Cerpen ALIF FIRMANSYAH ACIK
MATEMATIKA... M-a-t-e-m-a-t-i-k-a.
Entah sudah kali keberapa Radit mengeja tulisan itu. Setiap kali ia mendapati kalimat itu, ia geram dan ingat pada seseorang. Sebenarnya apa yang dilakukan orang itu sampai-sampai Radit selalu ingat padanya ketika matanya menangkap tulisan ”matematika”. Kejadian itu sudah berlalu pada beberapa tahun silam, saat Radit masih menduduki bangku kelas tiga SD.
***
Pada hari Senin, Radit dan teman-temannya mengikuti mata pelajaran terakhir, yakni ”matematika” satu-satunya mata pelajaran yang paling ditakuti Radit. Ya, karena selain gurunya garang dan suka-suka memberi tugas atau PR ketika hampir waktunya pulang. Pelajaran yang memusingkan, membutuhkan kerja keras untuk memahaminya.
”Coba jawab pertanyaan Bapak, tiga dikali lima berapa?” para murid kebingungan, mereka berenang dalam lautan angka, pikirannya mengarungi sungai rumus.
”Lima belas, Pak!” di saat yang lain sedang sibuk menghitung menggunakan tangan, Aska dengan sigap menjawab soal itu. Radit malas-malas mengikuti pelajaran yang memang dia tidak suka sama sekali dengan pelajaran ini.
Lantas jawaban sigap dari Aska mendapat perhatian dari teman-teman sekelasnya. Mereka terperangah. Takjub. Beda halnya dengan Radit yang hanya uring-uringan dari tadi, ngantuk. Meskipun Radit sudah berusaha mendengarkan, menyimak penjelasan dari pak guru, dia tetap saja tidak paham dengan materinya. Entah karena dia memang memiliki IQ rendah atau bagaimana?
Dia memang terlahir dari keluarga kecil di dalam gubuk reyot yang dijejaki beberapa sarang laba-laba. Ayahnya bekerja kepada tetangganya sebagai petani, setiap bulannya mendapatkan gaji dua sampai tiga ratus ribu rupiah. Mana cukup uang tiga ratus ribu memenuhi kebutuhan selama satu bulan. Untungnya sekolah yang ditapaki Radit saat ini gratis, tidak memungut biaya sepeser pun.
Radit tenggelam dalam lamunannya, pandangan lurus ke depan, pikiran berkeliaran. Radit duduk dengan dagu ditopang meja, tangannya menari bersama bolpen Pilot kesayangannya merekam peristiwa-peristiwa yang terpampang jelas di papan. Ia sadar meski dirinya tidak pernah paham dengan pelajaran itu, setidaknya dia memiliki catatan. Siapa tahu suatu saat dia bisa mengerti dengan lika-liku angka-angka itu.
”Sekarang, Bapak mau kalian kerjakan soal yang ada di depan.” Hal yang ditakuti Radit datang tanpa permisi. Sekarang di hadapannya terdapat tiga soal matematika, dan harus dia selesaikan sekarang juga atau dia tidak akan diperbolehkan pulang.
Bel pulang tinggal tiga puluh menit lagi, dan dia belum sama sekali mengerjakan soal itu. Dia tidak tahu harus bertanya pada siapa, teman-teman di sampingnya sibuk mengerjakan soal, sedangkan gurunya keluar kelas meninggalkan mereka semua. Tatapannya hampa menatap soal-soal yang membutuhkan jawaban darinya.
”Waktu tinggal tiga menit lagi.” Tiba-tiba suara terdengar dari arah pintu. Guru itu kembali sembari melihat ke layar HP-nya. Melihat video-video viral berdurasi singkat di media sosial miliknya, seketika tertawa karena salah satu video yang ditampilkan layar kacanya menggelitik perutnya. Video berdurasi 30 detik itu selesai dan dia berjalan menuju bangkunya, meletakkan HP dan berkata.
”Waktu habis, sekarang kumpulkan tugas kalian dan boleh pulang,” semua murid maju menyetorkan bukunya dan pamit pulang. Beda halnya dengan Radit yang hanya diam di bangkunya, dia belum menyelesaikan satu pun soal yang diberikan oleh gurunya itu. Sekarang dia tinggal berdua dengan gurunya di dalam kelas.
”Radit, kamu kok masih diem di situ? Ayo cepat kumpulkan tugas kamu.”
”Emm, anu, Pak. Saya masih belum mengerjakan satu pun soal dari Bapak.”
”Emangnya dari tadi kamu ngapain hah?” suara gurunya agak meninggi membuat bulu kuduk Radit menegang. Radit tertunduk, takut. ”Kamu paham nggak dengan penjelasan Bapak barusan?” guru itu bertanya, alih-alih dia ingin menjelaskan ulang pelajaran barusan pada Radit.
Dengan mata terpaku ke ujung sepatunya, Radit menggeleng. Baju putihnya mulai basah disirami peluh yang mengucur dari kening dan tubuhnya, punggungnya mulai lelah digantungi tas sekolah, kakinya gemetar. Remang-remang air mata ingin melompat dari kelopak matanya. Namanya juga masih kelas tiga SD, masih bisa dikatakan wajar jika anak sekecil itu menangis.
Guru itu mulai memberikan penjelasan singkat pada Radit. Dengan perlahan dan hati-hati Radit menyimak penjelasan ulang dari gurunya. Namun, kali ini suasananya agak berbeda. Guru itu meninggalkan HP-nya dengan kamera menghadap ke arah Radit, mengabadikan momen keluguan Radit yang mematung di depan meja guru.
”Sekarang coba jawab, lima dikali empat berapa?” dengan sedikit tawa yang timbul dari mulut sang guru. Entah di mana lucunya, sehingga guru itu menebar tawanya sembari merekam Radit yang berkelahi dengan jari-jari tangannya. Belum juga dia temukan jawabannya, gurunya mencoba mempermudah soalnya barusan.
”Gini, Dit, jari di tangan kanan kamu ada lima, terus di tangan kiri kamu ada lima, kaki kanan kamu juga ada lima Dit, dan di kaki kiri kamu juga ada lima jari. Coba hitung, ada berapa jari di tangan dan kaki kamu?” sedikit penjelasan itu cukup mempermudah bagi Radit. Namun, dengan rasa gugup dan pikiran yang kacau membuat Radit kembali kebingungan dengan soal itu.
Pada akhirnya guru itu pasrah dan menyuruh Radit untuk pulang ke rumahnya. Selain jarum sudah mengarah ke angka dua, guru itu juga sudah lelah menghadapi Radit yang lemah dalam bidang matematika.
***
Radit bodoh! Radit dungu! Huuuuu!!!
Cacian dan sorakan itu keluar dari mulut-mulut teman sekolahnya, dari kelas satu sampai kelas enam melontarkan ucapan yang sama kepada Radit. Dengan wajah menghadap bumi Radit berjalan memasuki ruang kelasnya, duduk di bangkunya dan diam seribu bahasa. Hari ini Radit menjadi pusat pembicaraan di sekolahnya. Bukan hanya di sekolah, orang-orang di kampungnya pun membicarakan soal Radit.
Apa yang terjadi, kenapa semua orang tiba-tiba menyoraki dan membicarakannya. Aska memberitahukan pada Radit, bahwa dia dibicarakan semua orang karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari gurunya. ”Bagaimana semua orang tahu tentang hal ini?”
”Kemarin, guru matematika meng-upload video kamu di medsos, Dit. Waktu kamu dikasih soal lima dikali empat sama guru. Dan video itu viral, semua orang melihat vidio itu.” Aska memberi tahu soal video itu kepada Radit.
Radit hanya bisa tertunduk, air sungai mengalir di garis matanya, tak kuasa menahan malu, hatinya bagai diiris sembilu. Bahkan, orang tua Radit menutup telinga ketika orang-orang di sekitarnya berbicara tentang kebodohan Radit. Video itu merambat dengan cepat ke seluruh medsos, dan mendapat banyak komentar dari berbagai kalangan.
Sejak kejadian itu, Radit membeku di pojokan kamarnya. Mengeram di dalam rumahnya. Mengunci diri dari dalam kamar, tidak mau keluar kecuali makan dan mandi. Bahkan, sekolahnya pun rela dia tinggalkan. Semua ini terjadi karena si guru matematika yang menyebarkan aib muridnya. Radit. (*)
*)Staf redaksi Lembaga Pengembangan Jurnalistik PP MUBA
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti