Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Semangkuk Bakso Sarat Kenangan, Pelanggan Lama Selalu Menyempatkan Mampir saat Pulang ke Pamekasan

Amin Basiri • Sabtu, 16 Mei 2026 | 13:53 WIB
MURAH: Tumpukan bakso milik Pak Mat siap disajikan kepada pembeli kemarin.
MURAH: Tumpukan bakso milik Pak Mat siap disajikan kepada pembeli kemarin.

 

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Bakso Pak Mat tak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas dan harga terjangkau. Warung sederhana di selatan kampus UIN Madura itu juga menyimpan banyak kenangan bagi pelanggan lamanya.

Bagi sebagian orang, warung tersebut bukan sekadar tempat makan. Semangkuk bakso yang disajikan Pak Mat menjadi pengingat masa-masa kuliah, pertemanan, hingga perjuangan hidup saat merantau di Pamekasan.

Salah satunya Rahmat Hidayat. Pria asal Kecamatan Pademawu itu mengaku kerap menyempatkan diri mampir ke warung tersebut setiap kali pulang ke rumahnya di Kota Gerbang Salam.

Menurut dia, rasa bakso Pak Mat tidak banyak berubah sejak kali pertama mencicipinya saat masih tinggal di Pamekasan. Harga yang murah juga menjadi alasan warung tersebut selalu ramai mahasiswa.

”Dulu saya sering makan di sini sebelum pindah ke Bangkalan. Semasa kuliah, hampir setiap minggu makan di sini karena murah dan rasanya enak,” ujarnya.

Rahmat mengaku memiliki banyak kenangan di warung tersebut. Selain menjadi tempat makan favorit, lokasi itu juga kerap dijadikan tempat berkumpul bersama teman-temannya selepas kuliah.

”Sekarang teman-teman sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi kalau pulang ke Pamekasan, pasti makan di sini, rasanya seperti kembali ke masa dulu,” tuturnya.

Pemilik warung, Muhammad Hari, juga masih mengingat masa kejayaan usahanya pada awal 2000-an. Saat itu warungnya hampir tidak pernah sepi pembeli.

Menurut pria yang akrab disapa Pak Mat itu, banyak mahasiswa rela antre untuk menikmati bakso buatannya. Bahkan, dagangannya kerap habis sebelum malam tiba.

”Kalau dulu ramai sekali. Sore saja biasanya sudah habis,” kenangnya.

Meski kini persaingan usaha kuliner semakin ketat, pelanggan lama masih sering datang untuk sekadar menikmati rasa bakso yang tetap dipertahankan sejak dulu.

Di usia 72 tahun, warga Perum Tlanakan Indah itu masih setia meracik bakso di warung sederhananya. Dengan enam cucu yang dimiliki, Pak Mat tetap memilih bertahan menjaga usaha yang telah menjadi bagian dari kenangan banyak orang di Pamekasan. (afg/han)

Editor : Amin Basiri
#bakso Pak Mat #bakso #pamekasan