Oleh Mohtazul Farid*
Tahun 2007, saya mengenal Jawa Pos Radar Madura. Saat masih semester 2 di Prodi Sosiologi, Universitas Trunodjoyo Madura (UTM). Koran dengan pelanggan tetap 8.000 lebih saat itu, mengajak sejumlah mahasiswa, salah satunya saya. Mengisi rubrik khusus anak muda. Keker Plus. Terbit setiap hari Minggu.
Dari pengalaman ini, saya tertarik bergabung dengan media cetak terbesar di Pulau Garam. 2011 saya lulus dari UTM dan menjadi bagian dari Radar Madura. 2019 saya mengundurkan diri. Menjadi dosen PNS hingga sekarang. Selama 8 tahun menjadi kuli tinta, banyak mendapat ilmu dan pengalaman. Sangat bermanfaat hingga sekarang.
Terdapat bekal didikan para senior yang membekas. Menjadi ilmu berharga dan berguna hingga saat ini. Pendidikan mental yang unik. Bayangkan, saat masuk sebagai wartawan, saya bersama 4 orang. Dua di antaranya alumni ilmu komunikasi. Empat orang teman seangkatan saya, tidak ada yang bertahan. Terseleksi secara alamiah. Dengan model pendidikan mental yang unik.
Baca Juga: Ketika Media Tak Lagi Menjadi yang Pertama
Salah satunya, tanpa pembekalan, harus bisa mendapatkan 3 berita sehari. Lengkap dengan foto dan narasumber yang jelas. Dari model seperti inilah, menjadikan wartawan pantang menyerah dan kreatif. Dari pencari berita (asal dapat). Hingga mencapai level pembuat berita (terencana). Tulisannya lebih tertata. Pemilihan kata sesuai kebutuhan dan kondisi. Disitulah, wartawan merasakan kata-kata dapat berbicara.
Yang paling berharga, wartawan memiliki relasi sosial yang luas dan setara. Terbiasa bekerja di bawah tekanan. Menjinakkan deadline. Harus bisa. Mampu bernegosiasi dengan baik, apabila, berita kita menyinggung orang lain. Semua itu, saya peroleh dari Jawa Pos Radar Madura. Saat ini saya menikmati barokah tersebut. Terima kasih para senior.
Sebagai bentuk kepedulian, saya berharap dan berdoa. Semoga di usianya yang ke-27 tahun ini, Jawa Pos Radar Madura, tetap menjadi media cetak lokal yang kuat. Bermanfaat untuk masyarakat Madura. Menjadi kontrol sosial yang konsisten.
Saya paham, mengelola media cetak di tengah kemajuan teknologi digital tidaklah mudah. Salut, Radar Madura dapat beradaptasi dengan perubahan sosial. Betapa banyak media cetak berhenti produksi akibat transformasi digital. Penurunan oplah dan pendapatan iklan. Perubahan perilaku pembaca.
Baca Juga: Sekolah Jurnalisme Bernama Radar Madura
Jurnal Dewan Pers mengungkapkan, ada puluhan media cetak tumbang dalam 10 tahun terakhir. Tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan media digital. Terbaru, Majalah Gatra. Mengakhiri masa cetaknya tahun 2024. Tidak berdaya dengan tekanan bisnis. Mei 2026, dewan pers merilis data. Ada 1.277 media massa yang terverifikasi faktual di Indonesia. 220 media cetak (termasuk Radar Madura). 809 media siber. 44 televisi dan 11 radio.
Radar Madura, tetaplah menjadi media cetak lokal yang kuat. Jinakkanlah beberapa tantangan ini. Misalnya, memperkuat back up, portal media online. Ini sudah dilakukan, ada Radar Madura online. Walaupun secara manajemen masih memprioritaskan cetak.
Salut, Radar Madura mampu beradaptasi menghadapi perubahan perilaku konsumen informasi. Ponsel sebagai alat untuk mengakses berita secara real-time. Radar Madura hadir bukan hanya menyajikan informasi terbaru, melainkan berita yang lebih mendalam. Radar Madura harus tetap bertahan. Sebagai sumber informasi yang akurat. Menjawab berita hoaks dan disinformasi yang tersebar dengan cepat di media daring.
Tetaplah sebagai media cetak yang kuat. Tidak hanya bertumpu pada penjualan koran dan iklan reguler. Harus mengembangkan model potensi penghasilan baru. Misalnya langganan digital, membangun membership yang kuat. Event pelatihan menulis. menerbitkan buku, layanan riset.
Baca Juga: Menunggu Kematian Koran yang Tak Kunjung Datang
Bahkan, jika memungkinkan, membuat jurnal yang memuat artikel karya akademik dosen. Jurnal is Magazine. Ini bisa menjadi peluang bisnis baru bagi Radar Madura. Perkembangan bisnis jurnal ilmiah sangat pesat saat ini. Konsumennya jelas. Para mahasiswa, guru, dan dosen. Ibarat iklan, biaya publikasi (Article Processing Charge) sangat mahal. Bergantung pada status akreditasi.
Akademisi sangat berkepentingan dengan jurnal. Selain untuk penyebaran hasil riset dan pengetahuan, menjadi satu indikator utama untuk kenaikan jabatan akademik, syarat kelulusan program magister dan doktor. Output penelitian yang dibiayai oleh negara. Ini hanya usul sih. Sebab, Radar Madura harus juga mengubah model bisnisnya agar tetap menjadi media cetak lokal yang kuat.
Menghadapi era media sosial (medsos), Radar Madura harus mampu mempertahankan independensi. Objektivitas dan standar etika jurnalistik. Sehingga, tetap menjadi sumber informasi yang kredibel dan tepercaya.
Tetaplah menjadi media cetak yang istimewa. Bersaing dalam kecepatan informasi sudah tidak memungkinkan bagi media cetak. Karena yang dihadapi adalah media online. Masyarakat yang melek digital sudah bisa upload peristiwa secara live. Bahkan, di pelosok desa, masyarakat dapat live peristiwa banjir di Facebook, di tengah genangan air yang mencapai leher.
Baca Juga: Menjangkau Lebih Luas
Berita Radar Madura tetap istimewa. Infografik yang eksklusif. Fokus pada analisis mendalam. Laporan investigasi secara periodik. Saat saya masih di Radar Madura, berita investigasi rutin setiap minggu. Biasanya, terbit hari Senin. Berita model seperti ini, tetap ditunggu oleh masyarakat. Misalnya, yang lagi hangat, kasus pelecehan anak di bawah umur di Sampang. Menjadi menarik, jika ada berita investigasi bersambung. Apalagi, diselipkan opini pakar. Depth reporting menjadi nilai tambah pengimbang berita cepat media sosial.
Media cetak tidak harus bersaing dengan media digital dalam hal kecepatan. Sebaliknya, media cetak perlu menegaskan keunggulannya sebagai penyedia informasi yang akurat, mendalam, dan tepercaya. Masa depan media bukan terletak pada pilihan antara cetak atau digital, melainkan kemampuan mengintegrasikan keduanya dalam satu ekosistem yang berpusat pada kebutuhan pembaca. Perusahaan media yang mampu menjaga kualitas jurnalistik, berinovasi dalam model bisnis, dan memanfaatkan teknologi secara bijak akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di era digital.
Hemat saya, untuk tetap bertahan, harus memperkuat konsep citizen journalism. Radar Madura membuka ruang penerimaan naskah berita dari masyarakat. Ini dapat membantu keterbatasan wartawan cetak. Mengikat emosional pembaca. Teknisnya, redaksi lebih paham. Selama ini, konsep citizen journalism, mayoritas masih fokus pada karya pribadi. Seperti opini, cerpen atau puisi.
Saat ini, sudah banyak media mengembangkan hybrid journalism. Misalnya CNN. Ada program iReport. Masyarakat dapat mengirim video, foto, dan laporan kejadian. Kemudian diverifikasi. Yang lolos digunakan dalam pemberitaan CNN. Kolaborasi antara wartawan profesional dan masyarakat. Peran masyarakat sebagai kontributor. Wartawan tinggal memverifikasi, medalami dan memformat berita sesuai aturan main. Model ini dapat diadopsi Radar Madura.
Baca Juga: JPRM, Jejak yang Tak Pernah Hilang
Jurnalisme warga mungkin efektif memperluas jangkauan liputan. Mempercepat Informasi. biaya lebih efisien. Ada Keterlibatan warga. Meningkatkan loyalitas pembaca. Tetap menjaga kredibel. Sebab, seluruh informasi melalui proses verifikasi dan penyuntingan oleh jurnalis profesional. Ini hanya usul, sebagai bagian kecil kepedulian, mantan jurnalis yang pernah dididik, digembleng di media kebanggaan masyarakat Madura ini.
Sebagai media cetak, Radar Madura tidak perlu bersaing dengan media digital dalam hal kecepatan. Yang dibutuhkan hanya penegasan kelebihannya. Penyedia informasi akurat, mendalam dan tepercaya. Masa depan media bukan terletak pada pilihan antara cetak atau digital, tetapi kemampuannya beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat.
Selamat ulang tahun ke-27 tahun. Tetap menjadi media lokal yang kuat dan bermanfaat. (*/han)
*)Mantan Korlip Jawa Pos Radar Madura. Dosen Sosiologi FISIB UTM
Editor : Hera Marylia Damayanti