Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kecamatan Gapura, Sentra Kerupuk Poli di Kabupaten Sumenep

Abdul Basri • Selasa, 2 Mei 2023 | 03:20 WIB
BERJEJER: Zainudin, warga Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura, sedang mengecek kerupuk poli yang dijemur di belakang rumahnya, Kamis (20/4). (MOH. IQBAL/JPRM)
BERJEJER: Zainudin, warga Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura, sedang mengecek kerupuk poli yang dijemur di belakang rumahnya, Kamis (20/4). (MOH. IQBAL/JPRM)
SUMENEP – Setiap daerah memiliki potensi usaha yang bisa dikembangkan. Namun, itu semua juga bergantung kreativitas warganya. Seperti di Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura, yang mayoritas warganya memproduksi kerupuk poli.

Meski hanya menggeluti usaha pembuatan kerupuk, tapi dalam sehari mampu menghasilkan uang yang cukup besar. Bahkan, pemasaran kerupuknya itu tidak hanya berkutat di Sumenep, melainkan tembus hingga Jakarta.

Pengusaha kerupuk poli asal Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura, Zainudin, mengatakan, semula tidak tertarik dengan usaha pembuatan kerupuk poli. Karena itu, setelah menikah, dia memilih bekerja ke luar kota untuk mencukupi ekonomi keluarganya.

Namun, jauh dengan keluarga ternyata membuatnya tidak nyaman bekerja. Karena itu, dia memutuskan kembali ke rumahnya dan bekerja membuat kerupuk poli ke tetangganya. ”Pertama bekerja ke tetangga. Di sini memang banyak yang berjualan kerupuk poli,” katanya.

Sekitar tahun 1990, dia memutuskan untuk membuka usaha pembuatan kerupuk poli sendiri bersama istrinya. Keputusan itu diambil karena semata-mata ingin mandiri dan tidak terikat dengan orang. Tahun pertama, dia belum menikmati kerja kerasnya tersebut.

Sebab, selama memproduksi kerupuk poli, dia belum mendapatkan hasil. Namun, dia tetap istiqamah dengan pilihannya. Sebab, dia sadar bahwa salah satu risiko menjadi pengusaha adalah harus siap merugi. ”Sedih kalau ingat perjuangan saya pada awal-awal tahun merintis usaha pembuatan kerupuk,” ucap Zainudin.

Suami dari Halimatus Sa’diyah itu menyatakan, seiring berjalannya waktu, usahanya mulai menggeliat. Indikasinya, dia mulai menikmati hasil dari penjualan kerupuk polinya. ”Tapi, di sini juga banyak rekan-rekan saya yang gulung tikar. Alhamdulillah, usaha saya masih bisa bertahan sampai sekarang,” ulas Zainudin.

Zainudin mengutarakan, selama kurang lebih 30 tahun memproduksi kerupuk poli, wilayah pemasarannya pun kian meluas ke berbagai daerah. Namun, permintaan paling banyak dari Sumenep. Saya juga pernah melayani pembeli dari Jakarta. ”Pelanggan juga banyak yang mengambil kerupuk ke rumah langsung,” ulasnya.

Meski proses pembuatannya cukup mudah, usaha kerupuk poli baginya cukup prospektif. Tinggal memasak adonan tepung dan bumbu selama senam jam di tungku api besar. Setelah itu, tinggal dipotong dan dijemur. Selanjutnya dikemas dan dipasarkan.

”Tahapan produksi yang paling sulit ada di proses pengeringan. Sebab, benar-benar bergantung pada cuaca. Kalau cuaca mendukung, proses produksi bisa dilakukan dalam sehari dan bisa langsung dipasarkan,” ulas pria berusia 53 tahun itu.

Dijelaskan, sebenarnya terdapat cara yang lebih mudah untuk mempercepat proses pengeringan. Yakni, dengan cara dipanggang memanfaatkan asap. Namun, hasilnya tidak bagus karena menyisakan bau tidak sedap. Karena itu, dia tidak menggunakan cara tersebut.

”Saya pernah coba satu kali, tapi pelanggan banyak yang mengeluh karena bau asap. Makanya saya hentikan. Kepercayaan dan kepuasan pelanggan adalah prioritas saya,” papar Zainudin. (iqb/yan) Editor : Abdul Basri
#kerupuk #Kecamatan Gapura #gapura #Desa Gapura Barat #kerupuk poli