Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kontroversi TikTok Shop: Ditutupnya Layanan Belanja Memicu Dampak Kontroversial di Pasar Online Indonesia

Abdul Basri • Jumat, 6 Oktober 2023 | 02:45 WIB
Warga menonton siaran langsung pedagang yang menawarkan produk melalui media sosial Tiktok di Jakarta, Selasa (26/9/2023). (ANTARA foto)
Warga menonton siaran langsung pedagang yang menawarkan produk melalui media sosial Tiktok di Jakarta, Selasa (26/9/2023). (ANTARA foto)

 

JAKARTA, RadarMadura.id - Rabu (4/10) menjadi hari penutupan TikTok Shop, layanan e-commerce dari aplikasi media sosial populer TikTok Indonesia.

Keputusan ini merupakan respons dari aturan baru yang membatasi media sosial dalam melayani transaksi jual beli online.

Sebelum ditutup, TikTok Shop mengalami peningkatan penggunaan yang signifikan oleh masyarakat.

TikTok Indonesia memulai layanan e-commerce, TikTok Shop, kurang dari tiga tahun yang lalu.

Namun, nilai transaksi melalui platform ini tumbuh pesat hingga mencapai hampir 2,6 miliar dolar AS tahun lalu, menurut laporan lembaga riset Momentum Works.

Meski popularitasnya meroket, hal ini menimbulkan keprihatinan di kalangan pedagang konvensional yang khawatirkan penurunan penjualan.

Pemerintah mengeluarkan aturan baru yang mengharuskan pemisahan bisnis media sosial dengan layanan marketplace. TikTok adalah salah satu platform yang terkena dampaknya.

Aturan ini resmi berlaku pada 26 September 2023, memberikan waktu seminggu kepada platform-platform tersebut untuk mematuhi ketentuan.

Sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan, TikTok menutup layanan transaksi e-commerce pada Rabu pukul 17.00 WIB.

"Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia terkait langkah dan rencana kami ke depan," kata pernyataan resmi TikTok yang dirilis pada Selasa (3/10).

Namun, penutupan ini menuai beragam reaksi. Pedagang pakaian hingga makanan yang berjualan di TikTok Shop merasa kecewa, khawatir hal ini akan mengganggu usaha kecil mereka.

Di sisi lain, pedagang di Pasar Tanah Abang menyambut positif keputusan ini. Mereka menilai aplikasi belanja online seperti TikTok Shop adalah salah satu penyebab sepi pembeli di pasar fisik.

Meski TikTok Shop ditutup, nasib banyak orang tergantung pada kebijakan selanjutnya.

Banyak host siaran langsung dan afiliator yang bekerja di platform ini kini menghadapi risiko kehilangan pekerjaan.

Mereka menanti keputusan resmi TikTok Indonesia mengenai rencana bisnis e-commerce ke depannya.

Peneliti ekonomi digital dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda, memprediksi bahwa penutupan TikTok Shop tidak secara langsung akan meningkatkan penjualan pedagang konvensional, termasuk di Pasar Tanah Abang.

Sebagian besar pembeli diperkirakan akan beralih ke platform e-commerce lain. Meskipun e-commerce adalah faktor penting, lesunya penjualan di Tanah Abang juga dipicu oleh faktor-faktor lainnya.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Teten Masduki, memastikan penutupan TikTok Shop tidak akan mengganggu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di TikTok.

Layanan media sosial masih aktif dan dapat digunakan sebagai sarana promosi, sementara transaksi dapat dialihkan ke platform lain.

Kontroversi TikTok Shop melukiskan dinamika kompleks dalam ekosistem perdagangan online Indonesia. ***

Editor : Abdul Basri
#tiktok indonesia #umkm #tiktok shop #Commerce #belanja online #media sosial populer