Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Misnadi dan Segala Hal tentang Pulang

Ina Herdiyana • Minggu, 3 November 2024 | 12:55 WIB
Ilustrasi (RISKY ADHARIAJI PRATAMA/JPRM)
Ilustrasi (RISKY ADHARIAJI PRATAMA/JPRM)

Cerpen ACHMED SAYFI ARFIN FACHRILLAH*

SETIAP pukul satu dini hari, siapa pun akan menemukan lelaki tambun dengan rambut kusut acak-acakan tak terurus duduk di beranda asrama bersama kertas usang berisi sajak. Ia adalah Misnadi. Lelaki bermata teduh yang sedang merindukan tunangannya yang kadung tertimbun oleh gundukan tanah dengan kijing pualam yang mengonggok di atasnya.

Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali meramu kata sembari mendengarkan desir angin –mendawai pelepah daun pohon siwalan di sebelah barat asrama, menimbulkan gemerisik lirih serupa madah timbul lalu tenggelam. Dan, apabila bulan sudah tampak kalis di balik rerimbun pohon akasia yang bersebelahan dengan pohon siwalan itu, maka ia akan menutup bukunya lalu beranjak tidur. Tidur yang tak pernah nyenyak.

”Aku ingin boyong, Pak.”

Ungkap Misnadi memberanikan diri pada Sarkawi di suatu siang yang mendung. Ia tertunduk, matanya sembap. Tak kuasa melihat rona wajah ayahnya seusai mengungkapkan kalimat tersebut. Sarkawi hanya mendesah pelan, lalu menyesap kopi di hadapannya –membuat basah kumisnya yang rimbun dan berkelok serupa rumbai pelepah daun siwalan di sebelah barat asrama. Lengang, hanya suara riuh rendah santri di kejauhan.

Memang, semenjak mendapat telepon dari Misnadi semalam, gundah di dada Sarkawi kian membelukar. Tidurnya tak nyenyak sepanjang malam seperti tak nyenyaknya Misnadi seusai menulis sajak pukul satu dini hari. Sembari menyesap puntung rokok, ia berjalan mondar-mandir dari sudut rumah yang satu ke sudut rumah yang lain. Hingga pada akhirnya, rebah pada kursi lapuk di ruang tamu diiringi desah pelan sama persis seperti desahnya sewaktu bertemu Misnadi di esok hari. Matanya menerawang ke atap-atap rumah. Sunyi.

”Kok belum tidur, Pak? Mikirin apa toh?” Tanya Subaidah menaruh curiga seraya memecah sunyi dengan gaya menyelidik sewaktu hendak ke kamar mandi untuk sekadar membuang air kecil. Sarkawi bergeming, lantas mendengus halus. Lengang kembali menyelimuti. Setelah beberapa saat, barulah ia angkat bicara perihal keresahannya pada Misnadi di pesantren kota.

”Misnadi tadi menelepon, katanya besok mau pulang.” Wajah Sarkawi tampak layu seketika. Subaidah tertunduk –memikirkan sesuatu.

”Ia masih memikirkan Maria.”

Wajah mereka diselubungi lara. Semenjak Misnadi tahu bahwa Maria, tunangannya, meninggal tiba-tiba dengan cara tak wajar –perut membengkak dan lidah menjulur keluar, ia tak lagi terlihat ceria seperti sediakala. Wajahnya temaram. Dokter maupun dukun sudah tak terhitung berapa kali didatangkan ke rumah Maria. Namun, tak ada satu pun yang dapat mengobati penyakitnya. Hingga pada malam Senin pahing pukul delapan, napasnya terengah-engah, dadanya kembang kempis, lalu terpejam selamanya. Pejam yang menumpahkan gerimis di pipi Misnadi tak reda-reda.

Sarkawi beranjak dari kursi dengan langkah tergesa sembari membuang puntung rokok yang sudah hampir habis tembakaunya. Sementara bara api di ujung rokok itu masih memerah, semerah saga.

”Mau ke mana, Pak?”

”Ke rumah Ke Harun untuk meminta air,” tukas Sarkawi sebelum hilang di balik pintu.

”Kamu masih memikirkan Maria?”

Seraya mengangguk lemah, Misnadi menunduk lesu. Air menggenang di kedua pelupuk matanya. Sembap. Sekeranjang nasi di hadapannya masih tergeletak seperti semula. Sarkawi merogoh saku dan mengambil sepuntung rokok, kemudian menyulutnya –menimbulkan percikan merah bara api semerah mata Misnadi memeluk lara.

”Carilah kesibukan yang dapat menggantikan rindumu pada Maria.”

”Dengan cara bagaimana, Pak?” ia angkat bicara. Suaranya serak dan sumbang.

”Dengan cara bagaimanapun.”

Misnadi nyaris bergeming. Bungkam. Hanya gemuruh guntur yang bergelegar. Awan semakin menghitam, memaksa hari suram sebelum waktunya. Sarkawi memaku pandang dengan tatapan tirus. Sementara Misnadi mencoba mencerna lebih halus lagi kalimat yang terlontar dari mulut keriput ayahnya. Ia berpikir, apa yang bisa ia lakukan selain bersetubuh dengan angin di malam buta dan tak dapat diajak bicara. Ia terus berpikir. Guntur kembali bergemuruh riuh, kali ini terdengar lebih pelan seperti orang bergumam.

”Minumlah air ini. Semalam, aku pergi ke kediaman Ke Harun untuk memintanya.”

Sarkawi menyodorkan sebotol air minum bercampur kembang dan lipatan kertas yang ia ambil dari keranjang di hadapannya. Memang, Ke Harun adalah guru alif Misnadi sekaligus merupakan kiai kampung yang tersohor luas hingga ke desa-desa tetangga. Tak jarang, orang sowan untuk meminta jimat kemenangan atas lomba karapan sapi, ojung, bahkan carok.

”Ada apa, Wi? Tumben ke sini tengah malam,” tanya Ke Harun setelah mempersilakan Sarkawi masuk ke kediamannya malam itu. Sorot matanya menelusuri guratan-guratan kegundahan di wajah Sarkawi.

”Ini perihal Misnadi, Ke.

Ke Harun mengangguk pelan, lalu beranjak ke ruang belakang meninggalkan lelaki jangkung itu dalam pelukan lengang yang temaram. Hasrat untuk tetap memondokkan Misnadi masih bergumul di dadanya. Melihat anaknya datang menyalami punggung tangan dengan senyum rekah adalah lanskap paling indah yang pernah ia temui. Tapi semenjak wanita beralis tebal itu tiada, pemandangan semacam itu sirna. Saban Sarkawi menemuinya, Misnadi selalu tampak murung. Ia lebih banyak membisu bercampur tatapan merana.

”Ini, berikan pada anakmu.”

Lelaki berserban hijau itu kembali dan memberikan sebotol air setelah beberapa saat meninggalkan Sarkawi. Kemudian, ia pulang dengan masih memikul harapan yang sama; ingin mengembalikan rona asri di wajah Misnadi. Itu saja, tidak lebih. Sebab itulah ia rela mengucurkan bulir-bulir keringat di sawah setiap hari dari petang yang belum sepenuhnya pergi higga terik menyengat –membuat kulitnya legam selaksa hidung biri-biri. Dan, apabila matahari terlihat jingga di sebelah barat, maka ia akan kembali lagi sampai senja sudah merapat. Itu semua demi secercah rupiah untuk Misnadi. Maka tak heran jika ia tak sudi gelisah bersarang di hati anaknya.

Gerimis perlahan jatuh bertalu-talu tatkala Misnadi menerima sebotol air itu. Lekas-lekas, kopinya disesap bersisa ampas. Mereka memilih bungkam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tentulah, di rumah kampung sana, Subaidah menggenggam sebilah cemas seraya menanti di ambang pintu, menyaksikan mendung mengerudung. Ia menerka-nerka bahwa hujan barangkali mengguyur di pesantren Misnadi. Tungku di dapur masih mengepul. Bila Sarkawi datang nanti, Subaidah akan menyambutnya dengan singkong rebus dan bertanya perihal keadaan sang anak di pesantren sana. Sebab ia tahu, suaminya sangat menyukai singkong rebus, apalagi saat sedang lelah-lelahnya.

”Jangan dulu pulang, Cong. Habiskan dulu air itu.”

Sarkawi baru pamit pulang setelah gerimis kecil-kecilan sudah reda sepenuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih, menghindari genangan demi genangan menuju motor butut yang diparkir tak jauh dari asrama. Meninggalkan janji sembari menanggalkan harapan di dada Misnadi.

Saat matahari mulai memerah adalah saat-saat di mana Sarkawi baru sampai ke rumah dengan badan teramat lesu. Di ruang tamu, di atas tikar pandan hijau kekuningan rajutan Subaidah pekan lalu, istrinya bersimpuh beserta singkong rebus yang masih hangat disambangi secercah kepulan asap. Kemudian, Sarkawi juga duduk dan bertutur panjang lebar sebelum akhirnya pergi ke ladang sebelah tenggara rumah bersama dua ekor sapi seraya memikul nanggala untuk membajak.

”Istirahatlah dulu, Pak. Jangan memaksakan diri.”

Titah Subaidah dari beranda rumah tatkala melihat suaminya beringsut memikul nanggala. Sarkawi tak menggubrisnya. Ia tetap berjalan melewati jalanan setapak. Dari pori-pori pelipisnya, keringat perlahan jatuh pada dedaunan liar serupa embun. Walau lelah menggantung di kedua pelupuk matanya, tak bisa lagi ia menunda pekerjaan itu. Sebab, bagi Sarkawi, lelah tak berarti apa-apa daripada harus cari utang untuk uang kiriman Misnadi. Hingga selang beberapa langkah lagi untuk sampai ke ladang, matanya berkunang-kunang, pikirannya mengambang, lalu serasa hilang ditelan desau angin.

Esok hari pagi-pagi sekali, Misnadi tersentak karena dipanggil ke kantor pesantren untuk menerima telepon dari Subaidah. Heran menggerogoti kepalanya. Selama empat tahun mondok, ia belum pernah ditelepon langsung dari rumah, kecuali ada kabar yang begitu penting. Seperti kabar mengenai kematian Maria. Tidak, kematian bukan untuk Maria. Namun lebih tepatnya; hilang sebentar.

”Pulang, Cong. Bapakmu sudah tiada.”

Misnadi terhenyak. Telepon dalam genggamannya jatuh. Kemarau seketika kandas pada pipinya, berderai-berderai dan berbulir-bulir. Juga entah mengapa, tiba-tiba semenjak detik itu, ia sangat membenci Maria dan tak lagi berhasrat pulang. (*)

 

05-02-2024

*) Pustakawan Lubangsa. Siswa aktif kelas X-A SMA Annuqayah.

Catatan:

Ke      : Panggilan kepala lelaki tua

Ojung : Tradisi masyarakat Madura. Tradisi ini dilakukan oleh dua lelaki dengan bertelanjang dada dan bergantian tubuhnya dicambuk dengan rotan

Cong  : Panggilan untuk anak laki-laki

Nanggala: Alat untuk membajak sawah

 

 

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#carpan #sastra budaya #Segala Hal tentang Pulang #cerpen #Cerita Pendek