Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Keluarga

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 28 Januari 2024 - 15:15 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Cerpen NADIA YASMIN DINI*

 

KAMI bukan keluarga. Lebih tepatnya, kami tidak terlihat seperti sebuah keluarga. Hubungan yang terjalin di dalam keluarga kami juga terkesan tidak wajar dari kebanyakan keluarga lain.

Bukan kami tidak akur. Hanya saja, komunikasi yang terjalin di antara kami sebatas basa-basi belaka. Bahkan yang aku sadari, kami hampir tidak pernah membagi cerita kami masing-masing.

Hari Minggu juga bukanlah hari keluarga bagi keluarga kami. Hari Minggu sama seperti hari biasanya. Ayah sibuk bertelepon dengan rekan bisnisnya.

Ibu sibuk bertukar pesan dengan teman arisannya. Sementara kakakku sibuk dengan dunia game-nya.

Semuanya sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Dan, seperti biasa, hanya aku yang waras di sini.

Di ruang keluarga ini, aku hanya bisa memeluk boneka kesayanganku. Memperhatikan mereka semua dengan keadaan muka yang ditekuk.

Sungguh, jika sudah begini, aku kembali teringat dengan cerita teman-temanku yang lain. Mereka bercerita bahwa setiap minggu mereka biasanya akan pergi berjalan-jalan bersama keluarga mereka.

Atau paling tidak, mereka pasti akan berkumpul di ruang keluarga untuk saling bertukar cerita. Tidak seperti keluargaku.

Ponsel telah merusak hubungan keluarga kami. Hampir setiap hari mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.

Seakan-akan lupa bahwa mereka masih punya sebuah keluarga. Atau barangkali mereka ingat, hanya saja mereka menganggap bahwa hubungan keluarga kami hanya sebatas formalitas.

Ponsel telah membuat kami hanya berbicara satu sama lain ala kadarnya saja. Hingga tanpa kami sadari, kami akhirnya terbiasa untuk saling memendam semuanya satu sama lain.

Kami terbiasa untuk menanggung semua masalah kami sendirian. Tanpa bercerita satu sama lain. Kami bahkan tidak tahu apa itu arti berbagi segala suka dan duka. Benar-benar tidak tahu.

Jikalau kami tahu, tidak mungkin malam itu aku mendengar kakakku menangis sendirian di kamar. Saat aku coba untuk mengetuk pintu, wajah yang ia tunjukkan malah sebaliknya.

Ia tersenyum seolah-olah semuanya baik-baik saja. Saat aku tanya ada apa, ia malah beralibi dengan menuduhku bahwa aku telah salah dengar.

Kemudian, ia menyuruhku untuk lekas tidur. Namun, meskipun ia tak mau jujur, aku sangat yakin bahwa ia memang menangis waktu itu.

Hanya saja, ia sungkan untuk memberi tahu. Hal itu membuat aku semakin ragu, apakah kami adalah anggota keluarga atau bukan.

Jikalau kami semua adalah anggota keluarga, ayah juga tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dariku di tengah malam itu.

Di tengah malam, aku tiba-tiba saja terbangun dari tidur. Samar-samar aku mendengar suara ayah sedang berbicara dengan seseorang. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar.

Aku melihat ayah sedang menelepon seseorang dalam keadaan wajah yang marah. Napasnya berderu tak beraturan. Wajahnya memerah.

Dahinya berkerut sempurna. Namun, ketika melihat kehadiranku, ayah langsung mematikan teleponnya.

Ketika aku bertanya tentang apa yang terjadi, ayah hanya mengatakan bahwa tadi hanya salah sambung. Jika hanya salah sambung, tak mungkin ayah terlihat semarah itu.

Lain lagi dengan ibu. Waktu itu, aku tak sengaja menguping pembicaraan ibu dengan seorang wanita di ruang tamu.

Wanita asing itu memberikan ibu uang setelah ibu menyerahkan kalung emas kesayangannya. Setelah wanita itu pulang, aku langsung menghampiri ibu.

Bertanya mengapa kalung kesayangannya diberikan kepada seorang wanita asing. Ibu bilang, wanita tadi hanya meminjamnya sementara.

Tetapi, anehnya, selama ini ibu bahkan tidak memperbolehkan siapa pun untuk menyentuh kalung itu. Lalu, mengapa dengan mudahnya ia meminjamkan kalung tersebut pada orang lain?

Setelah semua hal yang terjadi, aku akhirnya memutuskan untuk angkat bicara setelah makan malam. Melupakan bahwa aku hanyalah seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun.

Namun, jika semakin dibiarkan, maka hubungan keluarga kami akan semakin jauh lagi. Lebih dulu, aku meminta mereka semua untuk menaruh ponsel mereka masing-masing.

Setelah itu, aku langsung pada intinya. Menyampaikan unek-unekku selama ini bahwa aku ingin komunikasi di antara kami berjalan baik.

Aku tidak menginginkan sebuah keluarga yang hanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Aku ingin sebuah keluarga yang bisa berbagi satu sama lain dan tidak saling menyimpan rahasia satu sama lain.

Maka di menit berikutnya, mereka akhirnya mau mengungkapkan semua hal yang selama ini mereka sembunyikan.

Kakakku bercerita bahwa ia telah mengalami perundungan selama dua tahun terakhir di sekolah. Itu sebabnya, ia menangis malam itu.

Dilanjut dengan cerita ayah yang ternyata mengalami kerugian besar akibat keteledoran karyawannya. Ya, ternyata malam itu ayahku sedang memarahi karyawannya.

Sementara ibuku, ia akhirnya juga mau jujur bahwa ia terpaksa menjual kalung emas kesayangannya untuk membayar uang arisan yang belum dibayar selama tiga bulan.

Malam itu aku lega. Setidaknya, kami telah belajar untuk saling terbuka satu sama lain. Menghilangkan ponsel yang menjadi sekat hubungan kami.

Malam itu, aku benar-benar merasa senang karena akhirnya setelah sekian lama keluargaku sama seperti kebanyakan keluarga lain. (*)

*)Mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#hubungan keluarga #sibuk dengan ponsel #ponsel #angkat bicara #keluarga #saling terbuka