Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dari Pekalongan ke Kantor Modern, Batik Office Wear Kain Indonesia by Shifara

Hendriyanto • Jumat, 16 Januari 2026 | 14:32 WIB

BERDEDIKASI TINGGI: Kain Indonesia by Shifara, UMKM binaan BRI berhasil mengangkat batik kembali diminati di pasar nasional dan internasional.
BERDEDIKASI TINGGI: Kain Indonesia by Shifara, UMKM binaan BRI berhasil mengangkat batik kembali diminati di pasar nasional dan internasional.

JAKARTA, RadarMadura.id — Batik kini kian mendapat tempat sebagai busana kerja modern. Perpaduan unsur tradisional dan profesional membuat batik tampil elegan sekaligus relevan digunakan di lingkungan kantor masa kini.

Selain menunjang penampilan, penggunaan batik di tempat kerja juga menjadi wujud apresiasi terhadap budaya lokal. Dengan sentuhan desain modern, batik tak lagi dipandang kaku, melainkan menjadi simbol identitas dan kebanggaan.

Semangat inilah yang mendorong Kain Indonesia by Shifara, UMKM binaan BRI, untuk terus memproduksi batik dalam bentuk office wear yang kekinian dan fungsional.

“Caranya adalah kami memproduksi baju-baju jadi atau ready to wear dengan konsep office wear. Tema besarnya from office to hangout dan target market utama kami adalah wanita,” ujar Sinta Paramitha, pemilik Kain Indonesia by Shifara.

Sinta yang berdomisili di Pekalongan mengaku jatuh cinta pada batik sejak lama. Lingkungan tempat tinggalnya yang kaya akan sentra batik turut membentuk kedekatannya dengan wastra Nusantara.

Pengalaman bepergian bersama orang tuanya ke berbagai daerah di Indonesia semakin membuka wawasan Sinta terhadap kekayaan kain tradisional Nusantara. Dari situlah tumbuh keinginan untuk ikut melestarikan wastra Indonesia.

Baca Juga: BRI Hadirkan Layanan DPLK Terintegrasi di BRImo, Solusi Pensiun Generasi Digital

Dorongan tersebut semakin kuat ketika Sinta melihat tren penurunan ekspor batik sejak 2012. Kondisi makin memprihatinkan saat pandemi, di mana jumlah pengrajin kain Indonesia berkurang hingga lebih dari 100 ribu orang.

Ancaman klaim budaya dari negara lain juga menjadi pemantik tekad Sinta untuk menghadirkan wastra Nusantara dalam bentuk yang lebih dekat dengan gaya hidup generasi masa kini.

Sebagai merek lokal, Kain Indonesia by Shifara berupaya menonjolkan keunikan dengan mengeksplor wastra dari Sabang hingga Merauke. Pemilihan material menjadi perhatian utama agar tetap nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Beragam kain Nusantara pun digunakan, mulai dari Endek Bali, Jumputan Palembang, Jumputan Jogja, hingga Batik Pekalongan. Seluruhnya diolah menjadi busana kerja yang fleksibel dan mudah dipadupadankan.

Sinta juga merancang busana yang dapat dikenakan perempuan dengan berbagai ukuran. Hal ini memudahkan kebutuhan seragam kantor tanpa mengesampingkan estetika dan kenyamanan.

Perkembangan signifikan Kain Indonesia by Shifara terjadi setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta, sebuah wadah kolaborasi dan pemberdayaan pelaku UMKM.

Melalui proses seleksi, Sinta mendapatkan pendampingan intensif dari BRI, mulai dari pelatihan digital marketing, strategi pemasaran, operasional, hingga pengelolaan keuangan.

Baca Juga: Didukung BRI, Danantara Serahkan 600 Huntara untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh Tamiang

“Kami bertemu dengan para coach yang setelah pendampingan tetap bisa kami ajak berdiskusi. Ini sangat membantu, tidak hanya menambah ilmu, tapi juga menjawab kebingungan dalam menjalankan bisnis,” ungkap Sinta.

Usai pendampingan, Kain Indonesia by Shifara juga berkesempatan mengikuti berbagai agenda BRI, mulai dari bazar UMKM hingga program BRI Inkubator yang mendorong pengembangan usaha berkelanjutan.

Tak hanya berdampak pada pengembangan bisnis, kehadiran Kain Indonesia by Shifara juga menggerakkan ekonomi perempuan. Seluruh rantai produksi, mulai dari penjahit hingga admin pengemasan, melibatkan perempuan dari berbagai latar belakang.

Sinta meyakini perempuan Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengenalkan batik ke tingkat global.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah kolaboratif bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas bisnis agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Baca Juga: Kisah Heddy Pamungkas, Pedagang Angkringan Semarang Sukses Kembangkan Usaha dengan KUR BRI

Program pembinaan UMKM ini merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hingga kini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan UMKM di berbagai daerah.

“Banyak pelaku usaha yang sebelumnya hanya menjual produk di pasar lokal, kini mampu memasarkan produknya secara daring bahkan menembus pasar ekspor. Pendampingan berkelanjutan dan akses ekosistem digital terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Dhanny. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
#UMKM Binaan BRI #wastra nusantara #batik #bri #pekalongan