SUMENEP, RadarMadura.id -- Asap tipis membubung dari dapur produksi sederhana di Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan, iiKabupaten Sumenep. Di tengah aroma khas gula merah, Rosidah (50) dengan cekatan mengaduk adonan di atas tungku besar.
Perempuan tersebut telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk melestarikan kuliner tradisional Madura. Bagi Rosidah, gula merah bukan sekadar komoditas dagang, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya.
Sejak 2006, Rosidah mengembangkan usaha gula merah khas Madura dengan memanfaatkan air nira dari pohon siwalan atau lontar yang banyak tumbuh di Sumenep. Namun, perjalanan usahanya tidak langsung berjalan mulus.
Pada masa awal merintis usaha, Rosidah menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari alat produksi yang masih tradisional hingga keterbatasan modal. Meski demikian, keteguhan hatinya tidak pernah luntur demi menghidupi keluarga.
"Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, kualitas gula merah buatan saya mulai dilirik konsumen. Permintaan mulai berdatangan," ungkapnya.
Baca Juga: Kasus Kredit MSW di Wonosobo, BRI Sebut Nasabah Menunggak Sejak 2023 dan Telah Direstrukturisasi
Seiring banyaknya permintaan, jaringan pelanggan Rosidah mulai meluas ke berbagai daerah. Titik balik perkembangan usahanya kemudian terjadi pada 2016.
Saat itu, Rosidah menyadari permintaan pasar yang terus meningkat tidak dapat dipenuhi tanpa tambahan modal kerja. Karena itu, ia memutuskan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Pragaan.
"Saya sudah lama jadi nasabah BRI, tapi baru tahun 2016 itu memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR. Saat itu saya mengajukan pinjaman Rp25 juta dan prosesnya cepat serta tim dari BRI sangat responsif. Saya memilih KUR ini karena selain bunganya rendah juga tidak ada agunan. Jadi cocok untuk usaha kecil seperti saya," urai Rosidah.
Dana KUR tersebut langsung dimanfaatkan untuk memperkuat ketersediaan bahan baku. Langkah itu terbukti mampu mendorong pertumbuhan usaha secara signifikan.
Selama tiga tahun pertama menjadi debitur KUR BRI, usaha Rosidah terus berkembang. Setelah pinjaman pertamanya lunas dengan catatan pembayaran yang baik, ia kembali mengajukan KUR senilai Rp50 juta.
Dukungan permodalan dari BRI terus berlanjut. Pada 2024, Rosidah kembali memperoleh fasilitas KUR sebesar Rp 100 juta untuk mendukung pengembangan usahanya.
Bagi Rosidah, tambahan modal kerja dari BRI memberikan manfaat nyata terhadap perkembangan bisnisnya. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan menambah peralatan produksi.
"Kucuran dari BRI ini sangat bermanfaat bagi kami. Khususnya untuk penyediaan bahan baku dan peralatan produksi agar bisa memenuhi permintaan," tandasnya.
Kecukupan modal membuat usaha Rosidah berkembang semakin pesat. Skala produksi harian meningkat tajam untuk memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah.
Jika sebelumnya produksi gula merah hanya sekitar 200 kilogram per hari, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 500 kilogram per hari. Peningkatan kapasitas produksi tersebut turut memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
"Alhamdulillah, kami juga bisa membantu warga sekitar. Selain menerima hasil bahan baku dari mereka, kami juga membantu menyerap tenaga kerja. Jika awal-awal saya merintis usaha ini saya kerjakan sendiri, saat ini pekerja saya ada 6 orang," ungkapnya.
Setelah dua dekade menjalankan usaha, Rosidah berhasil membangun basis pelanggan tetap di berbagai wilayah Madura. Pasarnya kini telah menjangkau Kabupaten Pamekasan, Sampang, hingga Bangkalan.
Sistem pemasaran pun semakin modern dan praktis. Para pemilik toko cukup melakukan pemesanan melalui telepon, kemudian Rosidah menyiapkan pengiriman secara rutin.
Sejalan dengan peningkatan volume usaha, omzet penjualan gula merah Rosidah terus meningkat dari waktu ke waktu. Keberhasilan tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi juga mendorong kedua anaknya membuka usaha di Surabaya.
Baca Juga: BRI Sumenep Tegaskan Komitmen Dukung Proses Hukum Kasus Fraud
Secara terpisah, Branch Manager BRI BO Sumenep Ali Topan mengatakan BRI terus memperkuat perannya sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyaluran KUR. Hingga Mei 2026, BRI BO Sumenep telah menyalurkan KUR sebesar Rp691 miliar kepada 22 ribu debitur.
Sebagian besar penyaluran tersebut berasal dari sektor produksi. Nilainya mencapai Rp 587 miliar atau sekitar 85 persen dari total penyaluran hingga Mei 2026.
Sektor produksi yang dimaksud meliputi perdagangan dan pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Sumenep. Menurut Ali, akses pembiayaan yang memadai memberikan peluang lebih besar bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas bisnisnya.
Dengan akses permodalan yang lebih mudah melalui KUR, pelaku usaha juga dapat membuka lapangan kerja dan memperkuat daya saing ekonomi daerah. Karena itu, BRI tidak hanya fokus pada pembiayaan, tetapi juga pemberdayaan usaha.
"Dukungan BRI tidak hanya sebatas penyaluran dana, tetapi juga mencakup pemberdayaan dan pendampingan usaha serta edukasi finansial agar para debitur dapat mengelola usahanya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan visi BRI untuk menjadi mitra terpercaya dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan, khususnya di daerah-daerah yang memiliki potensi unggulan," ungkapnya. (*/dry)
Editor : Hendriyanto