PAMEKASAN, RadarMadura.id – Membuka usaha bisa mengandalkan keterampilan dan bakat.
Seperti Sitti Jamilatul Khoiriyah, warga Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan. Berkisar lima tahun dia menekuni usaha ecoprint.
Alumnus UIM Pamekasan ini tertarik setelah mengikuti pelatihan Pemkab Pamekasan pada 2019.
Teknik cetak menggunakan bahan alami dan ramah lingkungan ini yang membuat Syamila tertarik untuk menekuni dunia itu.
”Bahkan, untuk mendalami ilmu ini, saya dan teman-teman lain harus mencari ilmu sendiri ke Bali, Magetan, dan sebagainya. Karena percobaan pertama itu tidak seperti yang kami inginkan, jadi mencari perbandingan-perbandingan dan ilmu lain untuk hal itu,” katanya.
Dia kemudian tahu bahwa dalam ecoprint ada teknik khusus untuk menghasilkan perpaduan warna dan motif tanaman agar menjadi bagus.
Perajin harus mengetahui warna yang dihasilkan daun, bunga atau batang pohon agar hasil dari ecoprint tersebut sesuai keinginan.
Menurut Syamila, meskipun satu pohon, tapi warna yang dihasilkan daun tidak akan sama. Bisa muncul dengan warna kuning, hijau terang, bahkan ada yang soft.
”Juga harus menyusun tema, maunya seperti apa di kain itu. Tidak sekadar tempel daun atau bunganya,” kata ibu anak dua itu.
Dari ecoprint itu menghasilkan beberapa produk. Ada baju, hijab, tas, topi, odheng, konektor masker, dan sebagainya.
Harganya relatif ramah di kantong. Topi, tas, dan sebagainya dipatok Rp 75 ribu. Sedangkan baju, bergantung bahan.
Ada yang Rp 150 ribu sampai Rp 3 juta untuk yang berbahan kain sutra. ”Semuanya saya jahit sendiri,” katanya.
Penghasilan yang diperoleh Rp 3 juta sampai Rp 5 juta untuk penjualan aksesori seperti tas, topi, dan sebagainya.
Apabila ditotal dengan beberapa kemeja bisa mencapai Rp 6 juta, meskipun hal itu tidak dia dapatkan tiap bulan.
”Hal itu sudah biasa, namanya juga pedagang, ada pasang surutnya. Saat acara-acara besar pernah sampai Rp 20 juta,” terangnya.
Karya ecoprint banyak diminati pelanggan dari luar daerah. Ada yang dari Medan, Lampung, Balikpapan hingga negara tetangga seperti Singapura.
”Bahkan, pembeli dari Pamekasan ini sangat-sangat jarang, hanya beberapa,” ucap Syamila.
Syamila sempat menjadi guru salah satu sekolah di Bangkes. Sebelum terjun di dunia ecoprint ini, dia juga suka menulis di Jawa Pos Radar Madura.
”Ada cerpen, opini juga ada. Intinya kalau sudah dimuat di koran itu senangnya luar biasa,” ungkap Syamila.
Saat ini dia fokus pada usaha dan keluarga. Menurutnya, menekuni usaha ecoprint ini juga masih bisa mengurus keluarga.
”Jadi, menjadi sosok istri dan ibu tetap jalan, pengusaha rumahan juga jalan. Alhamdulillah hasilnya memuaskan, yang penting bersyukur dan mau produktif,” ujarnya. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti