BANGKALAN, RadarMadura.id – Bisnis barang antik akan memberi banyak manfaat bagi keluarga bila dijalani dengan penuh kesabaran.
Seperti Agus yang bertahan hingga bisa membeli rumah, lahan, dan menyekolahkan anak-anaknya.
Dulu di rumah orang tuanya banyak barang-barang kuno. Imam Gozali ikut merawat sehingga dia tertarik untuk mengumpulkan dan merawat barang kuno.
Sampai saat ini barang yang dimiliki oleh orang tuanya masih disimpan. Seperti gelang perak yang mempunyai bobot tiga kilogram, tempat jamu, peti, dan tiga pusaka.
Suasana di dalam rumah sangat sepi. Hanya seorang pekerja bangunan yang sedang membangun rumah.
Walaupun terlihat sedikit berantakan, namun suasana di sana sangat adem. Banyak pepohonan serta tanaman yang tumbuh di sekitar rumah.
Dari tempat itulah Agus mengembangkan hobi sekaligus usahanya. Pria yang disapa Agus itu mencukupi kebutuhan keluarganya selama bertahun-tahun dari hasil penjualan barang-barang kuno.
Sebelumnya, Agus sempat merantau ke Bali bersama istrinya. Di Pulau Dewata itu dia menjual barang-barang kuno.
Setelah tragedi Bom Bali, lambat laun usahanya mulai menurun. Pada 2003 memutuskan untuk kembali ke Madura.
”Mau tidak mau saya kembali ke sini,” ujar pria 59 tahun itu kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Sabtu (22/6).
Dua tahun kemudian, 2005, Agus memulai usaha dari nol dengan keterbatasan uang.
Setiap hari hanya bisa mengumpulkan satu barang kuno dan dijual lagi. Begitu seterusnya.
Pekerjaan yang dimiliki hanya mengandalkan penjualan barang-barang kuno.
Barang antik koleksi suami Raria Marbeti, 56, itu rata-rata khas Madura. Namun, tidak sedikit juga barang dari luar daerah.
Bahkan, perburuannya memperoleh barang hingga Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Setiap waktu pekerjaan Agus hanya begitu saja tanpa ada pekerjaan sampingan.
Berkat kecintaan terhadap barang-barang kuno dan kesabaran, usahanya mulai memberi hasil.
Setelah satu tahun di Bangkalan, pada 2006 dia mulai ada pemasukan. Bahkan, dia membeli rumah kuno untuk diambil barang-barang yang mempunyai harga nilai tinggi.
”Rumah yang dimaksud itu rumah kuno yang di dalamnya banyak barang yang berguna buat saya,” kenang bapak anak tiga itu.
Rumah kuno yang dibeli biasanya berharga Rp 15 juta hingga Rp 25 juta. Setelah dibeli, dia mencari barang yang bernilai. Barang-barang itu diseleksi dan dijual kembali.
Terkadang barang yang ditemukan di dalam rumah mempunyai harga nilai yang sangat tinggi dibandingkan dengan harga rumah yang dibeli.
Sebab, barang kuno itu mempunyai nilai yang tidak terduga di mata seseorang.
Salah satu rumah yang dibeli merupakan peninggalan Cakraningrat IV di Kelurahan Saksak, Kecamatan Kota Bangkalan.
Kemudian dijual oleh pemiliknya, Hansawengi, yang berasal dari Tiongkok. Luas rumah itu 35 meter x 45 meter.
Baca Juga: 4 Wisata Terbaru di Prigen Pasuruan: Surga Tersembunyi dengan Panorama Alam Menakjubkan
Di dalamnya ditemukan barang-barang kuno seperti peti, pusaka, topeng, koin, dan perhiasan.
Agus mengungkapkan, barang yang dia jual memiliki harga berbeda. Bergantung dari nilai antiknya.
Walaupun kecil, kalau barangnya bagus, pasti akan mempunyai harga yang tinggi.
Harga barang kuno itu tidak diukur dari besar kecil, tetapi dari keunikan dan memiliki nilai sejarah yang bagus.
Jumlah barang yang sudah dijual hingga saat ini tidak terhitung. Sebab, Agus mempunyai banyak barang-barang kuno.
Bahkan, lebih dari seribu barang. Membutuhkan waktu dan tempat untuk menyusun barang itu di rumah.
Harga paling tinggi yang pernah dijual berupa kain batik patengteng seharga Rp 25 juta.
Batik itu khas Desa Patengteng, Kecamatan Modung, Bangkalan, yang diproduksi sebelum kemerdekaan Indonesia 1945.
Batik tersebut hanya satu produksi saja. Nilai plus batik itu bisa dilihat dengan tiga dimensi.
Bila dilihat beda-beda arah, akan menghasilkan pandangan atau motif berbeda.
Selain itu, ada lukisan seharga Rp 60 juta. Lukisan Le Mayeur asal Belanda ini diproduksi 1740.
Lukisan ini masih utuh hingga saat ini. Padahal lukisan tersebut bahan dasar dari kertas.
Lukisan tersebut mempunyai harga jual sangat tinggi karena penciptanya sudah tidak ada. Sehingga, hanya ada satu lukisan Le Mayeur.
Baca Juga: PKL Area Makam Syaikhona Muhammad Kholil Buka 24 Jam
Pembeli barang antik Agus berasal dari berbagai daerah hingga luar negeri. Seperti Amerika, Inggris, dan Dubai.
”Barang yang saya dapatkan terkadang dikasih orang yang tidak tahu harga nilainya. Padahal semua itu kalau dijual sendiri akan mempunyai harga yang tinggi,” jelas ayah Muhammad Diponegoro, 26; Muhammad Adinda, 25; dan Raden Segoro, 16, itu.
Di rumah yang ditempati saat ini banyak barang-barang kuno zaman dahulu. Barang-barang itu dia kumpulkan dan dijadikan koleksi.
Seperti lampu, angklung, tempat tidur, vas bunga, gambang, gilingan kacang, kalung sapi, dan bendera perang yang terbuat dari kayu.
Agus mencukupi kebutuhan keluarga dari menjual barang kuno itu. Berkat penjualan tersebut, dia mampu membeli rumah, tanah, dan anaknya sekolah hingga tingkat universitas. (c4/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti