RadarMadura.id - Dari kedai sederhana, Kopi Kelud di Jalan Kelud, Kelurahan Mlajah, Bangkalan, perlahan tumbuh menjadi tempat nongkrong yang sangat populer.
Baik untuk kalangan anak muda, orang tua, mahasiswa, akademisi, dan para pencinta seni.
Di balik popularitasnya, Kopi Kelud membawa misi yang lebih dari sekadar menyajikan minuman kopi.
Nasrul Anas, pengelola Kopi Kelud, mengungkapkan bahwa kedainya memang sejak awal tidak menargetkan pasar secara spesifik.
Tapi, niat kami itu mau bikin suatu ruang, kami menyebutnya ruang alternatif, karena ngopi tidak hanya untuk konsumsi dan bisnis, tegasnya.
Menurutnya, kedai ini diharapkan menjadi tempat yang bisa dimanfaatkan untuk mengolah pikir, berdiskusi, dan saling bertukar ide.
Oleh sebab itu, konsep yang dipilih adalah bangunan semi outdoor. Sehingga, sirkulasi udara bagus atau sehat.
Ada konsep namanya ruangan sehat, jadi setiap ruangan harus bernapas.
Tagline kami itu, alternative space atau ruang alternatif.
Di samping untuk kebutuhan komersial, juga untuk mengisi diskursus masa kini, sebutnya.
Penggunaan bahan bangunan dari kayu menjadi salah satu ciri khas.
Alasannya cukup sederhana, agar lebih estetik dan lebih adem.
Karena yang punya ini kebetulan arsitek, jadi lebih konsen terhadap material-material alam. Dan, sebagian besar juga dari kayu bekas, terangnya.
Alumnus UIN Sunan Kalijaga itu menyebut, Kopi Kelud berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggannya.
Salah satunya berkenaan dengan produk atau menu yang sesuai ala tongkrongan, namun masih bisa dijangkau oleh masyarakat Bangkalan.
”Kami itu percaya, cara membentuk pasar itu harus mengedukasi calon pembeli atau pelanggan.
Jadi, kami menyajikan kopi itu ya seperti ini, bukan idealis. Tapi, kopi tidak pakai gula itu lebih sehat, tegasnya.
Kafe ini vibes-nya menenangkan. Terus juga baristanya ramah-ramah.
Kafe ini dipilih karena menunya bervariasi, enak, dan ramah di kantong.
Indah Fitriani, salah satu pengunjung menilai, vibes yang dihadirkan Kedai Kopi Kelud sangat menenangkan dan nyaman.
Tidak hanya cocok untuk nongkrong, tapi juga jadi tempat belajar dan mengerjakan tugas.
Karena suasananya tidak bising dan menu yang tersaji cukup beragam dan enak, terpenting terjangkau.
”Sebagai mahasiswa WFC (work from cafe, Red), saya merasa tempat ini sangat pas untuk mendukung aktivitas kuliah saya.
Untuk diskusi juga enak, tegas Mahasiswa Unesa Surabaya itu. ***
Editor : Amin Basiri