PAMEKASAN, RadarMadura.id – Merintis usaha batik bukan sekadar menghasilkan lembaran kain dengan motif indah.
Bagi Sri Wahyuni Fatmawati, owner Nyi Leha Batik di Dusun Arsojih, Desa Pagendingan, Kecamatan Galis, Pamekasan, membatik merupakan cara menjaga warisan leluhur sekaligus mempertahankan identitas budaya Madura.
Karena itu, corak klasik tetap menjadi ciri khas yang dipertahankan.
Motif-motif tradisional tidak ditinggalkan, melainkan dikembangkan agar tetap diminati masyarakat modern.
Baca Juga: HKTI Pamekasan Dorong Harga Tembakau 20 Persen di Atas BPP
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Nyi Leha Batik untuk menjaga kekayaan budaya lokal agar tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.
Menurut Yuni, bisnis yang dirintis sejak 2019 tersebut merupakan usaha yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi membatik dalam keluarganya telah berlangsung sejak 1840-an.
Usaha tersebut diteruskan beberapa generasi, mulai dari Nyai Seli, Nyai Leha, hingga Nyai Zainiyah sebagai generasi ketiga.
”Saya ini generasi keempat. Pemilihan nama diambil dari generasi kedua, Nyai Leha. Dia adalah sosok yang sabar dan telaten. Itu sinkron dengan filosofi batik. Kalau membatik harus sabar, telaten, dan konsisten,” ungkapnya.
Perempuan berusia 40 tahun itu mengaku konsisten mengangkat tema klasik dalam produksinya.
Motif-motif tradisional tersebut tetap dipertahankan karena saat ini mulai jarang diproduksi pembatik.
Baca Juga: Bupati Minta Petani Stop Tanam Tembakau, Musim Hujan Mengintai, Risiko Gagal Panen Besar
Langkah itu sekaligus untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal.
”Tema batik yang selalu kami produksi adalah tema klasik. Kami memang mempertahankan batik-batik bertema klasik yang sekarang mulai minim diproduksi pembatik,” jelasnya.
Baginya, mempertahankan corak klasik bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman.
Justru, motif tradisional tersebut ingin dibawa ke pasar modern dengan tetap mempertahankan karakter aslinya.
”Ciri khas batik di sini belum banyak dikenal oleh orang luar. Karena itu, kami ingin mengenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Yuni menjelaskan, ada banyak motif batik yang diproduksi Nyi Leha Batik.
Mulai motif Arek Lancor, Toss TBC, Kayu Mati, Sekar Jagad, Junjung Derajat hingga Tar Gitar.
Dari sejumlah motif tersebut, Tar Gitar diakuinya sebagai warisan karya dari para pendahulunya.
”Cuma yang saat ini kurang gongnya. Dulu halus, kecil-kecil. Kalau sekarang kan standar ini. Nah, ini yang ingin saya gongkan kembali dan rencana mau didaftarkan hak cipta,” tegasnya.
Lulusan pascasarjana Kebidanan Stikes Guna Bangsa Yogyakarta itu mengungkapkan, ciri khas batik produksi Nyi Leha Batik juga terletak pada penggunaan warna yang tidak banyak.
Umumnya, hanya menggunakan dua warna sehingga menghasilkan tampilan yang soft. Karakter tersebut menjadi salah satu ciri khas batik klasik.
”Kami tetap full tulis tangan, kecuali ada permintaan. Saya juga ingin menghidupkan kembali penggunaan warna alami, meski warna sintetis memang tidak bisa ditinggalkan,” sebutnya.
Yuni tidak membuka lapak atau toko khusus di pasar. Dia memilih membuka galeri batik di rumah sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi dan mengikuti pameran.
Strategi tersebut membuat produk Nyi Leha Batik tidak hanya dikenal di Pamekasan, tetapi juga mampu menjangkau konsumen dari berbagai daerah.
”Untuk harga, batik asli dan murni buatan kami dibanderol mulai Rp 100 ribu, harga tertinggi sementara ini Rp 5 juta,” terangnya.
Di sisi lain, keberadaan usaha tersebut turut membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.
Proses produksi yang melibatkan ibu-ibu setempat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar.
”Ada sekitar 17 orang yang bekerja. Membatiknya di rumah masing-masing. Dalam satu bulan, kalau tidak ada pesanan, hasil produksinya kurang lebih 50 lembar,” pungkasnya. (lil/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti