Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perjuangan Mantri BRI di Kei Besar, Dorong Inklusi Keuangan hingga Pelosok

Hendriyanto • Sabtu, 25 April 2026 | 19:36 WIB
DI LAUT: Petugas BRI menuju daerah kepulauan di Kei Barat.
DI LAUT: Petugas BRI menuju daerah kepulauan di Kei Barat.

KEI BESAR, RadarMadura.id – Akses layanan keuangan belum merata di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Tantangan geografis seperti jarak antardesa, keterbatasan transportasi, dan kondisi alam masih menjadi hambatan utama bagi masyarakat.

Di tengah keterbatasan tersebut, hadir sosok penghubung antara layanan keuangan dan masyarakat. Salah satunya adalah Hany Dwiningsih Ubro, Mantri BRI yang bertugas di Unit Elat, Kepulauan Kei Besar, Maluku Tenggara.

Hany menjadi representasi Kartini masa kini yang tangguh dan berdedikasi dalam membuka akses ekonomi masyarakat kepulauan. Ia menjalankan perannya dengan penuh komitmen untuk mendekatkan layanan perbankan ke masyarakat.

Ia mengawali karier di BRI pada 2020 sebagai customer service di BRI Unit Masrum. Posisi tersebut menjadi titik awal perjalanan kariernya di dunia perbankan.
Namun, Hany tidak berhenti di posisi tersebut dan ingin berkembang lebih jauh.

Ia pun mencoba mengikuti seleksi internal untuk menjadi tenaga pemasar mikro. Perjalanan tersebut tidak mudah karena ia harus menghadapi kegagalan berulang kali. Namun, ia terus mencoba hingga akhirnya lolos pada 2025 setelah enam kali mengikuti seleksi.

Baca Juga: 426 Ribu BRILink Agen Mekaar Jadi Ujung Tombak Inklusi Keuangan Nasional

Sebagai Mantri BRI, Hany harus turun langsung ke lapangan untuk melayani masyarakat. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah kondisi geografis wilayah tugasnya.

"Saya ditempatkan di Unit Elat. Kota Elat di Pulau Kei Besar ini memiliki 115 desa dan 5 kecamatan. Beberapa wilayah di sini akses jalannya masih belum bagus. Tidak semua jalan beraspal. Di wilayah barat dan timur, jalannya masih belum beraspal. Bahkan, kalau kami bilang sangat tidak layak dilewati kendaraan baik roda dua maupun roda empat," terang Hany.

Perjalanan menuju desa sering memakan waktu lama dengan kondisi jalan yang berat. Ia kerap melewati jalan berlumpur, tanjakan curam, hingga jalur berbatu.
Selain medan darat, faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi hujan sering menghambat perjalanan dan meningkatkan risiko di lapangan.

“Cuaca sering jadi tantangan. Pernah kehujanan hingga basah kuyup, bahkan saat menuju daerah yang harus melewati sekitar 12 desa, kami terhambat jalan rusak dan berlumpur. Hampir menyerah, namun berkat bantuan warga yang mendorong motor, kami akhirnya bisa melanjutkan perjalanan,” kisahnya.

Tidak hanya jalur darat, Hany juga harus menempuh perjalanan laut untuk menjangkau beberapa wilayah. Ia menggunakan speedboat kecil untuk mencapai desa-desa tertentu.

Baca Juga: UMKM dan Wisata Desa Sumberejo Pacita Tumbuh Pesat Berkat Dukungan BRI

"Pernah naik speedboat kecil, di tengah jalan ombaknya besar dan kondisi mendung. Sempat khawatir juga, tapi saya percaya dengan pengemudi speedboat, kan sudah profesional. Dan benar kami bisa sampai dengan selamat," lanjutnya.

Dalam perannya, Hany tidak hanya menawarkan produk perbankan kepada masyarakat. Ia juga aktif memberikan edukasi terkait pengelolaan keuangan.

Produk yang diperkenalkan meliputi Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kupedes, tabungan, deposito, asuransi, hingga penggunaan QRIS. Mayoritas nasabahnya berasal dari kalangan petani, nelayan, dan pedagang.

"Nasabah kami di sini profesinya mayoritas adalah petani, nelayan, dan pedagang. Untuk produk yang banyak dibutuhkan biasanya pinjaman KUR dan Kupedes yang digunakan untuk mengembangkan usaha. Selain itu, produk tabungan juga diminati. Kita mengedukasi masyarakat juga untuk mulai menabung," jelas Hany.

Hany mengaku bangga dapat menjalankan perannya sebagai Mantri BRI. Ia merasa pekerjaannya memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

"Saya merasa bangga sekali bisa dipercaya sebagai Mantri BRI. Apalagi kalau melihat nasabah yang bisa mengembangkan usahanya, atau bisa menyekolahkan anaknya dengan pinjaman BRI ini. Adanya penyaluran pinjaman ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga. Jadi saya sangat bangga bisa menjadi jembatan akses keuangan mereka yang membantu menggerakkan roda ekonomi juga," tutup Hany.

Di kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menilai peran mantri sangat strategis dalam mendorong ekonomi kerakyatan. Ia menyebut mantri tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga menjadi pendamping usaha bagi nasabah.

Hingga saat ini, BRI memiliki sekitar 26 ribu mantri di seluruh Indonesia. Sebanyak 28,2% di antaranya merupakan perempuan yang turut berkontribusi dalam inklusi keuangan.

“Kisah ini menegaskan bahwa perempuan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. BRI percaya bahwa kesetaraan kesempatan adalah kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” tegas Akhmad. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
#kei barat #bri #daerah terpencil #BRILian