Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kamar 303

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 31 Maret 2024 | 18:55 WIB
Ilustrasi. (RISKY/JPRM)
Ilustrasi. (RISKY/JPRM)

Cerpen DEPRI AJOPAN*

 

DI lantai tiga, tepatnya di balkon, ada beberapa orang duduk sambil berunding. Suara berisik itu terdengar sampai ke lantai bawah. Bukan hari itu saja terjadi perdebatan di antara mereka, para tamu itu, dan itu terjadi gara-gara penghuni kamar 303. Mereka sering mendengar rintihan dalam kamar itu, tapi tak kenal siapa penghuninya. Tak mungkin hantu gentayangan, karena suara itu bukan saja pada malam hari, siang hari juga berisik, yang membuat mereka merasa terganggu. Dari suaranya mereka bisa menduga ia seorang perempuan yang kecewa. Untuk memastikan, seorang utusan turun ke bawah, duduk di lobi, menunggu penjaga kos yang masih sibuk ngecat tembok. Begitu ia istirahat, seorang utusan itu bertanya,

”Penghuni kamar 303 itu siapa sih? Kamar di sampingku pun katanya dia tidak kenal, ia bilang tak pernah jumpa,” penjaga kos yang berkulit hitam itu tertunduk sesaat. Sepertinya ia berat mengatakan sesuatu.

”Karena kamu datang sendirian, aku siap bercerita. Tapi, cukuplah kau seorang yang tahu tentang ini, tidak usah cerita pada tamu-tamu lain, nanti jadi geger,” penjaga kos duduk dengan santai. Sebelumnya ia sudah menduga pertanyaan seperti itu akan meluncur dari mulut seseorang, tapi tetap ia gagap menjawabnya.

”Penghuni kamar 303 adalah seorang perempuan. Ia bisa menghilang kapan pun ia mau dengan bantuan barang antik yang dipakainya, tanpa membaca mantra apa pun. Ia memakai barang itu, waktu ke luar kamar. Karena takut tiba-tiba suaminya yang tidak bertanggung jawab datang mengintai,” suara penjaga kos terbata-bata.

”Suaminya selain tidak mau bekerja, ia suka mabuk-mabukan, berjudi, dan main perempuan.”

”Kalau begitu, kenapa ia tidak menceraikan istrinya saja?” Tanya seorang utusan itu pada penjaga kos.

”Mana aku tahu, tanya saja sama orang yang bersangkutan, suaminya itu,” penjaga kos mengerutkan kening.

”Bagaimana caraku menanyakannya? Kau sendiri tahu, dia tidak aku kenal, dan tak pernah aku melihatnya. Dia juga tak mau memperlihatkan wajahnya,” tantang seorang utusan itu. Ia mengaku hanya mendengar rintihan, dan sesekali dentuman suara pintu yang berdegup kencang baru ditutup, tapi anehnya tak ada terlihat orang melintas sebelum atau sesudah itu.

”Kalau dia bisa menghilang, berarti dengan mudah dia bisa membunuh suaminya, dia tidak akan dipidanakan. Siapa yang bisa memberi bukti? Orangnya saja tidak terlihat,” seorang utusan itu semakin penasaran dengan penghuni kamar 303.

”Ia tak mau melakukannya. Itu syarat pertama yang eyangnya sampaikan ketika memberi barang antik itu sebagai warisan.”

”Apakah suaminya tahu, tentang istrinya yang bisa menghilang?”

”Tidak.”

”Kenapa kau tahu ceritanya sejauh itu? Kau pernah melihatnya?” Tanya orang itu lagi semakin penasaran.

”Tentu saja.”

”Kapan?”

”Waktu dia nanya kamar,” seseorang itu berpikir, penjaga kos tidak mungkin bohong. Logikanya jalan. Kalau perempuan itu tidak menampakkan wajahnya waktu check in, bagaimana dia bisa masuk.

”Awal dia check in, apa saja yang ia ceritakan?” Tanya seorang utusan itu lagi sangat kepo.

”Semuanya, termasuk tentang ia yang bisa menghilang dan yang lainnya. Sesekali ia juga menelepon, yang ujung-ujungnya cerita tentang dirinya dan masalah dengan suaminya.”

”Apakah dia perempuan cantik?” Penjaga kos tak menduga mendapat pertanyaan seperti itu, dan ia menjawabnya singkat,

”Kecantikan itu relatif.”

”Kalau menurutmu bagaimana?” Utusan itu tak bisa diam. Penjaga kos tak menggubris.

”Bisa kau mempertemukan aku dengannya?” Penjaga kos yang sudah tahu caranya kalau bertemu dengan perempuan itu, mengajak utusan itu ke lantai tiga. Ia mengetuk pelan pintu kamar 303 itu, menyebut sebuah nama bermaksud memanggilnya.

”Kak Lidia Purnama Sari,” tiga kali ia menyebut nama itu, pintu baru terbuka, seorang perempuan jelita berdiri di depan mereka. Utusan itu yang mungkin lelaki gatal tak bisa menahan ucapannya lagi.

”Aku sudah tahu dukamu dengan suamimu. Kalau adik berkenan, maukah adik menikah denganku?” Perempuan itu tersenyum manis, kemudian ia menghilang lagi, pintu yang ia banting tertutup rapat. (*)

*)Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Anggota Komunitas Suku Seni Riau mengambil bidang sastra. Sekarang mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassaadah Kepenuhan Barat Mulya ,Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#perempuan #Penghuni #penjaga kos #barang antik #kamar 303 #bisa menghilang