Rumah BUMN BRI Antar Kingkaf dari Batang hingga Menjangkau Pasar Internasional

Hendriyanto • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 13:14 WIB
Hasil kemasan kopi dari usaha UMKM binaan BRI
Hasil kemasan kopi dari usaha UMKM binaan BRI

BATANG, RadarMadura.id – Kepedulian terhadap petani kopi lokal mengantarkan Ika Yuanita membangun PT Kingkaf Makmur Sejahtera pada 2017. Berawal dari usaha sederhana di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, produk kopi yang dikembangkannya kini berhasil menembus pasar internasional.

Ika merintis Kingkaf setelah melihat hasil panen petani kopi di Batang memiliki potensi besar, tetapi belum diolah secara optimal. Keterbatasan pengetahuan mengenai proses pascapanen membuat kopi lokal belum memiliki nilai tambah yang maksimal.

Berangkat dari kondisi tersebut, Ika bertekad mendampingi para petani sekaligus membawa kopi lokal ke pasar yang lebih luas. Namun, membangun pasar dari nol bukan perkara mudah karena saat itu ia belum memiliki jaringan distribusi yang kuat.

Pada tahap awal, Ika memasarkan produknya secara langsung kepada calon pelanggan. Ia mendatangi rekan, kenalan, hingga berbagai komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap produk kopi.

“Pada awalnya, proses penjualan kopi kami lakukan secara door to door melalui rekanan dan kenalan,” kenang Ika.

Baca Juga: Enam Jam Delapan ABK KM Griya Idola Terombang-ambing di Laut, Diselamatkan Nelayan Banyusangka 

Perlahan, respons pasar mulai tumbuh dan mendorong perkembangan usaha Kingkaf. Bisnis yang semula mengandalkan penjualan langsung berkembang menjadi kedai kopi dan restoran dengan enam outlet.

Pandemi Covid-19 kemudian menjadi tantangan besar bagi usaha tersebut. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat Ika harus mengubah strategi bisnis agar Kingkaf tetap bertahan.

Ia mengalihkan fokus usaha dari bisnis kedai dan restoran menjadi penjualan produk kemasan melalui jaringan reseller. Langkah tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus memberikan kesempatan masyarakat memperoleh penghasilan sebagai mitra penjualan.

Seiring berkembangnya usaha, kebutuhan operasional Kingkaf juga semakin kompleks. Ika tidak hanya berfokus pada kualitas produk, tetapi juga mulai membenahi sistem transaksi, permodalan, pemasaran digital, dan kapasitas produksi.
Pada fase inilah BRI menjadi bagian dari perjalanan bisnis Kingkaf.

Ika memanfaatkan layanan transfer dan QRIS BRI untuk mempermudah transaksi, sekaligus menggunakan pembiayaan mikro BRI guna mendukung operasional usaha.

“QRIS sangat membantu karena transaksi penjualan dapat diproses dengan cepat. Untuk kebutuhan permodalan, proses pembiayaan mikro BRI juga mudah dan cepat sehingga mendukung operasional usaha kami,” ujarnya.

Baca Juga: Kolaborasi UGreen dan Honkai: Star Rail Melahirkan Power Bank, Charger, Kabel, hingga Smart Tracker Edisi Khusus yang Diburu Kolektor

Dukungan BRI tidak berhenti pada layanan transaksi dan pembiayaan. Melalui rekomendasi sesama pelaku UMKM, Ika bergabung dengan Rumah BUMN BRI Semarang pada 2020 untuk memperluas wawasan dan jaringan usaha.

Di Rumah BUMN BRI Semarang, Ika mengikuti berbagai pelatihan mengenai digitalisasi, manajemen keuangan, legalitas produk, hingga pemasaran. Berbagai pembelajaran tersebut mengubah cara pandangnya dalam mengembangkan usaha.

“Petugas BRI sangat terbuka dan sangat ramah saat saya berminat masuk rumah pendampingan mereka. Di sana, saya merasa peran Rumah BUMN BRI Semarang sangat besar dalam mendukung perkembangan usaha saya. Dari berbagai pembelajaran yang diperoleh, pola pikir saya berubah. Menjual produk ternyata tidak cukup hanya dengan menawarkan kualitas, tetapi juga harus memberikan solusi bagi kebutuhan konsumen,” ungkap Ika.

Ika juga merasakan manfaat jejaring yang dibangun melalui Rumah BUMN BRI Semarang. Menurutnya, para pelaku UMKM dapat saling berbagi pengalaman, mendukung satu sama lain, dan membuka peluang kolaborasi.

“Di Rumah BUMN BRI Semarang, kami dapat saling mendukung, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Jadi, bukan hanya belajar mengenai bisnis, tetapi juga bertumbuh bersama pelaku UMKM lainnya,” katanya.

Berbekal pengetahuan, akses layanan, dan jejaring tersebut, Kingkaf terus berkembang. Dari basis produksi di Semarang dengan melibatkan 12 tenaga kerja, produk Kingkaf kini dipasarkan melalui situs resmi dan berbagai platform e-commerce nasional.

Pasar Kingkaf juga telah menjangkau sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Selandia Baru, dan Hong Kong. Capaian tersebut menunjukkan potensi kopi lokal mampu bersaing di pasar global melalui inovasi dan pengelolaan usaha yang berkelanjutan.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan pengembangan produk lokal membutuhkan dukungan yang menyeluruh. Menurutnya, akses keuangan, legalitas, digitalisasi, jejaring, hingga perluasan pasar menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing UMKM.

“Melalui program pemberdayaan Rumah BUMN, BRI menghadirkan ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Ekosistem ini diharapkan dapat membantu UMKM membangun fondasi usaha yang lebih kuat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Akhmad.

Ia menambahkan, pertumbuhan UMKM juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Semakin berkembang skala usaha dan kapasitas produksi, semakin besar pula kontribusinya dalam menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian daerah. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
olahan kopi UMKM Binaan BRI QRIS bri batang