SUMENEP, RadarMadura.id – Usaha Bolen Bos Sumenep yang dirintis Nur Hayati sejak Januari 2026 mulai menunjukkan perkembangan.
Berawal dari dapur rumahan, produk olahan bolen tersebut kini tidak hanya diminati masyarakat Sumenep.
Pesanannya bahkan mulai menjangkau sejumlah daerah di luar Madura.
Bolen Bos Sumenep merupakan usaha homemade yang beralamat di Dusun Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep.
Baca Juga: Resep Fuyunghai Ayam Gurih dan Tebal ala Restoran Chinese Food, Anti Ribet!
Nur Hayati memulai usaha tersebut setelah melihat peluang bisnis bolen yang masih terbuka di sekitar tempat tinggalnya.
Perempuan kelahiran 1999 itu kemudian belajar membuat bolen secara mandiri melalui media sosial.
Setelah beberapa kali mencoba dan mengembangkan resep, dia akhirnya memutuskan menjadikannya sebagai usaha.
Nama Bolen Bos Sumenep dipilih karena terinspirasi dari keinginannya menjadi bos muda.
Owner Bolen Bos Sumenep Nur Hayati mengatakan, dirinya bersyukur usaha yang dirintis dari rumah tersebut terus berkembang.
Saat ini, produknya memiliki tujuh varian rasa, mulai dari rasa manis hingga gurih.
Varian yang ditawarkan di antaranya bolen pisang cokelat, pisang cokelat keju, pisang keju, ubi ungu, tape cokelat, tape original, dan chicken bolognese.
"Awalnya karena jarang orang yang berjualan bolen. Saya kemudian belajar dari media sosial bagaimana cara membuatnya," katanya.
Baca Juga: Dadar Gulung Coklat Pisang Keju Super Lembut, Ide Camilan Manis yang Mudah Dibuat untuk Keluarga
Menurut Yati, sapaan akrabnya, keberagaman varian menjadi salah satu strategi untuk menghadapi persaingan.
Terlebih, saat ini semakin banyak pelaku usaha yang menjual produk serupa.
Karena itu, inovasi terus dilakukan agar produknya memiliki pembeda.
"Agar pelanggan juga memiliki lebih banyak pilihan," ujarnya.
Untuk pemasaran, Yati memanfaatkan media sosial dengan sistem open order.
Pelanggannya tidak hanya berasal dari Kecamatan Guluk-Guluk dan Ganding.
Pesanan juga datang dari Kecamatan Kota Sumenep, Manding, Bluto, Lenteng, hingga Dungkek.
Jangkauan pemasarannya bahkan mulai merambah luar Madura.
Beberapa pesanan datang dari Sidoarjo, Malang, Tegal, Jogjakarta, hingga Nganjuk.
Pengiriman dilakukan menggunakan jasa ekspedisi.
"Yang membeli ada juga yang dari luar Sumenep. Seperti Sidoarjo, Malang, Tegal, Jogja, dan Nganjuk. Untuk pengirimannya menggunakan jasa pengiriman seperti pos," ungkapnya.
Dari sisi harga, Bolen Bos Sumenep dibanderol mulai Rp 15 ribu untuk seri mini.
Sementara varian jumbo bisa mencapai Rp 55 ribu per bungkus.
Kemasan dan jumlah isi disesuaikan dengan harga yang ditawarkan.
Dalam proses produksi, Yati dibantu suaminya, Muhammad Sofyan, serta mertuanya yang fokus menangani proses pemanggangan.
Baca Juga: Lezat dan Harum Menggoda, Kolak Pisang Ubi Durian Cocok untuk Menu Takjil atau Camilan Keluarga
Untuk legalitas usaha, Bolen Bos Sumenep saat ini telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal.
"Usaha kami sekarang sudah mengantongi NIB dan sertifikat halal," tukasnya.
Yati juga terus terbuka terhadap masukan dari konsumen.
Menurut dia, kritik dan saran pelanggan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas sekaligus mengembangkan produk.
"Saya terus menerima masukan dari semua konsumen. Makanya terus berkembang," ujarnya.
Meski demikian, bukan berarti usaha tersebut tanpa kendala.
Yati masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti fluktuasi harga bahan baku, pesanan yang belum stabil, hingga persaingan usaha yang semakin ketat.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya.
Dia memilih terus berinovasi dengan memperbanyak varian sekaligus menjaga kualitas produk.
Baginya, konsistensi menjadi kunci agar usaha yang dimulai dari dapur rumah tersebut dapat bertahan dan berkembang.
"Sekarang memang sudah banyak yang menjual bolen. Tetapi saya terus berinovasi dengan memperbanyak varian agar ada pembeda," tegasnya.
Yati berharap Bolen Bos Sumenep tidak berhenti sebagai usaha rumahan.
Dia ingin produknya semakin dikenal, baik di Sumenep maupun di luar daerah.
Untuk mewujudkan target tersebut, dia berkomitmen menjaga kualitas, memperbanyak inovasi, dan mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Dia optimistis usaha yang dirintis sejak awal 2026 itu masih memiliki peluang untuk berkembang lebih besar.
"Bagi saya, membuka usaha tidak harus selalu dimulai dengan modal besar. Yang terpenting keberanian melihat peluang, kemauan belajar, serta konsistensi dalam mengembangkannya," imbuhnya. (iqb/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti