Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perempuan yang Mengecup Kening Bulan

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 7 Januari 2024 | 19:05 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Oleh DEPRI AJOPAN*

TUKANG pos berhenti di depan rumahku, turun dari motor, duduk di sampingku. Keringatnya yang bercucuran menandakan ia seorang pekerja keras. Ia baru keliling dari satu alamat ke alamat lain. Tak peduli panasnya matahari yang menjilat kulit serasa terbakar. Ia bilang satu-satunya paket yang pernah ia bawa datang dari penerbit buku adalah paketku sendiri.

Sejak ia tahu aku seorang penulis, setiap ia datang ke rumah, baik mengantar surat perjanjian dari penerbit atau mengantar buku yang sudah dicetak beberapa eksemplar bukti terbit ke penulis, ia sering duduk santai kalau pekerjaannya hampir selesai. Terkadang aku berpikir, apa pantas aku melayani tamu seperti dia, bukan karena pekerjaannya, karena ia sering mengganggu aktivitasku walaupun dalam keadaan santai.

”Coba, Nul, kau buat cerita tentang kisahku. Aku yakin para penggemarmu pasti menangis membaca kisah sedihku itu,” bukan satu dua orang saja yang berharap seperti itu padaku. Dan aku perhatikan kehidupan mereka datar-datar saja, seperti papan lurus dibentang dijadikan lantai rumah di kampungku.

Mendengar ia mengatakan, kisahnya yang sedih kalau dijadikan suatu cerita semua orang menangis mencicipinya, menandakan pengetahuannya pada sastra secuil. Ia belum bisa membedakan mana karya sastra yang utuh dan hidup, dengan karya sastra yang datar dan biasa-biasa saja.

Pengetahuannya bisa aku maklumi, karena ia tidak pernah duduk di bangku perkuliahan, apalagi sampai mengambil prodi sastra. Ia yang masih di bawah awam mengenai sastra bercerita panjang lebar tentang sastra, membuatku jenuh. Ceritanya melanglang buana sampai ke masa lalu.

Ada satu hal yang aku tidak suka dengan beliau. Setiap kali bercerita ia tidak pernah lupa mengisap beberapa batang rokok, mengembuskan asapnya sembarangan, terhempas ke arah yang ia suka. Terkadang aku terbatuk-batuk, tapi ia tak pernah peduli, kemudian membuang puntung rokok sembarangan. Aku menunggu sepatah kata yang pendek dari beliau, ”Maaf kalau kamu tak suka bau rokok”.

Aku berharap ia mengerti dan mau mematikan rokoknya, tapi harapanku tak berhasil, ia malah mengambil sebatang rokok, mengisapnya lagi. Ia tak menawariku rokok setelah meletak bungkus rokok itu di atas meja, ia tahu aku bukan perokok.

Begitu tukang pos itu pergi, aku menerobos masuk ke dalam kamar. Membuka paket yang datang dari penerbit. Lima buah buku yang sama, Perempuan yang Mengecup Kening Bulan, kumpulan cerpen yang aku tulis sewaktu kuliah di Jerman, dan ini sudah cetakan yang ketiga. Penerbit sudah menghubungiku sekitar dua minggu yang lalu meminta persetujuan. Aku puas dengan covernya yang berbeda dari cetakan sebelumnya, walaupun belum puas dengan tulisannya. Itu salahku bukan salah penerbit. Dan kualitas kertasnya yang berbobot membuat senang hatiku.

Aku berharap tulisanku ini, walaupun tipis, bisa menggigit kesombongan dosen keparat itu. Aku membencinya. Dialah lawanku dalam berkompetisi menulis. Sebentar lagi akan kukirimkan sepucuk surat, bersama satu eksemplar buku itu ke Pak Prof Hendris sebagai bukti aku telah berhasil. Walaupun penerbit sudah memberi tahu dalam kertas, ini cetakan ketiga, tetap kusampaikan dalam surat itu, cerpenku Perempuan yang Mengecup Kening Bulan, sudah tiga kali naik cetak. Aku harap dia mati kutu setelah menerima ini, dan ia mengaku kalah. Setelah ia kalah aku belum kenyang, dan harus menyerangnya kembali, menusuk-nusuk perut dosen itu dengan pisau belati yang ada di hatiku.

Karanganku yang lain berjudul Aku Rapuh ketika Air Mata Jatuh ke Tempat Sujudmu. Masih proses di penerbit. Jika telah kelar, akan kurim juga satu eksemplar ke alamatnya langsung. Kalau perlu aku sendiri yang datang dengan membusungkan dada dan menemuinya. Meletak buku itu dengan bangga di atas meja kerja beliau. Aku ingin lihat kelesuan lahir dari hatinya setelah aku taklukkan.

Aku tak pernah peduli buku ini nanti laris manis di pasaran, sampai jadi best seller atau tidak. Tugasku sebagai penulis sastra hanya berimajinasi. Kemudian menuliskannya, mengirimkan ke penerbit. Aku juga tak pernah terlalu memikirkan diterima atau tidak. Dan tak penting menunggu berlarut-larut dalam kegelisahan. Jika ditolak aku revisi kembali dua atau tiga kali. Bahkan, sampai seratus kali. Kemudian, mengirimkan lagi ke penerbit lain. Jika diterima, aku promosikan lewat media yang aku punya sendiri. Jika laku aku bersyukur, jika tidak aku tidak akan putus asa. Apalagi sampai stres, membunuh kegiatanku berkarya sebagai seorang novelis.

Aku tetap jadi seorang pengarang, dan terus menulis memindahkan isi kepalaku ke atas kertas, apa pun yang terjadi. Itu sumpahku pada diriku sendiri. Bagaimana denganmu kawan yang mencintai sastra dan bercita-cita jadi seorang novelis? Kau ketuk sendiri hatimu, lalu jawab dengan gerak bibirmu. (*)

*)Lulusan Pesantren Musthafawiah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Aktif di Komunitas Suku Seni Riau mengambil bidang sastra.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#perempuan #karya sastra #kisah #sastra #novelis #tukang pos #seorang penulis #aku #buku #bulan