BANGKALAN, RadarMadura.id – Menjual seruling hingga ke mancanegara tidak pernah terbayangkan dalam hidup Robi Akbar.
Apalagi, sampai laku dengan harga puluhan juta rupiah. Pasalnya, pemilik Juang Flutes itu mengaku belajar secara otodidak tanpa berguru pada siapa pun.
Bahkan, dia mengakui tidak memiliki dasar ilmu musik sama sekali. Hal itu yang membuat dirinya heran karena seruling pertamanya bernada bagus.
Seruling buatannya mampu bersaing di pasar internasional. Produknya telah tersebar di semua benua di dunia, mulai dari Asia, Australia, Amerika, Eropa hingga Afrika.
Juang Flutes juga memiliki reseller di berbagai kota besar di dunia. ”Seperti di California, Atlanta, New York, Paris, dan Berlin. Pembelinya rata-rata komunitas healing dan para kolektor,” katanya Jumat (5/4).
Obi mengatakan, harga seruling Juang Flutes bervariasi. Mulai Rp 3 juta sampai Rp 7 juta. Harga tersebut bergantung bahan dan tingkat kesulitan pembuatan setiap produk.
Bahan yang dia digunakan dari berbagai jenis dahan kayu. Ada pula yang terbuat dari tanduk kerbau.
”Saya buat dari dahan kayu yang tak terpakai, yang biasanya banyak berserakan di pinggir jalan, itu kami manfaatkan hingga menjadi karya yang bernilai,” jelasnya.
Juang Flutes dirintis pada 2018 saat Robi Akbar masih menetap di tanah kelahirannya, Lampung.
Nama Juang Flutes terinspirasi dari nama anaknya yang bernama Perjuangan Akbar, yang menggambarkan sebuah kegigihan hidup untuk bertahan dalam keadaan yang sangat sulit.
Seniman kerap kali dipandang sebelah mata, apalagi dalam hal ekonomi, seniman selalu ditempatkan di strata paling bawah. Hal itulah yang dialami Robi Akbar, seniman asal Bangkalan.
Pria yang tinggal di Perum Soka Park, Bilaporah, Kecamatan Socah, ini memulai karier keseniannya dengan berurai air mata.
Bahkan, sampai pernah jadi pengamen di platform media sosial seperti Facebook.
”Saya awalnya pemain teater, beralih ke perajin seruling waktu itu karena kebutuhan pentas akan instrumen seruling. Di situlah awal mula saya membuat seruling, ternyata menarik juga,” cerita pria kelahiran Lampung itu.
Karena itu, minatnya pada kesenian, terutama pada kerajinan seruling, makin tumbuh.
Obi ingat betul, saat hasil karyanya hanya terjual dengan harga Rp 10.000. Sedangkan saat itu dia harus menghidupi keluarga dan anaknya yang masih kecil.
”Yang menyakitkan itu, dulu saat masih di Lampung, ada seniman Bangkalan yang mau beli seruling satu lusin. Namun, setelah selesai dibuatkan, orangnya tidak ada kabar, saya tidak tahu itu seniman beneran apa bukan,” kenangnya.
Apalagi di masa Covid-19, di momen inilah suami Elok Teja Suminar itu merasa berada di titik terendah kehidupannya.
Di masa itu juga, untuk menyambung hidup, dia kemudian mengamen di platform Facebook.
Beruntung, teman-teman sesama seniman masih banyak yang peduli terhadapnya.
”Waktu itu banyak teman-teman seniman yang membantu, mereka tanya apa yang saya butuhkan, waktu itu saya hanya ingin seruling saya dibeli, akhirnya mereka beli,” katanya mengenang perjalanannya.
Setelah pindah ke Bangkalan, berbagai kesulitan itu seakan tetap tak mau beranjak dari kehidupannya.
Selain tidak ada bambu yang cocok untuk bahan seruling, Obi mengaku mendapat perundungan dari sesama seniman seruling di grup-grup Facebook tempat ia menjajakan buah karyanya.
”Saya tidak suka bullying, akhirnya saya mengambil jarak dari orang-orang seperti itu, tentunya agar bisa berpikir dengan perspektif yang berbeda, juga demi menghasilkan karya yang berbeda pula,” tuturnya.
Kemudian, dia mencari inspirasi dan referensi seruling dari mancanegara, karena baginya jika berkutat di seruling lokal, akan kalah dengan orang-orang yang lebih dulu berkarya darinya.
”Awalnya bikin Native American Flutes dari bambu dan responsnya lumayan banyak, yang beli waktu itu orang Inggris, dengan harga 200 dolar,” katanya.
Obi mengenang, suatu ketika ia bersantai di teras kontrakannya, kemudian ada tetangganya yang sedang menebang pohon, lalu ia meminta dahannya.
Di momen itulah dia berpikir bahwa membuat seruling berbahan dahan itu lebih menjanjikan daripada dari bambu.
”Dahan ini bisa juga dijadikan seruling, dan lebih menjanjikan daripada bambu, bahannya pun melimpah di Bangkalan,” jelasnya.
Berkat seruling, Obi kini bisa membeli rumah dan keluarganya bisa hidup dengan sangat layak.
Menurutnya, konsistensi dan kesabaran merupakan kunci seorang seniman dalam berkarya.
”Seniman tidak boleh hanya jago kandang, dia harus menunjukkan buah karyanya ke tingkat nasional, bahkan internasional,” tegasnya.
Robi Akbar adalah orang pertama di Indonesia yang membuat seruling berbahan dahan. Meski begitu, lelaki berambut gondrong itu sangat terbuka pada siapa pun yang ingin menimba ilmu darinya. Bahkan, kini ia memberdayakan pemuda dari berbagai daerah di Madura sebagai perajin.
”Banyak kok anak-anak yang belajar di sini, kadang kegiatan workshop-nya juga ditaruh di sini. Saya sangat terbuka. Rezeki itu tidak akan tertukar. Setiap kita sudah ada porsinya masing-masing,” terangnya. (c1/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti