Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Masjid Desa Itu

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 24 Desember 2023 | 15:17 WIB
Ilustrasi. (RISKY/JPRM)
Ilustrasi. (RISKY/JPRM)

Cerpen MUHAMMAD FAUZI RAMADHAN*

KALI ini desa gempar. Cak Wirit, sang imam, khatib sekaligus muazin yang selalu dibangga-banggakan sesepuh desa—terutama jika ada kunjungan bupati atau kiai—tak kelihatan batang hidungnya sejak subuh tadi. Entah ia raib ke mana, para tetua desa kelimpungan. Mereka menduga-duga penyebab hilangnya sang imam ini.

”Mungkin dia sedang sakit,” tukas Mbah Suyem, sesepuh desa yang paling tua bahkan terlampau tua sekali dengan usianya yang mencapai delapan puluh tujuh tahun.

”Tidak. Aku telah bertanya kepada istri, anak-anak, sekalian khadim-khadimnya. Bahkan, mereka tak mendengar suara batuknya sama sekali sejak jam sepuluh lewat tiga puluh menit kemarin malam,” bantah Sekretaris Desa, Wak Roji, sambil lalu menggaruk-garuk kepala.

Para lelaki yang ikut berkumpul kembali menduga-duga. Ada yang bilang Cak Wirit berangkat ke luar kota, sembunyi, kabur, berlibur, bertapa, atau pergi ke alam lain. Namun, tak ada yang masuk akal, selain daripada dua dugaan, yakni diculik atau dibajak.

Semua pendapat itu silih berganti menyesaki pertemuan, sampai akhirnya Mbah Suyem memutuskan kalau mereka harus membentuk tim pencari Cak Wirit. Bahkan, mereka juga melibatkan dukun, paranormal untuk melaksanakan tugas ini. Semua pihak wajib terlibat. Laki-laki, perempuan, muda, tua bangka, dewasa, dan anak-anak harus ikut serta dan tak boleh terlewat.

Pencarian pun dimulai. Hari demi hari, minggu ke minggu, Cak Wirit tak kunjung ditemukan. Padahal mereka pergi dari satu desa ke desa lainnya. Tiap rumah juga mereka gerebek bahkan menyusuri anak sungai.

”Oh, Cak Wirit tukang sol itu,” kata seorang lelaki sambil cengengesan. Tim pencari Cak Wirit pun pulang dengan rasa jengkel.

Belum lagi masalah baru yang muncul, yaitu pertengkaran saat menjelang salat lantaran berebut menjadi imam. Kadang kala mereka sampai melempar-lempar Al-Qur’an, berkelahi, saling memukul, dan sering kali saling mencekik. Masjid serasa arena perkelahian.

Akhirnya diadakan suatu perkumpulan lagi untuk menunjuk imam. Sidang memanas seperti yang sudah-sudah. Demi keselamatan bersama, kepala desa—biasa dipanggil Pak Kades—langsung menunjuk Bang Sukripto. Hadirin setuju tanpa banyak perdebatan karena Bang Sukripto selama ini juga dikenal rajin beribadah. Penunjukan khatib pun dirasa perlu, dan Pak Kades langsung menunjuk Ustad Yatmo yang juga hafal segala macam kitab kuning. Radius pencarian Cak Wirit pun diperluas menjadi setingkat kabupaten. Tak lupa, Pak Kades senantiasa menasihati untuk tetap berikhtiar dan selalu bertawakal kepada Allah, dan menyemangati seluruh warga desa agar tidak berputus asa.

Sialnya, saat Cak Wirit yang tak kunjung ditemukan, Bang Sukripto dan Ustad Yatmo juga hilang tanpa jejak, lenyap tanpa bekas, disusul dengan hilangnya perangkat-perangkat masjid: mik, sound system, lampu, sajadah, bahkan mimbarnya. Desa geger. Kampung gempar. Masjid yang mereka bangga-banggakan sejak dulu—yang selalu dihias dan diperindah secara rutin setiap tahun—kini kosong tanpa satu benda pun melekat di dalamnya. Tak tahan lagi, Wak Roji, Pak Kades, Mbah Suyem, dan para tetua-sesepuh desa melapor ke polisi.

Laporan segera dibuat. Semua pihak yang dianggap terlibat dimintai kesaksian, siang-malam dimintai keterangan sedemikian dalam. Namun, masing-masing sama sekali tak ada yang dapat memberi penjelasan secara terperinci. Akhirnya, laporan mengendap begitu saja.

Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Mereka mulai melupakan pencarian Cak Wirit yang dijadikan simbol kesejahteraan desa itu. Apalagi, sesepuh desa satu per satu pergi jauh direnggut maut. Mulai dari Mbah Suyem, gara-gara darah tinggi—atau bisa saja karena usianya yang terlampau tua. Pak Kades menyusul, demikian pula Wak Roji dan diikuti tetua desa yang lain.

Keadaan desa makin tak terkendali. Apalagi kondisi masjid bersejarah itu. Orang-orang telah lama meninggalkan ibadah. Beragam fitnah juga tersebar. Demikian pula waktu terus merayap layaknya seekor kelabang di kolong dapur. Tak terasa jarum jam tak pernah—dan memang tak pernah—berhenti berdetak, berputar layaknya gasing. Entah berapa lembar kalender yang telah disobek, entah berapa tinggi pula sampah-sampah kalender itu menumpuk. Belasan tahun, puluhan tahun, ratusan tahun silih berganti. Mereka semua perlahan lenyap, digantikan cucu-cicit yang selalu bertambah layaknya tikus-tikus yang baru saja dilahirkan, atau barangkali seekor kutu yang beranak-pinak dalam rambut seorang gembel yang tak pernah mandi sebulan.

Entah berapa lama pula mereka semua hidup dan kemudian mati, begitu pun generasi-generasi selanjutnya tanpa mengingat Allah, atau barangkali mengenal agama. Entah berapa lama juga jiwa permusuhan senantiasa melekat dalam diri mereka. Nahas, tak satu pun yang ingat tentang masa lalu desa itu yang sekarang dipijak kaki mereka.

Perlahan cerita soal Cak Wirit menjadi kisah warisan turun-temurun. Dalam kisah itu disebut pula nama petuah lain yang dulunya menjadi penyangga masjid bersejarah di desa mereka yang kini terbengkalai dimakan usia.

***

Sampai suatu hari, saat maksiat makin merajalela, tiba-tiba terdengar suara azan yang sangat merdu berasal dari masjid. Warga kampung geger. Mereka berupaya mendatangi masjid itu beramai-ramai. Semua terkesima akan lantunannya yang amat indah. Telah lama mereka tak mendengar azan macam itu. Sayangnya, pemilik warung remang yang tak mau kehilangan mata pencaharian menebar fitnah.

”Jangan terkecoh! Puluhan tahun masjid itu tak berpenghuni. Itu akal-akalan pemerintah yang ingin menggusur rumah kalian saat pergi ke masjid,” katanya sembari berkacak pinggang.

”Kau tak bohong, kan?” teriak seorang warga.

”Buat apa aku berdusta? Kau tak lihat proyek pembangunan jalan raya di kota sebelah. Mereka diusir tanpa ganti rugi. Sekali saja kalian ke masjid, rumah kalian akan rata dengan tanah.”

Orang-orang termakan hasut. Mereka tak jadi pergi ke masjid. Mereka serempak balik badan kecuali seorang pemuda berbadan kurus ceking.

”Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?”

”Ajaklah tujuh orang lagi. Bakar masjid itu!” ujar pemilik warung prostitusi.

Akhirnya, mereka sepakat menghancurkan masjid. Sialnya, berhari-hari mereka mencoba membakar masjid itu, tapi usaha mereka sia-sia. Dan entah hari ke berapa, saat mereka menyiram seluruh bangunan masjid, tiba-tiba kabut tebal yang entah dari mana asalnya menyelimuti desa itu secara mendadak. Kabut itu mengaburkan pandangan. Tapi, ke delapan lelaki itu tak patah arang. Di tangan mereka telah menyala obor.

Namun, belum sempat melempar api ke arah masjid, mereka terkejut. Masjid di depan mereka yang konon telah pernah hilang imamnya yang bernama Cak Wirit, serta imam pengganti yang juga raib bersama perabot di dalamnya, tiba-tiba muncul kembali. Mereka termangu saat melihat Wak Roji, Pak Kades, Mbah Suyem, Ustad Yatmo, dan Bang Sukripto sedang salat berjemaah di mana Cak Wirit bertindak sebagai imam. (*)

*)Santri kelas akhir TMI Putra Al-Amien Prenduan, Sumenep asal Batam, Kepulauan Riau

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Desa #Wak Roji #Bang Sukripto #Ustad Yatmo #hidup #kampung #Cak Wirit #geger #perlahan lenyap #mati #imam #Mbah Suyem #suara azan #masjid #khatib #muazin