Oleh Hendriyanto*
DULU, orang menunggu koran. Pagi-pagi, koran sudah berada di depan rumah. Ada yang membacanya sambil minum kopi. Ada yang langsung membuka halaman olahraga. Ada pula yang mencari berita politik.
Koran datang membawa berita. Hari ini, berita datang sendiri. Bahkan, terlalu banyak.
Bangun tidur, kita sudah disambut berita. Belum sempat minum kopi, sudah ada video viral. Belum selesai membaca satu informasi, muncul informasi lain. Di WhatsApp ada kabar baru. Di TikTok ada video baru. Di Facebook ada perdebatan baru.
Semua orang bisa menjadi penyebar berita. Semua orang bisa menjadi komentator. Bahkan, dengan bantuan artificial intelligence atau AI, semua orang bisa membuat tulisan, gambar, suara, dan video yang terlihat sangat meyakinkan.
Baca Juga: Menunggu Kematian Koran yang Tak Kunjung Datang
Di tengah situasi seperti itu, apa yang tersisa untuk media mainstream?
Pertanyaan ini tidak sederhana. Sebab, media tidak lagi menjadi satu-satunya pintu masuk informasi. Dulu, masyarakat membutuhkan wartawan untuk mengetahui apa yang terjadi. Sekarang, masyarakat bisa melihat langsung peristiwa melalui ponsel.
Dulu, media memiliki keunggulan dalam kecepatan. Sekarang, seseorang yang berada di lokasi kejadian bisa mengunggah video dalam hitungan detik. Bahkan, sebelum wartawan tiba.
Kalau media hanya ingin menjadi yang pertama, media akan selalu kalah. Kalah oleh orang yang kebetulan berada di lokasi.
Kalah oleh akun yang tidak perlu melakukan verifikasi. Kalah oleh algoritma yang tidak pernah tidur. Karena itu, media harus mencari keunggulan baru. Bukan lagi sekadar menjadi yang pertama. Tetapi, menjadi yang paling dapat dipercaya.
Di sinilah tantangan terbesar media mainstream saat ini. Media sosial dapat menyebarkan informasi dengan sangat cepat. Tetapi, kecepatan tidak selalu berarti kebenaran.
Sebuah video bisa viral sebelum diketahui siapa yang merekamnya. Sebuah informasi bisa dibagikan jutaan kali meskipun tidak pernah diverifikasi.
Di sinilah seharusnya media hadir. Media tidak boleh hanya menjadi pengeras suara dari sesuatu yang sudah viral. Media harus menjadi tempat untuk menguji apakah sesuatu itu benar. Publik tidak hanya butuh informasi, tapi juga kepastian.
Dalam konteks inilah, saya melihat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menerbitkan berita.
Baca Juga: Menjangkau Lebih Luas
JPRM bukan hanya perusahaan penerbitan berita. Ia menjadi institusi kepercayaan publik. Sebab, JPRM yang hadir di tengah masyarakat tidak hanya menjual berita. Jawa Pos Radar Madura juga ikut membentuk cara masyarakat memahami realitas.
Di era media sosial seperti saat ini, media lokal sebenarnya memiliki peluang besar. Media lokal tidak perlu menjadi media terbesar di Indonesia. Media lokal harus menjadi media yang paling memahami daerahnya.
Media nasional mungkin datang ketika ada peristiwa besar. JPRM berada di Madura setiap hari, tentu tahu banyak tentang apa yang terjadi di pelosok Madura.
Saya percaya, media lokal seperti JPRM tidak akan mati karena media sosial. Media juga tidak akan mati karena AI. Yang mungkin mati adalah media yang tidak mau berubah.
Media yang hanya mengejar jumlah klik. Media yang tidak mau mendengarkan pembaca dan kehilangan independensinya.
Saya tetap optimistis media massa tetap akan hidup selama ada manusia. Karena sifat manusia tetap membutuhkan informasi.
Orang mungkin datang ke media sosial untuk mencari informasi. Tetapi ketika ingin mengetahui apakah informasi itu benar, mereka tetap membutuhkan institusi yang dapat dipercaya, seperti Jawa Pos Radar Madura. (*)
*)Pemred RadarMadura.id
Editor : Hera Marylia Damayanti