Oleh A. YANI
TOTOSAN merupakan nama desa di Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Menurut cerita orang-orang zaman dahulu, penamaan Desa Totosan berawal dari seringnya daerah tersebut dijadikan tempat untuk memutuskan sebuah perkara oleh pemerintahan Arya Wiraraja. Entah benar apa tidak, Totosan memang dikenal memiliki banyak pendahulu yang bijaksana. Hal lain yang menarik dari Desa Totosan adalah adanya sebuah kampung di desa tersebut, Kampung Ares Daja namanya. Salah satu kampung di Desa Totosan yang dihuni oleh gadis-gadis remaja yang aura kecantikan mereka tidak seperti biasanya, cantik rupawan dengan perilaku santun dan dermawan. Sehingga, banyak warga sekitar atau warga dari luar menyebut Kampung Ares Daja dengan sebutan Kampung Bidadari.
Banyak sekali pemuda yang berlomba-lomba memenangkan hati para gadis Kampung Ares Daja. Selain karena kecantikan alami mereka, para pemuda juga terpikat pada perilaku dan keanggunan sikap yang mereka miliki. Tak heran, karena para orang tua di kampung tersebut mengedepankan pendidikan karakter dan penguatan agama. Sudah menjadi kebiasaan, selepas tamat sekolah pertama, anak perempuan di Kampung Ares Daja dikirim ke pesantren untuk menimba ilmu agama.
Dalam perspektif Islam, dilansir dari Wikipedia, bidadari adalah salah satu penghuni surga. Tubuh mereka sangat indah, begitu manis serta cantik nan jelita dan terbuat dari campuran antara za’faran, misik, anbar dan kafur. Para bidadari tersebut diciptakan tanpa kelahiran dalam kondisi gadis perawan. Mereka tinggal di kemah-kemah di dalam surga bersama dengan suaminya yang juga penghuni surga. Adapun bidadari diciptakan oleh Allah untuk para lelaki syahid yang meninggal berjuang di jalan Allah.
Dalam perspektif budaya Indonesia, gambar bidadari ditemukan dalam beberapa kuil/candi dari zaman Jawa Kuno, sekitar masa Wangsa Sailendra sampai Kerajaan Majapahit. Biasanya gambar mereka tidak ditemukan sebagai motif penghias, tetapi sebagai ilustrasi sebuah cerita dalam wujud relief, contohnya di Borobudur, Mendut, Prambanan, Plaosan, dan Penataran. Di Borobudur, bidadari digambarkan sebagai perempuan kahyangan yang cantik, dan digambarkan dalam posisi berdiri maupun terbang, biasanya memegang teratai yang mekar, menaburkan kelopak bunga, atau menenun pakaian kahyangan yang mampu membuat mereka terbang. Candi Mendut di dekat Borobudur menggambarkan sekelompok dewata, makhluk surgawi yang beterbangan di kahyangan, termasuk bidadari.
Karena penasaran, penulis berusaha menelusuri kira-kira apa yang menjadi cikal bakal adanya Kampung Bidadari, mulai dari kebiasaan dan ritual warga setempat sehingga memiliki keturunan yang cantik rupawan. Dari penelusuran yang penulis lakukan, ternyata semua itu tidak lepas dari kebiasaan para orang tua, terutama orang tua perempuan yang ketika hamil membaca surah Maryam atau surah Yusuf.
Surah Maryam adalah surah ke-19 dalam Al-Qur’an yang tergolong dalam surah Makkiyah. Surah ini berjumlah 98 ayat. Dinamakan surah Maryam sebab di dalam surah tersebut menceritakan kisah Siti Maryam yang sangat ajaib, serta ditunjukkannya kekuasaan Allah SWT.
Dilansir pada buku Tafsir Al-Azhar oleh Hamka, keistimewaan dari isi surah Maryam ialah kisah kelahiran dua orang nabi Allah, yaitu Yahya dan Isa Al-Masih yang ajaib dengan menunjukkan kekuasaan Allah SWT. Dalam surah Maryam terdapat doa Nabi Zakaria yang memohon diberi anak yang saleh dan diridai.
Selain ritual secara Islam, warga setempat juga melaksanakan upacara adat tujuh bulanan atau dikenal dengan istilah pelet kandhung. Upacara pelet kandhung merupakan salah satu upacara tradisional masyarakat Madura yang sangat unik, karena di dalamnya terdapat sesaji-sesaji, serangkaian ritual, dan pantangan-pantangan yang harus dilakukan, baik oleh perempuan yang hamil (calon ibu) maupun oleh keluarganya.
Salah seorang warga setempat, Ibu Maniyah mengatakan bahwa selain melakukan tradisi baca surah Yusuf dan surah Maryam, warga juga melaksanakan selametan tujuh bulanan atau disebut pelet kandhung. Tidak sampai di situ, ada beberapa pantangan lain yang dilakukan orang perempuan yang sedang hamil supaya keturunan yang lahir menjadi anak yang saleh salihah dan memiliki paras cantik dan ganteng. Pantangan yang dimaksud seperti, ibu hamil dilarang mengonsumsi buah kedondong, nanas, dan salak. Buah ini tidak boleh dikonsumsi karena dipercaya dapat menyebabkan keguguran. Kedondong dan nanas merupakan dua buah yang paling dihindari warga sekitar.
Selain buah-buahan ada pantangan lain yang tidak boleh dilanggar seperti membunuh binatang, menghina, dan membenci orang, terlebih seseorang yang memiliki kekurangan dalam fisik (cacat fisik), mengecat rambut dan kuku, tidak boleh membatin orang dan lain sebagainya. Jika pantangan tersebut dilanggar, bisa berikibat buruk pada calon bayi yang akan dilahirkan.
Tidak heran jika anak gadis dan remaja warga Kampung Ares Daja menjadi pribadi-pribadi idaman dan kebanggaan orang tua. Selain karena proses semasa kehamilan dijaga betul, setelah lahir pun para orang tua memastikan putra putrinya memperoleh pendidikan agama yang baik dan benar.
Lukmanul Afif, warga pendatang yang mempersunting gadis Kampung Ares Daja, Totosan, Batang-Batang, menceritakan alasan memilih takdir menikah dengan salah seorang gadis Kampung Bidadari selain karena kecantikannya yang hakiki, juga karena perilakunya yang sabar dan penyayang dan tidak mudah tersulut emosi ketika didera badai masalah. Terbukti, munuju 8 tahun usia pernikahan, rumah tangganya masih harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah.
Kampung Bidadari, kampung yang layak dijadikan destinasi keberagaman budaya di Indonesia. Kampung yang tidak hanya berfokus pada kecantikan rupa semata, tetapi konsisten secara temurun untuk mencetak keturunan yang indah dalam perilaku. Memiliki kelembutan hati bak Siti Maryam Ra. Menenteramkan rasa bak Nabiyullah Yusuf As. (*)
*)Tenaga pendidik di SDK Sang Timur, Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti