Oleh Moh. Subhan*
”Untuk menjadi orang besar itu mudah. Keluarlah dari Radar Madura, kamu akan langsung diperhitungkan dan mendapatkan posisi penting.” Begitu kelakar seorang teman di sela obrolan kami. Kami pun tertawa. Hehehe.
SELAMAT pagi. Terima kasih masih setia membaca Jawa Pos Radar Madura.
Ada satu hal yang tidak pernah berubah meski zaman terus bergerak: setiap orang selalu memiliki tempat untuk pulang. Bagi sebagian orang, tempat itu adalah sekolah, kampus, atau kantor pertama. Bagi saya, salah satu tempat pulang itu adalah Radar Madura.
Saya bergabung di Radar Madura pada September 2012. Hingga hari ini, kliping koran berisi panggilan tes wawancara masih saya simpan. Bukan sekadar dokumen lama. Melainkan, pengingat sebuah perjalanan yang memberi banyak pelajaran dalam hidup saya.
Kalau tidak salah ada tujuh orang. Selain saya, dua orang masih bertahan. Yakni, Hendriyanto yang saat ini diberi amanah sebagai Pemred radarmadura.id dan Herivia Yuvi di divisi Pemasaran Biro Sumenep.
Baca Juga: Tetap Jadi Media Cetak Lokal yang Kuat!
Saat itu Radar Madura sudah menjadi salah satu media arus utama di Pulau Garam. Bergabung di dalamnya tentu menjadi pengalaman yang berharga. Saya bertemu banyak orang, belajar dari para senior, dan mengenal dunia jurnalistik lebih dekat.
Yang paling saya syukuri, Radar Madura bukan sekadar membangun medianya sendiri. Tetapi, juga menjadi tempat belajar bagi banyak orang. Setelah menjalani proses di sini, para alumninya melanjutkan perjalanan di berbagai bidang. Ada yang menjadi anggota DPRD, penyelenggara pemilu, aparatur sipil negara, akademisi, tetap menjadi jurnalis, hingga berkarier di sektor swasta.
Saya menyebut beberapa nama yang saya kenal, seperti Harisandi Savari, Abrari Alzael, Akhmadi Yasid, Nadi Mulyadi, Sairil Munir, Ahmad Mustain Saleh, Amiruddin, Sukma Firdaus, Rusdy, dan Mohtazul Farid. Ada pula Hairul Umam, Ongky Arista UA, serta Prengky Wirananda yang tetap berkarya di dunia jurnalistik.
Daftar itu bukan untuk menunjukkan siapa yang paling berhasil. Bagi saya, itu hanya menggambarkan bahwa pengalaman di Radar Madura menjadi salah satu bekal yang berguna ketika masing-masing melanjutkan perjalanan kariernya.
Baca Juga: Koran, Jawa Pos Plus Radar Madura Tetap di Hati
Di lingkungan kami bahkan sering muncul sebuah candaan:
”Untuk menjadi orang besar itu mudah. Keluarlah dari Radar Madura, kamu akan langsung diperhitungkan dan mendapatkan posisi penting.”
Tentu itu hanya gurauan. Candaan yang lahir karena banyak alumni kemudian dipercaya mengemban peran di berbagai tempat.
Banyak orang mengira untuk masuk Radar Madura harus sudah pandai menulis. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Sebagian besar justru datang tanpa bekal yang istimewa. Bahkan, ada yang belum mampu menyusun kalimat dengan baik. Di Radar Madura mereka dididik, dibimbing, dan digembleng hingga mampu menjadi wartawan. Syaratnya hanya satu: tidak mudah menyerah.
Namun, jika mental belum siap menghadapi tekanan, ceritanya akan berbeda. Perjalanan di Radar Madura tentu tidak mudah.
Baca Juga: Menunggu Kematian Koran yang Tak Kunjung Datang
Tiga bulan pertama adalah masa yang paling menentukan. Hampir semua wartawan yang saya kenal pernah berada di titik ingin menyerah. Stres karena kesulitan mencari berita. Bingung menentukan sudut pandang. Merasa tulisannya belum cukup baik.
Jam kerja pun jauh dari kata ringan. Wartawan mulai bekerja sejak pagi hingga larut malam. Setelah berita selesai ditulis, mereka belum langsung pulang. Mereka menunggu redaktur selesai mengedit karena malam itu juga akan ada evaluasi.
Bagi wartawan baru, evaluasi harian sering kali menjadi momen yang menegangkan. Kesalahan yang sama tidak boleh terulang. Struktur tulisan, kelengkapan data, pemilihan narasumber, hingga penentuan angle dibahas satu per satu.
Saat itu mungkin terasa berat. Namun, setelah dijalani, saya menyadari bahwa proses itulah yang membentuk banyak wartawan menjadi lebih disiplin. Lebih teliti. Lebih siap menghadapi berbagai situasi di lapangan.
Baca Juga: Ketika Media Tak Lagi Menjadi yang Pertama
Karena itu, ketika para alumninya berpindah ke tempat lain, mereka tidak benar-benar memulai dari nol. Pengalaman bertemu banyak narasumber. Memahami ritme kerja. Menghadapi berbagai tantangan menjadi bekal yang cukup berarti.
Hal lain yang selalu saya ingat adalah budaya kerja di Radar Madura. Kami tidak pernah memandang media lain sebagai musuh. Mereka adalah mitra sekaligus teman seperjuangan di lapangan. Fokus kami sederhana: mengerjakan tugas sebaik mungkin.
Saya masih ingat suatu ketika Radar Madura mendapat kritik dari pihak lain. Teman-teman di lapangan sempat tersulut emosi. Namun, ketika persoalan itu dibawa ke jajaran pimpinan, jawabannya sederhana.
”Tidak perlu diladeni. Tidak ada untungnya.”
Selesai.
Dari situ saya belajar bahwa menjadi besar tidak harus dengan mengecilkan orang lain.
Ke depan, tantangan tentu semakin berat. Media cetak harus terus beradaptasi di tengah derasnya arus digital. Apalagi, sebagian kompetitornya kini justru diisi oleh orang-orang yang pernah belajar di tempat yang sama.
Baca Juga: Menjangkau Lebih Luas
Namun, saya percaya Radar Madura telah melewati begitu banyak fase. Semua itu bisa bertahan karena dedikasi banyak orang yang telah menyumbangkan tenaga. Pikiran. Dan waktunya demi menjaga kepercayaan pembaca.
Bagi saya, Radar Madura bukan sekadar tempat bekerja. Ia adalah tempat belajar, tempat bertumbuh, dan tempat banyak orang memulai perjalanan profesionalnya. Ke mana pun para alumninya melangkah, mereka membawa pengalaman yang pernah ditempa di rumah ini.
Selamat Hari Ulang Tahun Ke-27 Jawa Pos Radar Madura.
Semoga tetap menjadi rumah yang melahirkan banyak insan pers yang profesional dan terus memberi manfaat bagi masyarakat. Dan bangsa.
Jaya selalu. (*)
*)Pemred Jawa Pos Radar Madura
Editor : Hera Marylia Damayanti