BANGKALAN, RadarMadura.id – Seiring dengan munculnya berbagai macam produk yang serbamodern, bisnis gerabah semakin lesu.
Setidaknya hanya tinggal satu dua orang yang masih bertahan. Salah seorang di antaranya Busadi.
Busadi memulai bisnis jualan gerabah sejak hijrah ke Bangkalan pada 2019.
Mulanya, perempuan 58 tahun itu hanya sebagai petani biasa di kampung halamannya, Klaten, Jawa Tengah.
”Saya asli Klaten, suami yang asli Bangkalan,” katanya Minggu (30/6).
Saat Jawa Pos Radar Madura berkunjung ke tempat usahanya di Jalan Mayjen Sungkono, Kelurahan Kraton, Bangkalan, terlihat sepi.
Dia hanya seorang diri membersihkan dan menata barang.
”Pembeli tidak menentu. Kadang ada, kadang tidak ada. Jadi penghasilan tiap hari dan bulannya tidak bisa dihitung,” ujar Busadi sesekali merapikan rambutnya.
Busadi memulai usaha ini karena saudara-saudaranya di Klaten dan Jogjakarta adalah perajin gerabah.
Dia melihat kerajinan tanah liat itu memiliki potensi bisnis yang bisa digarap di usia senja. Selain itu, untuk tambahan sumber ekonomi keluarga.
”Semua gerabah ini saya ambil dari daerah Klaten dan Jogja. Rata-rata perajinnya saudara-saudara saya sendiri,” katanya.
Baca Juga: Keangkeran Alas Gumitir: Misteri di Balik Keindahan Alam Banyuwangi
Kerajinan gerabah yang dijual istri Salaman itu berupa peralatan masak, celengan warna-warni, mainan anak-anak, dan sejumlah kerajinan lain.
Semua terbuat dari tanah liat. Harga gerabah yang dijual Busadi bervariasi, dari harga puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.
Sekalipun hasil penjualannya tidak menentu, Busadi tetap sabar menekuni usahanya.
”Yang banyak laku hanya kendi buat tempat ari-ari bayi yang baru lahir. Selain itu jarang sekali,” ungkapnya. (c3/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti