Jurnalis Idealis Tidak Akan Miskin, Catatan Perjalanan Saya Menjaga Idealisme di Dunia Jurnalistik

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 07:37 WIB
Khairul Umam
Khairul Umam

Oleh Khairul Umam*

 

Ada satu keyakinan yang selalu saya pegang selama menjalani profesi sebagai jurnalis: jurnalis yang menjaga idealismenya tidak akan pernah miskin.

HARI ini saya mengangkat tema tentang jurnalis idealis. Bagi saya, jurnalis yang memegang teguh idealismenya pasti akan mampu bertahan (survive). Tema ini saya pilih sebagai penegasan bahwa idealisme harus mulai dibangun sejak masih duduk di bangku kuliah.

Jurnalis adalah profesi mulia, bukan profesi pengemis. Saya berharap siapa pun yang membaca tulisan ini dapat kembali mengingat bahwa idealisme merupakan fondasi utama yang harus dijaga.

Banyak anggapan bahwa jurnalis idealis akan berujung miskin secara materi. Namun, asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Idealisme tetap memiliki hati, memiliki harga diri, dan itulah yang paling penting.

Baca Juga: HUT Ke-27 JPRM, Ketua Komisi IV DPRD Sumenep: Terdepan Sajikan Informasi Faktual

Idealisme ibarat berlian. Meski dibuang, dilempar, bahkan ditenggelamkan, ia tetap memiliki nilai. Nilai itulah yang ingin kami bangun. Namun, dalam konteks tahun 2026, banyak yang mulai melupakan bagaimana idealisme seharusnya tertanam dalam jati diri seorang jurnalis. Saya berharap, khususnya di lingkungan Jawa Pos Radar Madura, para jurnalis pemula benar-benar memegang teguh prinsip tersebut.

Saya masih ingat ketika kali pertama diterima di Radar Madura. Saat itu saya tidak menggunakan ijazah, melainkan Surat Keputusan (SK) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Sebab, ketika itu saya masih menjabat sebagai pimpinan umum LPM Semesta Unira.

Perjalanan saya dimulai dengan penuh keterbatasan. Saya bahkan harus meminjam sepeda motor milik Mas Faridi, anggota DPRD Pamekasan yang menjabat sebagai Sekretaris Komisi II dari Fraksi PKB. Dari situlah jalan saya sebagai jurnalis mulai terbuka, meski tidak selalu berjalan mulus.

Dalam praktiknya, saya pernah dihadapkan pada situasi yang menguji idealisme. Saat bertugas di Pamekasan, saya harus menghadapi dinamika peralihan kepemimpinan di Kota Gerbang Salam. Saya pernah dipanggil salah satu pejabat tinggi untuk peristiwa hilangnya beberapa barang di kantor OPD.

Baca Juga: Rumah yang Melahirkan Banyak Rumah

Saat itu insting saya bertanya: apakah berita ini murni untuk publik atau sekadar menjadi alat. Jika ini dimuat, berani tidak yang bersangkutan membuat laporan ke polres? Akhirnya terjawab, kasus tersebut tidak ingin dibawa ke ranah hukum. Justru ada indikasi bahwa isu tersebut hanya untuk meloloskan anggaran pengadaan hingga ratusan juta rupiah.

Dari situ saya belajar bahwa berita bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Karena itu, jurnalis harus tetap kritis dan profesional agar tidak menjadi alat kepentingan pihak tertentu.

Pengalaman lain saya dapatkan saat bertugas di Sampang. Saya menulis tentang tempat ngaji di Kecamatan Omben yang kondisinya sangat memprihatinkan. Mukena sudah lusuh, sementara perlengkapan belajar masih sangat sederhana.

Berita yang ditulis bentuk feature itu ternyata menggugah banyak pihak. Dari empat kabupaten, yakni Pamekasan, Sampang, Bangkalan, dan Sumenep, banyak pihak yang tergerak untuk membantu. Mulai dari Al-Qur’an hingga perlengkapan ibadah.

Baca Juga: Apple Perkuat Keamanan iPhone Lewat iOS 26.6, Tambal Kerentanan di Siri, Wi-Fi, WebKit hingga Kernel yang Berpotensi Disalahgunakan

Beberapa tokoh yang turut berkontribusi antara lain politikus Demokrat yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Pamkasan, Ismail. Bahkan, pihak Kemenag turut mengawal penyaluran bantuan agar tepat sasaran.

Dari pengalaman tersebut, saya semakin yakin bahwa idealisme bukan hanya soal menolak uang atau kepentingan. Idealisme adalah tentang menyajikan fakta secara jujur, melihat realitas secara utuh, dan menghadirkan kebenaran tanpa rekayasa.

Profesi jurnalis adalah profesi yang menuntut mental baja. Hujan, panas, petir, bahkan risiko di lapangan adalah hal biasa. Saya pernah tetap berangkat liputan di tengah hujan deras demi sebuah informasi penting. Semua itu membentuk mental yang kuat.

Alhamdulillah, profesi ini tidak hanya membentuk mental saya, tetapi juga membuka banyak jalan. Saya bisa membangun relasi, menulis buku tentang sekolah jalanan, serta mengembangkan usaha yang berkaitan dengan media.

Karena itu, saya ingin menegaskan: jurnalis idealis tidak akan miskin. Mungkin bukan selalu dalam bentuk materi, tetapi dalam nilai, relasi, pengalaman, dan kebermanfaatan. Ke depan, saya berharap semangat idealisme ini tidak tenggelam oleh pragmatisme. Jangan sampai berita hanya menjadi komoditas—ditulis hari ini, lalu hilang karena ditawar sejumlah uang.

Baca Juga: Tetap Jadi Media Cetak Lokal yang Kuat!

Jurnalis idealis tidak akan miskin. Sebab, kekayaan seorang jurnalis bukan hanya diukur dari materi, tetapi dari nilai yang ia perjuangkan. Kepercayaan yang ia bangun, dan manfaat yang ia tinggalkan. Idealisme jurnalistik adalah komitmen teguh wartawan dan media massa untuk memprioritaskan kebenaran.

Ashadi Siregar menekankan bahwa idealisme pers berakar pada pelaksanaan standar moral dan kebebasan pers. Media massa ideal harus berfungsi sebagai institusi kemasyarakatan yang menyuarakan kepentingan warga demi mewujudkan masyarakat madani.

Sementara itu, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menjelaskan bahwa dalam prinsip jurnalisme, komitmen utama idealisme adalah pencarian kebenaran dan kewajiban untuk bersikap independen dari pihak yang diberitakan, sekaligus menjadi forum bagi kritik dan komentar publik.

F. Wibisono mengaitkannya dengan hakikat pers yang harus netral dan objektif, di mana jurnalis ideal harus berupaya menyajikan informasi tanpa memihak demi menjaga kepercayaan masyarakat. Jangan biarkan idealisme tenggelam oleh pragmatisme. (*/han)

*)Ketua AJP/Mantan Jurnalis JPRM

Editor : Hera Marylia Damayanti
jurnalis idealis tidak akan miskin kritis dan profesional Idealisme jurnalistik