KEDIRI, RadarMadura.id – Berawal dari lapak sederhana berukuran 1,5 x 2 meter di halaman Pasar Setonobetek, Kota Kediri, Siti Cholifah berhasil mengembangkan usaha ayam potong. Kini, ia mampu meraup omzet ratusan juta rupiah setiap bulan.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Kelik ini merupakan warga Tosaren, Kecamatan Kota, Kediri. Ia memulai usahanya sejak 2007 dengan berjualan kebutuhan pokok seperti bumbu dapur, sembako, dan pernak-pernik rumah tangga.
Pada 2017, ia terpaksa menghentikan usaha saat program renovasi pasar berlangsung. Setelah pasar kembali beroperasi, lokasi berjualannya yang kurang strategis membuat dagangannya sepi hingga akhirnya tutup.
Kondisi tersebut sempat membuatnya kebingungan menentukan langkah selanjutnya. Meski begitu, ia tetap bertekad untuk bangkit dan mencari peluang baru.
“Yang penting ada kemauan pasti ada jalan. Pada 2019 saya memutuskan untuk mulai berjualan ayam potong,” ujarnya, pada Senin 20 April 2026. Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan usahanya.
Untuk mengembangkan usaha, Mbak Kelik membutuhkan tambahan modal. Atas saran rekan-rekannya, ia mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke BRI.
Pengajuan tersebut disetujui dan ia memperoleh pembiayaan awal sebesar Rp 15 juta. Seiring perkembangan usaha, total pinjaman yang dimanfaatkan kini mencapai Rp100 juta.
Baca Juga: Strategi ESG BRI Makin Kuat, Raih Pengakuan Global dan Dorong Ekonomi Inklusif
“Dulu awal mulai saya ambil kredit Rp 15 juta, sekarang sudah berkembang hingga Rp 100 juta,” katanya. Modal tersebut digunakan untuk memperbesar kapasitas usaha dan meningkatkan penjualan.
Usahanya kini semakin berkembang dengan jangkauan pelanggan yang lebih luas. Pembeli tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga dari kafe, hotel, dan restoran.
Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 3 kuintal daging ayam. Saat permintaan meningkat, seperti dari dapur MBG, penjualan dapat mencapai 5 kuintal per hari.
Dengan harga ayam sekitar Rp35 ribu per kilogram, omzet harian berkisar antara Rp 10,5 juta hingga Rp 17,5 juta. Jika diakumulasi, omzet bulanan mencapai Rp 315 juta hingga Rp 525 juta.
Kepala BRI Unit Pasar Pahing, Ayu Reza, menyampaikan bahwa sekitar 90 persen pedagang di Pasar Setonobetek telah menjadi nasabah BRI. Mereka juga memanfaatkan program KUR untuk tambahan modal usaha.
Baca Juga: Keluarga Pertanyakan Kinerja Polisi, Belum Tahan Terduga Pelaku Kasus Dugaan Pencabulan Balita
Ia menegaskan bahwa BRI tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga aktif mendampingi dan mengedukasi nasabah. Pendampingan tersebut termasuk penggunaan layanan digital seperti BRImo dan QRIS.
“Kami terus mendukung pelaku UMKM agar berkembang, termasuk melalui kemudahan transaksi digital,” ujarnya. Dukungan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing pelaku usaha.
Melalui model bisnis berbasis kemitraan, BRI turut mendorong terciptanya ekosistem inklusi keuangan yang berkelanjutan. Masyarakat tidak hanya menjadi pengguna layanan, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi digital.
Pada kesempatan terpisah, Branch Manager BRI BO Kediri, Adi Nugroho, menyampaikan bahwa BRI terus memperkuat perannya dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan. Hal ini dilakukan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada pelaku UMKM.
Hingga Maret 2026, BRI BO Kediri telah menyalurkan KUR sebesar Rp343 miliar. Penyaluran tersebut didominasi sektor produksi sebesar Rp223 miliar atau 65,06 persen dari total KUR.
Sektor produksi tersebut mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan industri jasa lainnya. Sektor-sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Kediri.
“Kisah Inspiratif Mbak Kelik ini menunjukkan dukungan BRI tidak hanya sebatas penyaluran dana, tetapi juga mencakup pemberdayaan dan pendampingan usaha dan edukasi finansial agar para debitur dapat mengelola usahanya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab” tegas Adi. Pernyataan ini menegaskan komitmen BRI dalam mendukung UMKM naik kelas. (*/dry)
Editor : Hendriyanto