Di tengah gempuran camilan modern dan makanan ringan pabrikan, usaha stik jari-jari rumahan milik Husnul Khatimah tetap bertahan.
Selama 25 tahun, warga Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan, itu setia memproduksi camilan gurih dan renyah yang menjadi penopang ekonomi keluarganya.
USAHA makanan ringan rumahan tak selalu menjanjikan keuntungan besar. Namun, bagi sebagian orang, dapur kecil bisa menjadi penopang hidup keluarga.
Itulah yang dijalani Husnul Khatimah, warga Desa Waru Barat, Kecamatan Waru. Selama 25 tahun terakhir, ibu dua anak itu setia memproduksi camilan stik jari-jari dengan cita rasa gurih dan renyah.
Aroma tepung goreng yang khas hampir setiap hari mengepul dari rumah sederhana miliknya.
Di tempat itulah, Hatim mengolah adonan tepung menjadi camilan kriuk yang akrab di lidah masyarakat.
Stik jari-jari buatannya memiliki tekstur renyah dengan rasa gurih yang pas. Cocok menjadi teman santai di rumah maupun suguhan tamu. Meski sederhana, camilan itu tetap memiliki pelanggan setia.
”Sudah puluhan tahun saya buat camilan ini. Kadang ramai pesanan, kadang juga sepi. Tetapi, saya memilih bertahan. Banyak juga pelanggan yang setia membeli camilan sederhana ini,” katanya.
Dalam sehari, Hatim rutin memproduksi stik jari-jari meski jumlahnya menyesuaikan permintaan pasar. Produk tersebut kemudian dititipkan ke sejumlah toko dan warung di wilayah Waru hingga sekitarnya.
Menurut dia, mempertahankan usaha kecil bukan perkara mudah. Persaingan camilan modern dan kondisi ekonomi yang berubah-ubah membuat penjualan tidak selalu stabil. Namun, dia memilih bertahan.
”Kalau rezeki tidak akan ke mana. Yang penting tetap usaha. Di luar sana memang ada banyak jenis camilan. Tetapi, saya selalu yakin bahwa olahan stik jari-jari ini bisa bersaing dengan yang lainnya,” ujarnya.
Harga satu bungkus stik jari-jari dibanderol mulai Rp 5 ribu untuk ukuran kecil hingga Rp 10 ribu untuk ukuran besar. Dengan keuntungan yang tidak terlalu besar, Hatim tetap bersyukur karena hasil jualan itu bisa membantu kebutuhan keluarga sehari-hari.
Dia mengaku pernah mengalami masa penjualan menurun. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti produksi. Sebab, usaha kecil yang dirintis sejak lama itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
”Yang paling dinanti itu ya saat musim Lebaran. Karena, pasti banyak pesanan. Untungnya memang tidak seberapa, tapi alhamdulillah bisa membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.
Di tengah menjamurnya makanan ringan pabrikan, usaha camilan tradisional seperti milik Hatim menjadi bukti bahwa ketekunan masih memiliki tempat. Sehingga, tetap bisa bertahan dan membawa berkah bagi keluarga. (afg/han)
Editor : Amin Basiri