DENPASAR, RadarMadura.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menghadirkan inisiatif nyata untuk mengatasi persoalan sampah di Indonesia. Melalui BRI Peduli, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), BRI kembali menunjukkan komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
Kali ini, BRI Peduli melalui program “Yok Kita Gas” menggelar Pelatihan Diversifikasi dan Penguatan Mutu Produk Pupuk Kompos.
Kegiatan ini berlangsung di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Pudak Mesari, Badung, . Mam mdi lokasi produksi pupuk kompos. Mereka mengamati proses pembuatan kompos yang lebih cepat dan efisien.
Produk kompos dari pelatihan ini diharapkan mampu mendukung keberlanjutan lingkungan. Manfaatnya antara lain memperbaiki struktur tanah, mengurangi erosi, dan meningkatkan kesuburan secara alami.
Baca Juga: Integrasi Data Dukcapil, BRI Percepat Layanan dan Kredit Mikro Rp 1 Triliun per Hari
Selain itu, penggunaan bahan organik lokal mampu menekan limbah dan polusi. Hal ini sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan.
Pemateri dari Petani Muda Keren, A.A. Gede Agung Wedhatama P., menyebut pelatihan ini penting untuk inovasi pupuk kompos. Menurutnya, diversifikasi produk akan meningkatkan nilai jual sekaligus memperkenalkan variasi baru ke masyarakat.
“Harapannya, kolaborasi kami dengan BRI dapat diimplementasikan peserta. Terutama terkait teknik, alat, dan bahan untuk membuat kompos yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini menjadi contoh nyata penerapan sistem pengolahan sampah yang melibatkan partisipasi masyarakat. Dampaknya positif, baik bagi lingkungan maupun ekonomi desa.
Baca Juga: BRI Buka Pendaftaran Program Pengusaha Muda BRILiaN 2025
BRI Peduli “Yok Kita Gas” terbukti memberi manfaat bagi masyarakat dari sisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Program ini sejalan dengan komitmen BRI mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Sejak 2021, program “Yok Kita Gas” telah dilaksanakan di 41 lokasi di Indonesia. Lokasi tersebut meliputi lima pasar tradisional dan 36 kawasan masyarakat. (*/dry)
Editor : Hendriyanto