Oleh: Muhlis*)
Allah SWT berfirman dalam QS. Yunus ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
”Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Ayat ini memberikan fondasi filosofis bahwa kegembiraan dalam Islam bukan sesuatu yang harus dicurigai atau selalu ditempatkan sebagai ekspresi duniawi. Al-Qur’an justru mengarahkan manusia agar kegembiraan memiliki orientasi transcendental, bukan semata-mata karena memperoleh sesuatu yang bersifat material, tetapi karena menyadari adanya karunia dan rahmat Allah dalam kehidupan.
Secara epistemologis, ayat ini menggeser pusat kegembiraan manusia dari kepemilikan menuju kebermaknaan. Manusia modern sering mengukur kebahagiaan melalui apa yang dimiliki, seperti harta, jabatan, popularitas, prestasi, dan pengakuan sosial.
Al-Qur’an menawarkan perspektif yang berbeda bahwa sesuatu yang paling layak dirayakan justru adalah fadhlullah dan rahmatullah. Artinya, kegembiraan tidak kehilangan tempat dalam spiritualitas Islam, tetapi harus dibebaskan dari orientasi materialistik.
Seorang anak yang berhasil menghafal Al-Qur’an, misalnya, patut disambut dengan kegembiraan bukan semata karena prestasi akademiknya, tetapi karena keberhasilan tersebut dipandang sebagai karunia Allah yang harus disyukuri dan dipertahankan dengan amal.
Baca Juga: Polres Pamekasan Kerahkan Banyak Penyidik, Untuk Usut Kasus Penipuan Oknum Pegawai BRI
Dalam konteks Maulid Nabi Muhammad SAW, ayat ini sering digunakan oleh para ulama sebagai salah satu dasar umum untuk menjelaskan kebolehan mengekspresikan kegembiraan atas rahmat Allah. Rasulullah SAW sendiri merupakan salah satu rahmat Allah yang paling agung bagi umat manusia.
Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
”Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Dengan perspektif ini, kegembiraan dalam memperingati Maulid dapat dipahami sebagai ekspresi syukur atas hadirnya Rasulullah, selama kegembiraan tersebut diwujudkan melalui aktivitas yang bernilai ibadah dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.
Ekspresi kegembiraan keagamaan juga memiliki fungsi penting dalam membangun kohesi sosial dan solidaritas kolektif. Ketika masyarakat berkumpul dalam Maulid, membaca Al-Qur’an, bershalawat, mendengarkan sirah Nabi, berbagi makanan, menyantuni anak yatim, atau membantu masyarakat yang membutuhkan, kegembiraan individual berubah menjadi energi sosial.
Masyarakat tidak hanya dipersatukan oleh kepentingan ekonomi, tetapi juga oleh nilai, simbol, dan pengalaman spiritual bersama. Dalam konteks ini, Maulid dapat menjadi ruang reproduksi nilai, generasi tua menyampaikan kecintaan kepada Nabi kepada generasi muda, sementara generasi muda belajar bahwa kegembiraan beragama harus melahirkan kepedulian sosial.
Contohnya dapat ditemukan dalam kehidupan pesantren dan masyarakat. Ketika sebuah pesantren menyelenggarakan Maulid, kemudian mengisinya dengan pembacaan shalawat, kajian akhlak Nabi, pemberian santunan kepada anak yatim, fakir miskin, makan bersama, dan penggalangan bantuan bagi warga yang membutuhkan, maka kegembiraan tidak berhenti pada simbol. Ia berubah menjadi modal sosial dan spiritual.
Demikian pula ketika keluarga bersyukur atas kelahiran seorang anak dengan mengadakan doa bersama dan berbagi kepada tetangga. Kegembiraan tersebut memperoleh dimensi sosial karena kebahagiaan pribadi dikonversikan menjadi kebahagiaan bersama.
Baca Juga: UIN Madura Percepat Penguatan Kelembagaan
Karena itu, QS. Yunus ayat 58 mengajarkan bahwa persoalannya bukan apakah seorang Muslim boleh bergembira, melainkan apa yang menjadi sumber dan arah kegembiraannya. Kegembiraan yang bersumber dari rahmat Allah akan melahirkan Syukur, syukur melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan kemanfaatan sosial.
Sebaliknya, kegembiraan yang hanya berpusat pada ego dan kepemilikan mudah berubah menjadi kesombongan dan kompetisi sosial. Dalam konteks Maulid, kegembiraan yang ideal adalah kegembiraan yang menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mendorong umat untuk meneladani akhlaknya.
Dengan demikian, Maulid dapat dibaca sebagai transformasi kegembiraan menjadi kesadaran. Kita bergembira karena mengenang rahmat Allah, tetapi kegembiraan itu tidak berhenti pada perasaan, ia harus melahirkan perubahan dalam cara kita beragama dan bermasyarakat.
Semakin seseorang mengenal Rasulullah, semestinya semakin lembut akhlaknya, semakin luas kepeduliannya, semakin kuat persaudaraannya, dan semakin besar manfaat yang diberikan kepada sesama. Itulah makna QS. Yunus ayat 58: kegembiraan yang paling bernilai bukanlah kegembiraan karena banyaknya sesuatu yang berhasil kita kumpulkan, melainkan kegembiraan karena menyadari rahmat Allah yang kemudian kita bagikan kembali kepada kehidupan.
*) Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam, Direktur Utama IBS PKMKK
Editor : Anis Billah