Sekolah Jurnalisme Bernama Radar Madura

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 11:54 WIB
Anis Billah
Anis Billah

Oleh Anis Billah*

 

TAHUN ini, Jawa Pos Radar Madura genap berusia 27 tahun. Tentunya, sudah banyak cerita, pengalaman, dan kehidupan yang mewarnai perjalanan selama hampir tiga dekade terakhir. Sampai sekarang, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) masih dikenal sebagai media cetak terbesar di Madura.

Sejak lahir hingga sekarang, Radar Madura sudah banyak melahirkan sumber daya manusia (SDM) jurnalis yang profesional. Begitu juga karya jurnalistik yang diterbitkan,  mungkin tak terhitung jumlahnya.

Suatu hari, seorang mantan wartawan Jawa Pos Radar Madura berkata, Radar Madura seharusnya menjadi kiblat dalam membina dan mendidik jurnalis di Madura. Jurnalis yang bekerja di perusahaan media sebaiknya dimagangkan dulu di Jawa Pos Radar Madura sebelum diterjunkan ke lapangan.

Sebenarnya, Jawa Pos Radar Madura sudah menebarkan bibit-bibit jurnalistik sejak dini di lingkungan sekolah. Misalnya dengan program Jawa Pos Radar Madura Goes to School atau rubrik Lensa Pendidikan. Redaksi juga membuka ruang kepada pelajar dan mahasiswa untuk belajar atau magang di JPRM.

Baca Juga: Ketika Media Tak Lagi Menjadi yang Pertama

Menjadi seorang jurnalis Jawa Pos Radar Madura memang butuh waktu dan butuh proses. Selain dibekali materi jurnalistik, juga dilatih mental. Wartawan baru membutuhkan waktu berbulan-bulan agar karyanya bisa diterima di ruang redaksi.

Sejak berdiri, mungkin ada puluhan wartawan yang masuk Jawa Pos Radar Madura. Tapi, tidak semua bertahan atau beradaptasi sampai sekarang. Karena itu, ada yang bilang, menjadi wartawan Jawa Pos Radar Madura itu bagian dari ”seleksi alam”.

Sejak 1999, Jawa Pos Radar Madura terbukti konsisten menjadi kawah candradimuka yang melahirkan SDM jurnalis berkualitas. Jawa Pos Radar Madura tidak hanya mendidik menjadi seorang jurnalis profesional. Tapi, juga ditempa menjadi pemimpin masa depan. Tidak sedikit mantan karyawan Jawa Pos Radar Madura yang mengisi ruang-ruang di pemerintahan, jabatan politik, jabatan akademik, dan yang lainnya.

Meski begitu, masih banyak hal yang perlu dilakukan Jawa Pos Radar Madura ke depan. Apalagi, tantangan industri media semakin kompleks. Pergeseran pola konsumsi informasi masyarakat mendorong pers untuk terus beradaptasi tanpa harus kehilangan roh dan integritasnya.

Baca Juga: Menunggu Kematian Koran yang Tak Kunjung Datang

Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) mengutip perkataan Brian Solis, seorang penulis digital, dalam buku pedoman uji kompetensi wartawan cetakan keempat. Disebutkan bahwa tanpa keterlibatan platform media sosial, maka produsen, termasuk perusahaan media, akan kehilangan peluang besar untuk membentuk pesan dan opini publik.

Untuk menjawab tantangan zaman sekaligus memperluas daya jangkau informasi, Jawa Pos Radar Madura kini telah melangkah maju. Yakni dengan bertransformasi secara penuh dengan mengembangkan ekosistem multiplatform.

Kini, seluruh sajian berita dan karya jurnalisme berkualitas khas Jawa Pos Radar Madura dapat dinikmati secara fleksibel. Masyarakat tidak hanya disapa melalui lembaran koran, tetapi juga dapat mengakses kabar terkini melalui kanal media sosial yang interaktif, serta portal media online (RadarMadura.id) yang lebih cepat.

Integrasi multiplatform ini adalah bukti komitmen Jawa Pos Radar Madura untuk terus relevan dan makin dekat dengan masyarakat. Kombinasi antara keandalan jurnalisme cetak dan fleksibilitas media digital, memudahkan pembaca dan masyarakat umum menjangkau lebih luas informasi yang disajikan Jawa Pos Radar Madura. (*)

*)Redaktur Jawa Pos Radar Madura

Editor : Hera Marylia Damayanti
bertransformasi kiblat perusahaan media jawa pos radar madura jurnalis profesional