Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kala Senja Riya Tiada

Berta SL Danafia • Selasa, 19 September 2023 | 16:39 WIB
ILUSTRASI: RISKY AP/JPRM
ILUSTRASI: RISKY AP/JPRM

Cerpen: MUHTADI ZL.*

RadarMadura.idSelalu begitu, sebelum senja jatuh di ujung barat samudera sana, kau menemui Riya—yang entah dari mana datang—sudah berdiri di tubir pantai. Mata tajam oval Riya jauh memandang samudera biru yang luas. Menikmati embusan angin laut yang bercampur garam menerpa wajah. Kaki Riya sengaja dibiarkan telanjang agar kecupan ombak terasa. Sesekali, burung camar numpang lewat di atas kepala tanpa mengepakkan sayapnya. Dan kau tiada henti menatap bibir dan bola mata itu, seakan kau merasa bahwa baru kali ini menemukan gadis dengan segala keindahannya.

Kau tahu betul, Riya akan tiada setelah senja purna di peraduan. Awal-awal, ingin sekali kau mengikutinya untuk tahu ke mana Riya pergi. Akan tetapi, sekeras batu karang yang kau injak, sedikit pun tak ada ”iya” keluar dari mulut Riya. Meski memohon sampai berlutut, kata ”iya” tidak akan juga keluar dari bibir kenyalnya. Kau tidak menyesali akan hal itu, pun tidak teramat memikirkan kepergiannya, hanya yang jelas, besok, sebelum senja redup, ia akan datang di tubir pantai lagi dengan tetap memandangi laut yang luas itu.

Walau setiap hari kau bisa menemuinya, kau tidak akan menemukan obrolan asyik yang mengundang tawa. Tidak mungkin. Dan, tidak akan pernah bisa melakukannya. Setidaknya, itu yang kau rasakan selama ini. Bahkan, kau tidak tahu apa yang membuat Riya mendatangi pantai setiap sore. Kau juga tidak tahu mengapa ia hanya memandang laut yang luas itu. Terlebih lagi, kau juga tidak tahu kenapa Riya pergi setelah senja purna di barat sana. Dan, satu lagi, kau tidak tahu, bila malam Riya bermalam di mana.

”Riya, kau tidak mau ikut denganku saja. Di rumah, kau akan kumanjakan dengan makanan dan kasur yang empuk.” Entah untuk yang ke berapa kali kau melontarkan ajakan itu. Tapi Riya, hanya berucap ”terima kasih”. Memang, kau tidak puas akan jawaban itu, tetapi, bagaimana lagi. Tak ada paksaan yang boleh kau lakukan. Hanya boleh ajakan tanpa harus ada yang keberatan.

Meski juga entah untuk yang ke berapa kali, kau tidak pernah menerima tanggapan dan jawaban serius dari Riya. Meski demikian, sedikit pun kau tidak merasa jemu untuk meninggalkan barang sejenak. Ketertarikanmu pada bibir, hidung dan mata, tak tergoyahkan sedikit pun. Selagi masih terekam di retinamu, kau tidak akan beranjak meski kelak—semoga tidak akan pernah terjadi—tsunami menggulungmu, kau tidak akan beranjak pergi meninggalkan Riya.

Kehadiran Riya di dada kirimu yang kosong tiga bulan lalu, mampu memantik gairah hidupmu untuk menyelesaikan lakon Tuhan. Dari awal sebelum bertemu Riya, kau sangat enggan untuk hidup dan menjalani kehidupan. Banyaknya persoalan yang menimpa keluarga dan dirimu, memilih jalan singkat mengakhiri hidup, sudah kau pikir matang-matang. Kau sangat benci untuk hidup. Belum lagi kau sudah sangat muak, atau bahkan jijik, melihat ayahmu memukul bahkan menendang ibumu karena kesal akan ketidakenakan pelayanan ibu, sebagai seorang istri terhadap suami. Bukan hanya karena persoalan itu, semenjak kau tahu seperti apa tangis dan tawa, ibumu kerap menjadi sasaran empuk kemarahan dan amarah ayahmu. Semenjak itu, kau selalu menangis, selalu menjerit, selalu memilih sunyi, selalu menyendiri, dan selalu ke tubir pantai ini.

Di tubir pantai ini, kau biasa meneteskan air mata, tertawa tanpa apa, dan tersenyum melihat sang jingga tersenyum pudar di atas laut barat sana. Kau juga tidak memedulikan betul senyum pudar sang jingga. Seolah dunia tidak pernah terjadi apa-apa. Seakan keluargamu tidak pernah menemui bencana rumah tangga. Semua sesuai kodratnya, dan sebagai pemeran utama atas diri yang nista, tak perlulah berkomentar banyak kepada sutradara. Sebab, memang tidak boleh seorang tokoh mengubah jalannya cerita. Itulah mengapa, kau lebih sering dan akrab dengan pantai. Meski sejatinya kau hanya mencari pelampiasan dan pelarian belaka.

Namun, semua benar-benar berubah setelah kau bertemu dengan Riya. Rasa pelarian dan pelampiasan memudar setelah beberapa kali—bahkan berhari-hari—bertemu Riya. Sekarang, tiada lagi hati kesepian sebab tersandera lakon keluarga. Justru, sekarang berubah menjadi hati paling rekah yang terjala nelayan hoki setelah kehadiran Riya, yang nyaris serupa reinkarnasi bidadari ada di hadapanmu. Semakin hari, rasa di dadamu semakin tumbuh mengakar kuat. Seperti kehidupan drama, kau tidak ingin kehilangan Riya, satu-satunya orang yang mampu mengubah jeruji luka di relung dada menjadi tawa di setiap langkah kehidupan dunia.

Riya memiliki paras, yang entah kau tak bisa melukiskannya. Nyatanya, kau bukan tidak bisa melukiskannya, hanya saja, tiada ada kata yang bisa mewakili perawakan Riya. Sekali lagi, kau sungguh tidak ingin kehilangan Riya. Karena, tidak akan banyak perempuan yang menyukai pantai. Maksudnya, yang setia berdiri di tubir pantai setiap hari, membiarkan kaki dicecap ombak, membiarkan tubuh diterpa angin laut. Meskipun ada, tentu itu tidak akan sama dengan Riya yang sudah membuatmu jatuh cinta.

Bagimu, pertemuan dengan Riya keajaiban dunia. Bagaimana tidak, hidup yang selalu nyaris ranting patah, tak bisa mengelak dari kekejaman dunia. Tiba-tiba, seolah benar kiriman surga, menyadarkan dan menyandarkanmu untuk tegar melawan kuasa hidup. Seperti saat ini, kau seolah bisa melupakan kehidupan orang tuamu. Dan menjalani hidup lebih baik, tanpa peduli kehidupan orang tuamu.

”E…ee…e, Nit, aku ingin bertanya sesuatu,” mulutmu begitu kaku tertelan gemetar. Tidak yakin dengan jawaban Riya. ”Kau…Mau enggak, e…eee…e menjadi pen..dam….pingku?” akhirnya setelah tiga bulan lebih kau mengenal Riya dengan segala kemisteriusan yang dieramnya, mampu membuatmu luluh dan jatuh hati pada gadis pantai.

Setelah kalimatmu meluncur, kau tersipu malu. Ragu-ragu, lebih pasti. Kau tidak yakin sungguh dengan jawaban Riya. Dari gimik wajah dan bola mata, tak ada sejengkal harap untuk menjalani kebersamaan dalam berhubungan. Tak ada gelagat sedikit pun dari Riya untuk menerima kehadiran dirimu, seperti kau menerima kehadiran Riya.

Riya menoleh, menatapmu diselimuti gugup. Perasaan harapmu seketika benar-benar pudar setelah melihat lirikan Riya.

”Jika kau tahu siapa diriku, kau tidak akan sudi mendampingiku.” Begitu datar Riya berucap dan rasa menata berkata-kata, tak kau temukan maksud Riya itu. Meski sangat sedikit kau menemukan celah untuk selamanya bersama. Tetapi, celah itu sangat sulit untuk kau sibak.

Angin malam hampir tiba. Segala rasa, pun sudah teruntaikan. Hanya saja, jawaban kepastian sangat mungkin belum kau gapai. Kalimat Riya yang begitu leluasa, tak bisa kau tafsiri begitu saja. Sebab kau menagkap, ada sesuatu, semacam luka atau entah apa yang biasa mendera, melumat habis tubuh Riya. Bahkan bukan hanya tubuh, hati dan pikirannya terkuras tandas akan kekejian itu.

Keinginanmu untuk bersama Riya, tercekat sudah. Kau sanggup mendalami apa yang dimaksudkan Riya. Tetapi, kau juga tidak mau menyerah meski tanggapan Riya demikian. Kau hanya perlu tahu bukan? Setelah itu, kau tahu bahwa apa yang diucapkan Riya kepadamu bisa kau terima dan rasa ”tidak sudi” bisa kau terima sebagai kelebihan keluargamu.

”Jika begitu, izinkan aku mengantarmu malam ini?” kau bertanya sesuatu yang konyol. Mana mungkin Riya akan membiarkanmu ikut menemaninya. Tidak mungkin. Belum lagi, kau sudah tahu, jika pertanyaan itu kerap kali kau ajukan kepada Riya. Dan, jawabannya tidak pernah meleset dari yang sebelum-sebelumnya.

”Kau sungguh ingin mengantarkanku?” kau mendongak cepat. Tidak percaya dengan kalimat yang baru saja kau dengar.

Cepat-cepat kau mengangguk, ”Iya, biarkan aku mengantarmu.”

”Baiklah, hari ini kau temani aku pulang. Dan, jangan terkejut bila sampai rumah.” Kau mengangguk dan tersenyum paham. Rekah sekali rona bahagia di wajahmu. Ingin sekali kau cepat-cepat membuntuti Riya sampai ke rumahnya.

Setelah purna senja ditelan ujung laut, kau membuntuti Riya yang perlahan melangkah meninggalkan bekas kaki di pasir putih. Debur ombak di batu karang yang tidak begitu jauh di selatan kau biasa berdiri, terdengar perdu walau hatimu begitu bahagia.

Dari belakang, kau tidak bosan-bosan memandang postur tubuhnya. Pinggul tak begitu besar. Tubuh yang semampai, tentu sayang untuk kau mengalih pandang. Daripada melihat mega merah di barat sana, lebih baik kau menikmati tubuh sintal Riya yang berlenggok di depanmu.

”Kita sampai. Itu rumahku.” Tiba-tiba saja, tatapanmu mengarah pada telunjuk Riya.

Kau melihat sekeliling, tidak ada orang. Sepi. Menyimpan sunyi. Lampu-lampu juga tidak dihidupkan. Sangat remang. Atau bahkan sangat seram. Dan kau ingin sekali menanyakan keganjilan di benakmu. Tetapi, teringat perkataan Riya. Segalanya urung. Kau lebih memilih melihat langsung ke dalam.

Setelah sampai di depan pintu, Riya masuk sendiri. menyalakan lampu. Lalu kau melihat dua orang, yang kau kira itu adalah kedua orang tua Riya. Dalam dada, ingin sekali kau menyapa dan meminta restu. Tetapi, kau sangat canggung.

”Itu kedua orang tuaku,” ucap Riya datar sambil menunjuk posisi duduk kedua orang tuanya.

”Boleh aku salim?”

”Tidak perlu. Karena mereka sudah mati. Aku yang membunuh mereka.” Tiba-tiba sesuatu yang pekat menggerogoti tenggorokanmu.

”Kenapa kau bunuh?”

”Mereka tiada henti bertengkar, dan aku jadi sasarannya.” (*)

 

Annuqayah Lubangsa, 20.07.23/08.45

 

*) Kelahiran Gedangan, Sukogidri, Ledokombo, Jember. Alumnus MTs Nurul Mannan, SMA Annuqayah, dan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep. Selama di Pesantren Annuqayah aktif di Komunitas Penulis Kreatif (KPK)-Iksaj, Komunitas Cinta Nulis (KCN)-Lubsel, Lesehan Pojok Sastra (LPS)-Lubangsa serta pemangku Komunitas Sangkar Kata.

Editor : Berta SL Danafia
#sumenep #seni #riya #cerpen #radar madura