Oleh Achmad Amzeri & Surokim As
MAHASISWA S-1 yang masuk perguruan tinggi (perti) tahun 2026 secara normal akan lulus tahun 2030. Selama mereka mengikuti perkuliahan, lingkungan termasuk dunia kerja juga akan terus berubah. Kecerdasan buatan atau AI diyakini ikut mengubah banyak dalam aktivitas manusia. Di antaranya bagaimana cara manusia belajar, mengolah informasi, menghasilkan karya, dan mengambil keputusan dan juga menjawab berbagai hal. Situasi ini tentu mengundang pertanyaan mendasar bagi perguruan tinggi, khususnya para pembelajar. Bagaimana dan pengalaman belajar seperti apa yang perlu kita siapkan agar mahasiswa bisa adaptif, mampu menghadapi perubahan, relevan, kompeten, dan bisa memberi manfaat bagi masyarakat.
Laporan Pekerjaan Masa Depan Indonesia 2030 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Mei 2026 memberi bahan refleksi penting. Survei terhadap 278 responden dari 243 perusahaan tersebut menunjukkan perubahan kebutuhan keterampilan. Teknologi AI dan big data membawa dampak dan ekspektasi peningkatan tertinggi menuju 2030, yakni sebesar 83 persen. Urutan selanjutnya adalah berpikir kreatif sebesar 74 persen.
Angka tersebut menggambarkan ekspektasi dalam survei, sehingga perlu dibaca sesuai cakupannya. Laporan juga mengakui keterbatasan keterwakilan wilayah dan sektor. Meskipun demikian, pesannya cukup jelas. Perguruan tinggi perlu mempertemukan penguasaan teknologi dengan kemampuan berpikir, beradaptasi, dan bekerja bersama orang lain.
Baca Juga: UTM Gelar TMIC-4 2026, Perkuat Kolaborasi Riset untuk Masa Depan Berkelanjutan
Kurikulum yang Bergerak Bersama Perubahan
Pembaharuan kurikulum dapat dimulai dengan meninjau profil lulusan dan capaian pembelajaran. Setiap program studi perlu merumuskan kemampuan yang memungkinkan lulusan memahami persoalan bidangnya, menggunakan teknologi secara tepat, serta mempertanggungjawabkan keputusan. Rumusan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam materi, pengalaman belajar, dan penilaian yang saling terhubung.
Literasi AI perlu hadir secara kontekstual dalam berbagai disiplin. Dalam praktiknya bisa saja mahasiswa komunikasi mempelajari pengaruh konten buatan mesin terhadap kepercayaan publik. Mahasiswa pertanian menguji kesesuaian rekomendasi berbasis data dengan keadaan lahan. Mahasiswa ekonomi menilai asumsi di balik proyeksi usaha. Pengetahuan bidang studi, membantu mahasiswa mengenali jawaban yang masuk akal dan kesimpulan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kurikulum juga perlu menyediakan ruang perjumpaan antardisiplin. Persoalan pangan, kesehatan, lingkungan, sosial, dan pelayanan publik memiliki dimensi yang saling berkaitan. Melalui proyek bersama, mahasiswa belajar memahami keterbatasan pendekatannya sendiri serta menghargai sumbangan pengetahuan dari bidang lain. Kampus dapat memberi pengakuan akademik yang jelas terhadap proses dan hasil pembelajaran tersebut.
Praktik ini sudah dikembangkan di Universitas Trunodjoyo Madura dengan menjadikan kebutuhan masyarakat sekitar sebagai basis pengembangan keilmuan, pembelajaran, dan tridarma. Produksi jagung, garam, pengolahan pangan, pemasaran usaha lokal, dan layanan desa menawarkan persoalan yang dapat dipelajari bersama. Sebagai usulan pembelajaran, mahasiswa lintas program studi dapat mengembangkan pencatatan produksi bagi kelompok usaha, kemudian menguji manfaatnya bersama pengguna.
Baca Juga: Dihadiri Pimpinan Komisi X DPR RI, FH UTM Gelar FGD Bahas Kodifikasi Sistem Pendidikan Nasional
Proyek semacam ini membutuhkan pendampingan dosen dan keterlibatan mitra sejak perumusan masalah. Mahasiswa berlatih mengumpulkan data, menyusun alternatif, serta memperbaiki rancangan berdasarkan pengalaman lapangan. Keberhasilan belajar dapat dinilai melalui ketepatan analisis, kualitas kerja sama, dan kegunaan hasilnya. Dengan demikian, keterhubungan kampus dengan dunia kerja tumbuh melalui pengalaman yang memiliki kedalaman akademik.
Perubahan penilaian menjadi bagian penting dari pembaruan tersebut. Ketika AI membantu menyusun tulisan, dosen perlu menelusuri proses berpikir mahasiswa melalui diskusi, presentasi lisan, catatan pengerjaan, dan pemeriksaan sumber. Mahasiswa menjelaskan bantuan teknologi yang digunakan serta alasan menerima atau mengoreksi hasilnya. Praktik ini melatih keterbukaan dan tanggung jawab intelektual.
Karakter Tumbuh melalui Pengalaman
Kesiapan menghadapi masa depan juga bertumpu pada pendidikan karakter. Kemampuan menggunakan AI membutuhkan kejujuran untuk mengakui bantuan yang diterima, kehati-hatian dalam mengolah informasi, dan kepedulian terhadap orang yang terdampak. Nilai tersebut perlu mendapat tempat dalam keseharian kampus melalui keteladanan, aturan yang konsisten, dan kesempatan berlatih mengambil keputusan.
Bidang kemahasiswaan memiliki peran strategis dalam proses ini. Organisasi mahasiswa bisa menjadi ruang belajar kepemimpinan dan tanggung jawab. Saat menyusun program, mengelola anggaran, atau menyelesaikan perbedaan pendapat, mahasiswa menghadapi konsekuensi nyata dari pilihannya. Pendampingan yang baik membantu mereka menghubungkan pengalaman tersebut dengan integritas, keadilan, dan penghargaan terhadap sesama.
Baca Juga: Tiga Nama Lolos Penjaringan Pilrek UTM, Senat Tetapkan Prof Safi’, Abdur Rohman, dan Kukuh Winarso
Kegiatan pengabdian masyarakat juga dapat memperkuat empati. Mahasiswa belajar mendengarkan kebutuhan warga sebelum menawarkan solusi. Mereka memahami bahwa kecanggihan sebuah aplikasi perlu disertai kemudahan penggunaan dan kesesuaian dengan kebiasaan masyarakat. Kepekaan ini penting agar inovasi memperoleh arah sosial yang jelas dan masyarakat memiliki ruang menentukan perubahan yang dibutuhkan.
Pembelajar sebagai Subjek
Perkembangan AI yang pesat membutuhkan antisipasi yang lebih responsif. Dalam hal ini, AI adalah alat dan menusia adalah subjek pembelajar. Penguatan peran sebagai subjek ini harus menjadi fokus sehingga pendidikan karakter harus selalu terhubung dengan kegiatan akademik. Kampus dapat meminta mahasiswa merefleksikan dilema yang ditemui selama proyek, cara menyelesaikan konflik, serta tanggung jawab terhadap data masyarakat. Dosen dan pembina kemahasiswaan mendampingi refleksi tersebut. Penilaian memperhatikan perilaku yang dapat diamati, termasuk kejujuran pelaporan, pemenuhan komitmen, dan kesediaan menerima koreksi.
Kesempatan berkembang juga harus menjangkau mahasiswa dengan kondisi ekonomi berbeda. Akses perangkat, koneksi, dan pendampingan memengaruhi kemampuan mereka memanfaatkan teknologi. Fasilitas bersama serta pelatihan yang mudah diikuti perlu menjadi bagian dari kebijakan kampus. Perhatian terhadap kesehatan mental dan dukungan sosial membantu mahasiswa menghadapi tekanan perubahan secara lebih sehat.
Baca Juga: MG MGS6 EV Siap Meramaikan Persaingan SUV Listrik di Indonesia, Harga Awal Rp 550 Jutaan
Menyiapkan Manusia Pembelajar
Pelaksanaan agenda ini membutuhkan dosen yang terus belajar dan tata kelola yang mendukung. Program studi perlu meninjau pengalaman pembelajaran secara berkala melalui masukan mahasiswa, alumni, masyarakat, dan mitra kerja. Pusat karier dapat menerjemahkan perubahan kebutuhan pekerjaan menjadi pendampingan pilihan belajar dan pengembangan portofolio sejak awal perkuliahan.
Ukuran keberhasilannya perlu mencakup kemampuan lulusan beradaptasi, mutu kontribusi kepada masyarakat, serta integritas dalam bekerja. Informasi tersebut dapat menjadi bahan perbaikan kurikulum dan program kemahasiswaan secara berkelanjutan. Hubungan dengan alumni pun membuka kesempatan pembelajaran lanjutan ketika tuntutan profesi berubah.
Horizon pendidikan tinggi di era AI bertumpu pada manusia yang mampu belajar, menimbang, dan bertindak dengan tanggung jawab. Kurikulum yang relevan memberi bekal pengetahuan serta pengalaman menyelesaikan persoalan. Pendidikan karakter membantu mahasiswa menentukan tujuan dan mempertimbangkan akibat tindakannya. Pertemuan keduanya perlu hadir dalam kehidupan kampus hari ini, agar lulusan dapat ikut membentuk masa depan yang lebih bermakna bagi masyarakat. Dari sinilah kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi perlu terus kita rawat. (*)
Editor : Hera Marylia