OLEH: Prof. Dr. ahmad muhlis, MA*
ALLAH SWT berfirman dalam QS. Yunus ayat 58: قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itumereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang merekakumpulkan.” Ayat ini memberikan fondasi filosofis bahwakegembiraan dalam Islam bukan sesuatu yang harus dicurigaiatau selalu ditempatkan sebagai ekspresi duniawi. Al-Qur’an justru mengarahkan manusia agar kegembiraan memilikiorientasi transcendental, bukan semata-mata karenamemperoleh sesuatu yang bersifat material, tetapi karenamenyadari adanya karunia dan rahmat Allah dalamkehidupan.
Secara epistemologis, ayat ini menggeser pusatkegembiraan manusia dari kepemilikan menujukebermaknaan. Manusia modern sering mengukurkebahagiaan melalui apa yang dimiliki, seperti harta, jabatan, popularitas, prestasi, dan pengakuan sosial. Al-Qur’an menawarkan perspektif yang berbeda bahwa sesuatu yang paling layak dirayakan justru adalah fadhlullah dan rahmatullah. Artinya, kegembiraan tidak kehilangan tempatdalam spiritualitas Islam, tetapi harus dibebaskan dariorientasi materialistik. Seorang anak yang berhasil menghafalAl-Qur’an, misalnya, patut disambut dengan kegembiraanbukan semata karena prestasi akademiknya, tetapi karenakeberhasilan tersebut dipandang sebagai karunia Allah yang harus disyukuri dan dipertahankan dengan amal.
Dalam konteks Maulid Nabi Muhammad SAW, ayat inisering digunakan oleh para ulama sebagai salah satu dasarumum untuk menjelaskan kebolehan mengekspresikankegembiraan atas rahmat Allah. Rasulullah SAW sendirimerupakan salah satu rahmat Allah yang paling agung bagiumat manusia. Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 107: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ “Kami tidak mengutusengkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”Dengan perspektif ini, kegembiraan dalam memperingatiMaulid dapat dipahami sebagai ekspresi syukur atas hadirnyaRasulullah, selama kegembiraan tersebut diwujudkan melaluiaktivitas yang bernilai ibadah dan tidak bertentangan denganprinsip-prinsip syariat.
Ekspresi kegembiraan keagamaan juga memiliki fungsipenting dalam membangun kohesi sosial dan solidaritaskolektif. Ketika masyarakat berkumpul dalam Maulid, membaca Al-Qur’an, bershalawat, mendengarkan sirah Nabi, berbagi makanan, menyantuni anak yatim, atau membantumasyarakat yang membutuhkan, kegembiraan individual berubah menjadi energi sosial. Sebuah masyarakat tidakhanya dipersatukan oleh kepentingan ekonomi, tetapi juga oleh nilai, simbol, dan pengalaman spiritual bersama. Dalamkonteks ini, Maulid dapat menjadi ruang reproduksi nilai, generasi tua menyampaikan kecintaan kepada Nabi kepadagenerasi muda, sementara generasi muda belajar bahwakegembiraan beragama harus melahirkan kepedulian sosial.
Contohnya dapat ditemukan dalam kehidupan pesantrendan masyarakat. Ketika sebuah pesantren menyelenggarakanMaulid kemudian mengisinya dengan pembacaan shalawat, kajian akhlak Nabi, pemberian santunan kepada anak yatim,fakir miskin, makan bersama, dan penggalangan bantuan bagiwarga yang membutuhkan, maka kegembiraan tidak berhentipada simbol. Ia berubah menjadi modal sosial dan spiritual. Demikian pula ketika keluarga bersyukur atas kelahiranseorang anak dengan mengadakan doa bersama dan berbagikepada tetangga, kegembiraan tersebut memperoleh dimensisosial karena kebahagiaan pribadi dikonversikan menjadikebahagiaan bersama.
Karena itu, QS. Yunus ayat 58 mengajarkan bahwapersoalannya bukan apakah seorang Muslim bolehbergembira, melainkan apa yang menjadi sumber dan arahkegembiraannya. Kegembiraan yang bersumber dari rahmatAllah akan melahirkan Syukur, syukur melahirkankepedulian, dan kepedulian melahirkan kemanfaatan sosial. Sebaliknya, kegembiraan yang hanya berpusat pada ego dan kepemilikan mudah berubah menjadi kesombongan dan kompetisi sosial. Dalam konteks Maulid, kegembiraan yang ideal adalah kegembiraan yang menghidupkan kembalikecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mendorong umatuntuk meneladani akhlaknya.
Dengan demikian, Maulid dapat dibaca sebagaitransformasi kegembiraan menjadi kesadaran. Kita bergembira karena mengenang rahmat Allah, tetapikegembiraan itu tidak berhenti pada perasaan, ia harusmelahirkan perubahan dalam cara kita beragama dan bermasyarakat. Semakin seseorang mengenal Rasulullah, semestinya semakin lembut akhlaknya, semakin luaskepeduliannya, semakin kuat persaudaraannya, dan semakinbesar manfaat yang diberikan kepada sesama. Itulah maknaQS. Yunus ayat 58: kegembiraan yang paling bernilaibukanlah kegembiraan karena banyaknya sesuatu yang berhasil kita kumpulkan, melainkan kegembiraan karenamenyadari rahmat Allah yang kemudian kita bagikan kembalikepada kehidupan.
*)Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan
Editor : Dafir.