Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kamar Mandi

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 9 Maret 2025 | 12:35 WIB
Ilustrasi cerpen
Ilustrasi cerpen

Cerpen DARA ARIANA*

 

BIM, Terkasih!

Dari dulu, barangkali kau tak pernah tahu betapa aku begitu mencintai kamar mandi, sama besarnya seperti cintaku padamu yang kini telah menggerogoti separuh jiwaku! Mungkin kau selalu memaklumi setiap kali aku masuk kamar mandi dan berlama-lama di dalamnya, seakan kamar mandi tak punya pintu keluar setelah menelan seorang perempuan masuk. Maklumlah perempuan, dia yang lebih ribet masalah badan; masih harus bergelut dengan lulur, sabun cair, sabun batang, sampo, conditioner, sikat gigi, listerin, masker wajah lalu facial foam. Mampus!

Tapi sungguh, itu alasan yang terlalu feminin jika kau tanya kenapa aku selalu lama di kamar mandi. Aku tidak seribet itu dong, karena kalau boleh jujur, aku keberatan menjadi perempuan, perempuan itu sulit dan sakit! Sebuah puisi yang ditulis oleh seseorang mengatakan bahwa perempuan bukan dicipta dari tulang rusuk laki-laki, melainkan dari air mata yang entah air mata siapa. Kata Oka Rusmini, berbagai mitologi juga kerap menganggap perempuan sebagai makhluk sial dan sialan, Gandari, Drupadi, bahkan di kampung kita, perempuan masihlah makhluk belakangan, lalu apa enaknya jadi perempuan?

Ah, iya, Bim! Jika kau bertanya kenapa aku mencintai kamar mandi, alasanku simpel, karena tercipta dunia di dalamnya!

Baca Juga: Paku Seorang Guru

***

Saat masih denganmu, aku selalu jatuh cinta setiap saat, mencintai apa pun yang kau cintai, bahkan tempat-tempat yang kerap kali kita kunjungi, atau kau saja yang mengunjunginya namun mengerat lanskap di sana lalu meletakkan pada separuh bagian dari kepalaku. ”Agar tidurmu nyenyak meski tanpa lagu nina bobo, atau dongeng Cinderella,” katamu.

Tapi dari sekian tempat itu, kau tak pernah mencintai laut, hal yang begitu sangsi bagiku sebab yang mengalir dalam tubuhku bukan darah, melainkan air laut itu sendiri! Lalu bagaimana kau akan mencintaiku jika dalam tubuhku mengalir sesuatu yang tidak kau sukai?

Saat itu pulalah, aku diam-diam mencintai kamar mandi. Percaya atau tidak, dalam kamar mandiku dunia membentang begitu luas, bukan kamar mandi dalam dunia, melainkan dunia dalam kamar mandi. Betapa aku selalu berdecak kagum saat tiap kali memasuki kamar mandi, ruangan yang seharusnya hanya terdiri dari bak mandi, WC, dan keran itu mendadak menjadi penorama sore hari. Bak mandi dengan air melimpah ruah tiba-tiba menjadi lautan yang luas dan dalam, lengkap dengan pantai, ombak yang terlihat anggun, pasir putih, pohon nyiur yang condong tapi tak tumbang, cericit camar dengan kisah yang mereka tulis ulang di gigir pelabuhan, matahari kemerahan yang tinggal separuh, dan siluet kapal layar.

Aku melihat diriku yang lain duduk menikmati es degan di bibir pantai sambil menyaksikan matahari yang entah kapan akan tenggelam, kau dari kejauhan berdiri di dek kapal layar, hanya kau, sendirian. Sejenak aku berpikir bagaimana mungkin kau berdiri di dek sementara kapalnya terus merapat ke sisi pelabuhan, siapakah yang mengemudi di dalam? Benarkah perasaan sudah mampu menyihir segalanya, menyihir kapal layar itu bergerak, menyihir hatimu yang dulu tidak menyukai laut!

Aku terkesima beberapa saat melihat kita di tepi pantai, dalam kamar mandi itu, angin menyatukan tubuh kita berdua.

Aku hadiahkan sepotong senja ini padamu, An. Meski tidak sama dengan bagaimana Sukab memotongnya untuk Alina,” katamu

Aku tidak terlalu menyukai senja, Bim. Kita bisa menyaksikanyya di mana-mana, aku hanya terperangah melihatmu mengemudi kapal, dan menginjakkan kaki di laut.

Baca Juga: Mokka’ Pangkalan Anyar

Itulah kenapa aku begitu betah di kamar mandi, Bim. Karena setiap hari, di dalamnya aku akan selalu melihat lanskap yang sama, kau, senja, laut, pantai dan desir angin, serta tempias ombak. Sambil sesekali berharap ketika aku keluar dari kamar mandi, kau akan mengajakku mengunjungi sebuah tempat dengan panorama yang sama persis seperti yang Tuhan ciptakan dalam kamar mandi. Kau yang pada akhirnya mencintai laut, mencintai sesuatu yang mengalir dalam tubuhku. Mencintai sesuatu yang bapakku dan kami sekeluarga cintai, hingga jika nanti kau datang melamar, bapak tidak perlu berpikir dua kali untuk menerimamu, karena dia yakin bahwa kau akan mampu menghidupi anak perempuannya dari sesuatu yang telah laut berikan, meski barangkali selama ini, bajumu masih belum pernah tersentuh bau amis karang, atau kecemasan-kecemasan yang bacin yang melekat di atap-atap rumahku, saat bapak tengah melaut, dan angin tiada henti berembus.

***

Bim, Terkasih!

Setelah prahara tercipta di antara kita berdua, hari-hariku berkabung sama persis seperti seorang nelayan yang terkatung-katung sendirian di tengah amukan badai, cuaca kacau, jarum kompasnya patah nan berceceran, dia tak tahu hendak menepi ke mana, sementara arus terus menyeret dirinya dari satu derita pada derita yang lain. Selama itu pula aku semakin mencintai kamar mandi, di manakah lagi di dunia ini tempat yang sudi menampung segenap kesakitan dalam batinku kalau bukan kamar mandi? Toh, orang-orang hanya menjadikan diriku tak lebih dari tempat sampah, padahal mereka paham betul bahwa aku tengah berduka.

Di kamar mandi, Bimku terkasih, aku tidak lagi membayangkan penorama sore hari di tepi pantai dengan bau amis angin atau matahari yang hampir tergelincir, aku malah semakin merasakan bahwa air yang mengalir dari keran itu adalah dirimu sendiri. Mungkin ini terdengar tak masuk akal, tapi sungguh aku tidak punya pelarian lain, manisku, aku perempuan, dan lagi-lagi status sialan itu selalu membawa petaka bagiku. Perempuan tidak bisa sekenanya mempermainkan laki-laki sebagaimana kau mempermainkan perempuan selama ini, salah-salah dia dicibir, jadi buah mulut orang-orang di sekelilingnya, perempuan selalu dituntut untuk tampil anggun dan sempurna, tidak boleh bangsat apalagi dalam perihal perasaan, seolah dunia hanya diciptakan untuk laki-laki saja. Dan, perempuan harus selalu tabah, saat segala kebatilan mencabik-cabik harga diri dan batinnya.

Maka begitulah kemudian kamar mandi adalah pelarian terbaik, karena di sanalah aku mampu merasakan engkau memelukku, membasuh luka-lukaku, melepas penat yang berjibaku dalam tubuh. Meski sesekali aku sadar, kapan-kapan aku harus menguras habis seluruh air dalam bak mandi idamanku itu, lumutnya harus kubersihkan, partikel-partikel kecil yang lain tentu juga harus musnah, dan aku sungguh berharap, kapan pun bak mandi itu nanti aku bersihkan, kau ikut serta di dalamnya, agar setiap hari luka-luka di tubuhku tidak melulu disiram kepedihan masa lalu, meski aku menyukai itu. Hidupku harus berlanjut, Bim. Tidak boleh terperangkap dalam kamar mandi, kau mengalirlah bersama lumut, partikel, bakteri dan apa pun yang terangkum di dalamnya nanti. Semoga kelak kau tak rewel jika ternyata aku begitu pasrah membuatmu mengalir di selokan, dan bertemu sampah apa saja, bisa jadi juga menyatu dengan air bekas cucian ikan di gudang-gudang, hingga kemudian terbuang lagi ke laut! (*)

English Club, 2024

*)Mahasiswa Universitas Annuqayah

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#perempuan #mencintai laut #air laut #kapal layar #Kamar Mandi #bim #engkau #pantai #Lautan