Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Warga Jungcangcang, Pamekasan, Kembangkan Usaha Furnitur Kayu Jati Belanda, Antat: Makin Sulit, Makin Unik, Makin Mahal

Hera Marylia Damayanti • Senin, 2 September 2024 | 21:40 WIB
KREATIF: Antat antusias menunjukkan hasil kerajinannya yang berbahan kayu jati belanda di Garasi Jati Belanda, Jalan Segara, Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan, Sabtu (24/8). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)
KREATIF: Antat antusias menunjukkan hasil kerajinannya yang berbahan kayu jati belanda di Garasi Jati Belanda, Jalan Segara, Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan, Sabtu (24/8). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tidak semua orang mampu berpikir kreatif dan melihat peluang bisnis dengan baik.

Namun, Moh. Antat mampu memanfaatkan peluang bisnis furnitur beromzet puluhan juta dari kerajinan jati kayu belanda.

Moh. Antat memulai perjalanan bisnisnya dengan harapan besar. Berawal dari modal terbatas, dia memberanikan diri merintis usaha furnitur kayu belanda di kampung halamannya, yaitu Pamekasan.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menemui Antat di Jalan Segara, Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan, Sabtu (24/8).

Tidak sulit untuk mencari furnitur Garasi Jati Belanda milik pria kelahiran 1994 itu.

Keberadaan Garasi Jati Belanda rintisan Antat sangat mencolok. Sebab, dari deretan ruko di Jalan Segara, hanya rukonya yang menjual beraneka ragam furnitur berbahan kayu belanda.

Mulai dari jam dinding, tempat piring, frame atau bingkai lukisan, hingga bermacam hiasan dinding.

”Usaha ini sudah berjalan tiga tahun. Kali pertama merintis di 2023,” cerita Antat.

Lelaki 30 tahun itu memilih jati belanda sebagai usaha furnitur berawal dari rasa kesenangan terhadap tekstur kayu tersebut.

Sebab, serat-serat kayu jati belanda memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri.

”Sementara di Pamekasan belum ada yang menekuni atau membuka bisnis berkaitan dengan kayu jati belanda ini. Mungkin ini masih satu-satunya di Pamekasan,” sebutnya.

Situasi dan kondisi itulah yang kemudian dilihat Antat sebagi peluang usaha menjanjikan.

Berbekal keterampilan yang serba otodidak, dia terus konsisten menggarap rintisan furnitur Garasi Jati Belandanya.

”Untuk ide-idenya saya sendiri. Kalau proses pembuatannya melibatkan tiga tukang,” katanya.

Di sisi lain, yang memotivasi Antat menekuni bisnis ini adalah banyaknya orang Madura, khususnya dari Pamekasan, yang bekerja kerajinan furnitur jati belanda di luar pulau.

Dengan membuka usaha ini, dia berkeinginan dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka.

”Saya ingin mereka bekerja di kota sendiri. Kalau bisa bekerja di sini, kenapa harus harus merantau?” tuturnya.

Suami Ummi Radiah itu mengaku, selama tiga tahun mengembangkan bisnisnya, ia tidak hanya fokus pada satu bidang.

Pria berbadan gempal itu juga terlibat dalam berbagai proyek. Seperti menggarap interior kafe, rumah makan, dan membantu pekerjaan desain rumah.

”Usaha ini saya rintis memang untuk jangka panjang. Sebab, bisnis jasa ini tidak ada matinya, selalu dibutuhkan orang,” tuturnya.

Keberanian Antat untuk berinovasi dan memperkenalkan produk furnitur jati belandanya di Bumi Ronggosukowati membuahkan hasil.

Berkat kerja keras, pemasaran yang efektif, mengedepankan kualitas, dan fokus pada desain-desain yang unik, mampu menarik pelanggan.

”Pemasaran lewat cara offline dan online. Kalau online memanfaatkan media sosial. Selain murah, jangkauannya juga lebih luas,” katanya.

Produk-produk furnitur yang dihasilkan bapak satu orang anak itu memang dikenal karena kualitasnya.

Hal inilah yang menjadikan Garasi Jati Belanda makin hari kian berkembang dan pelanggannya berdatangan dari luar Kota Gerbang Salam.

Harga furnitur jati belanda yang dijual Antat sangat bervariasi. Harga produk yang ditawarkan mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Harga yang dipatok bergantung pada kerumitan dan ukuran setiap item.

”Semakin unik, makin sulit pekerjaannya, dan makin besar ukurannya, tentu makin mahal,” tuturnya sembari tersenyum.

Pria berkacamata itu mengaku omzet per bulan bisnisnya ini cenderung fluktuatif. Karena faktor utama yang memengaruhi adalah permintaan pasar.

Namun, dia terus fokus untuk menyesuaikan strategi pemasaran agar tetap kompetitif.

”Omzet tertinggi yang pernah dicapai dalam satu bulan sekitar Rp 30 juta,” sebut ayah Ibrahim Syehan itu.

Dengan pendekatan dan strategi pemasaran yang adaptif inilah, dirinya berharap bisa terus mengembangkan usahanya dan mencapai hasil yang lebih baik di masa depan.

”Yang namanya keinginan untuk terus mengembangkan usaha ini lebih luas, pasti ada,” pungkasnya. (c3/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#pemasaran #kreatif #kerajinan #kayu jati #furnitur #produk #Jati Belanda #bisnis #usaha #medsos