampuan BRI meningkatkan kinerja keuangan. Keberhasilan tersebut juga diukur dari seberapa besar pertumbuhan BRI mampu menciptakan nilai dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
Laba bri BBRI