BRI Perkuat Ekosistem Diaspora di Taiwan, Bekali PMI Keterampilan dan Literasi Keuangan

Hendriyanto • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:14 WIB
BERDAYA: Para perempuan pekerja migran di Taiwan mendapat pelatihan memasak dari BRI.
BERDAYA: Para perempuan pekerja migran di Taiwan mendapat pelatihan memasak dari BRI.

TAIWAN, RadarMadura.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat perannya dalam mendampingi diaspora Indonesia di luar negeri, khususnya Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Pendampingan dilakukan tidak hanya melalui layanan keuangan, tetapi juga melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), literasi keuangan, serta pengembangan keterampilan kewirausahaan.

Melalui berbagai program tersebut, BRI mendorong diaspora untuk mengelola penghasilan dan remitansi secara lebih produktif. Pengelolaan tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan keluarga, membangun tabungan dan investasi, memiliki aset, hingga menyiapkan modal usaha di Indonesia.

Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui peluncuran BRImo Taiwan di New Taipei City Hall pada Minggu (23/8/2026). Layanan tersebut memungkinkan diaspora Indonesia di Taiwan mengakses berbagai kebutuhan finansial dalam satu aplikasi, mulai dari transaksi sehari-hari hingga pengiriman dana ke Indonesia.

Baca Juga: Ramaikan Madura Culture Fest #4, Diskop UKM Perindag Buka Layanan Kejar Target UMKM Naik Kelas

Peluncuran BRImo Taiwan melanjutkan penguatan ekosistem BRI di Taiwan setelah kehadiran BRI Taipei Branch. Dalam satu tahun penguatan kehadiran tersebut, total aset BRI Taipei telah mencapai lebih dari US$408 juta, sedangkan transaksi remitansi Taiwan–Indonesia melalui BRI hingga akhir Juli 2026 mencapai sekitar US$490 juta dengan lebih dari 3.400 rekening yang telah dilayani.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan kehadiran BRI di Taiwan diarahkan untuk membangun konektivitas finansial yang semakin kuat antara diaspora dengan Indonesia. Menurutnya, BRI ingin menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia di Taiwan, baik dalam memenuhi kebutuhan finansial maupun mempersiapkan masa depan.

“Kehadiran BRI di Taiwan bukan semata tentang membuka kantor atau menghadirkan layanan digital. Ini adalah tentang hadir lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di Taiwan. Kami ingin BRI menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan finansial diaspora di Taiwan dengan keluarga dan berbagai kebutuhan finansial di Indonesia,” ungkap Dhanny.

Taiwan menjadi salah satu wilayah penting bagi ekosistem diaspora Indonesia. Berdasarkan data KDEI yang digunakan BRI, terdapat sekitar 360 ribu PMI di Taiwan, sementara berdasarkan data Bank Indonesia, remitansi PMI dari Taiwan mencapai sekitar US$2,97 miliar pada 2025 atau setara sekitar Rp 47–48 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS.

Nilai remitansi tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021 yang mencapai sekitar US$1,37 miliar. Besarnya arus remitansi menunjukkan tingginya aktivitas finansial PMI sekaligus kontribusi penghasilan mereka dalam menopang kebutuhan keluarga dan perekonomian di Indonesia.

Baca Juga: Unggul di Sistem Pembayaran Digital, BRI Borong 8 Penghargaan PRIMA Awards 2026

BRI mendorong agar penghasilan selama bekerja di luar negeri tidak hanya digunakan untuk kebutuhan saat ini. Penghasilan tersebut diharapkan dapat dikelola secara terencana untuk membangun tabungan, investasi, aset, dan modal usaha sebagai bekal masa depan.

Untuk mendukung perjalanan tersebut, BRI menghadirkan ekosistem layanan yang menjangkau kebutuhan PMI sejak tahap pra-keberangkatan, selama bekerja di negara penempatan, hingga tetap terhubung dengan keluarga di Indonesia.

Konektivitas tersebut didukung berbagai layanan BRI, termasuk BRImo, BritAma, Simpedes, serta jaringan BRILink Agen yang membantu keluarga menerima dan mengelola dana yang dikirimkan dari luar negeri.

Gambaran mengenai pengelolaan penghasilan PMI secara produktif terlihat dari perjalanan Sri Purwanti, nasabah BRI asal Cilacap, Jawa Tengah. Setelah bekerja sebagai PMI di Taiwan selama belasan tahun, Sri disiplin menyisihkan penghasilannya hingga berhasil mengumpulkan modal untuk merintis usaha kuliner halal.

“Waktu pertama kali jadi pekerja migran, mencari makanan halal itu luar biasa sulit. Dari situ saya berpikir, teman-teman pekerja lain pasti merasakan kesulitan yang sama. Saya bertekad menyisihkan sebagian penghasilan, menabung sedikit demi sedikit, dan belajar mengelola keuangan,” kenang Sri.

Usaha tersebut kemudian berkembang menjadi Kedai Sri Rahayu di Zhongzheng District, Taipei. Perjalanan Sri menunjukkan bahwa pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal untuk menciptakan peluang ekonomi baru ketika penghasilan dikelola secara produktif dan keterampilan terus dikembangkan.

Sejalan dengan semangat pemberdayaan PMI, BRI Peduli sebagai payung aktivitas TJSL BRI juga menghadirkan program “BRI Peduli Go Global PMI Entrepreneur Academy: Building Skills, Creating Opportunities”.

Program tersebut memberikan kesempatan kepada 120 PMI di Taiwan untuk memperoleh pengalaman dan keterampilan praktis yang berpotensi dikembangkan menjadi peluang ekonomi.

Melalui PMI Entrepreneur Connect pada Sabtu (22/8/2026), peserta mengikuti workshop dan praktik memasak masakan Taiwan bersama instruktur. Pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan peserta dalam mengolah kuliner yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha selama berada di Taiwan maupun setelah kembali ke Indonesia.

Sementara itu, Beautypreneur Empowerment Workshop pada Minggu (23/8/2026) mengusung konsep Beauty & Inclusivity. Peserta mendapatkan demonstrasi dan praktik tata rias bersama beauty trainer profesional sebagai bekal keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha di industri kecantikan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, BRI mendorong PMI membangun pola pikir kewirausahaan dan kemampuan menangkap peluang usaha. Dengan demikian, pengalaman bekerja di luar negeri tidak hanya memberikan manfaat berupa penghasilan, tetapi juga menjadi proses peningkatan kapasitas untuk mempersiapkan masa depan yang lebih produktif.

Baca Juga: Sekolah Aisyiyah Bustanul Athfal IV Pamekasan Disegel, Buntut Sengketa Lahan Ahli Waris dan Yayasan

Sifa, PMI asal Surabaya yang mengikuti kegiatan tersebut, mengatakan pelatihan yang diberikan BRI memberikan perspektif baru mengenai peluang yang dapat dikembangkan setelah kembali ke Indonesia. Menurutnya, keterampilan tersebut dapat menjadi modal untuk membangun usaha secara mandiri.

“Kegiatan ini mendorong kami sebagai PMI untuk menjadi lebih mandiri, kreatif, dan mampu melihat peluang yang dapat dikembangkan di Indonesia. Saya berharap keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat menjadi modal untuk membangun usaha yang berkelanjutan dan meningkatkan perekonomian setelah kembali ke Tanah Air,” ungkap Sifa.

Dhanny menegaskan pemberdayaan PMI menjadi bagian dari upaya BRI memastikan diaspora memiliki bekal yang lebih kuat setelah menyelesaikan masa kerja di luar negeri. Bekal tersebut mencakup keterampilan, aset, literasi keuangan, serta kemampuan berwirausaha yang dapat menjadi fondasi kehidupan setelah kembali ke Indonesia.

“Pada akhirnya, BRI ingin memastikan bahwa ketika para PMI kembali pulang ke Indonesia, mereka pulang dengan kehidupan yang lebih sejahtera. PMI diharapkan kembali dengan keterampilan, aset, dan kemampuan berwirausaha yang lebih kuat sehingga dapat memperkuat perekonomian dan menciptakan lapangan kerja,” pungkas Dhanny. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
kiterasi keuangan taiwan BRImo bri pmi