JPRM, Jejak yang Tak Pernah Hilang

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 14:24 WIB
Prengki Wirananda, S.Kel., M.Si.
Prengki Wirananda, S.Kel., M.Si.

Oleh Prengki Wirananda, S.Kel., M.Si.

 

ADA rumah yang kita tinggalkan, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari dalam diri kita. Dindingnya mungkin sudah jauh. Ruang kerjanya mungkin sudah berganti orang. Namun, nilai-nilai yang dibangun di dalamnya tetap menetap, menjadi cara berpikir, cara melihat dunia, bahkan cara kita mengambil keputusan. Bagi saya, rumah itu bernama Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Desember 2014 menjadi salah satu titik balik paling menentukan dalam hidup saya. Setelah beberapa bulan menganggur sejak diwisuda pada Maret tahun yang sama, sebuah panggilan datang dari Jawa Pos Radar Sumenep (JPRS), sebuah perusahaan semiotonom di bawah JPRM. Telepon itu terdengar sederhana. Namun, bagi seorang lulusan baru yang sedang berusaha menemukan arah hidup, panggilan itu adalah pintu menuju masa depan.

Ironisnya, saya datang tanpa bekal yang benar-benar memadai. Saya bukan lulusan jurnalistik. Saya menyelesaikan pendidikan di Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Trunodjoyo Madura (UTM).

Baca Juga: Menggugat Kemajuan Madura

Dunia saya saat itu dipenuhi seputar persoalan laboratorium, penelitian, statistik, jurnal ilmiah, dan metodologi riset. Saya terbiasa menguji hipotesis, bukan memburu narasumber. Saya terbiasa menulis hasil penelitian, bukan menyusun berita dengan tenggat waktu yang hanya hitungan jam.

Kalaupun ada sedikit modal, itu berasal dari pengalaman menjadi Pemimpin Redaksi UKMF Alipi. Sangat kecil jika dibandingkan dengan kerasnya dunia media profesional.

Hari-hari pertama terasa seperti memasuki hutan tanpa kompas. Saya kesulitan membaca isu. Bingung menentukan mana yang layak diberitakan dan mana yang hanya sekadar cuap-cuap. Saya juga tidak memiliki jaringan. Hampir seluruh proses hidup saya sebelumnya berlangsung di Bangkalan, sedangkan kini saya harus memahami karakter masyarakat Sumenep.

Setiap hari saya dipaksa belajar dari nol. Namun, di situlah saya memahami satu hal yang kemudian saya yakini hingga hari ini. Manusia sering kali tidak berkembang bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena terlalu banyak ruang untuk bernegosiasi dengan rasa nyaman.

Baca Juga: Sudahlah Guru, Tinggalkan Sekolahmu!:  Refleksi Ketika Guru Tak Lagi Digugu lan Ditiru, sedangkan Murid Semakin Diburu

JPRM hampir tidak memberi ruang itu. Target berita harus terpenuhi. Halaman koran tidak mungkin dibiarkan kosong hanya karena wartawannya sedang kehilangan ide. Tidak ada alasan bahwa hari ini sedang tidak punya narasumber. Tidak ada toleransi terhadap kemalasan yang dibungkus berbagai pembenaran.

Tekanan menjadi makanan sehari-hari. Dalam psikologi, kita kenal dengan konsep desirable difficulties yang diperkenalkan oleh Robert Bjork. Gagasan ini menjelaskan bahwa kesulitan yang tepat justru mempercepat pembelajaran dan menghasilkan kemampuan yang bertahan lebih lama. Kesulitan bukan musuh. Kesulitan adalah guru yang paling jujur.

Saya merasakan teori itu bekerja tanpa pernah menyadarinya. Semakin sering ditekan, semakin terlatih membaca situasi. Semakin sering gagal mendapatkan berita, semakin tajam insting mencari sudut pandang. Semakin sering dimarahi karena tulisan jelek, semakin peka memilih kata.

Pada 2017, JPRS dilebur kembali ke JPRM. Tidak lama kemudian, tepat pada 11 Januari 2018, saya dimutasi ke Pamekasan. Saat itu saya merasa proses di Sumenep belum selesai. Saya masih ingin belajar lebih banyak. Namun, perusahaan memiliki cara pandangnya sendiri.

Hari itu saya sadar bahwa seseorang tidak akan pernah merasa benar-benar siap menghadapi tantangan baru. Mutasi itu justru menjadi titik percepatan terbesar dalam perjalanan karier saya.

Baca Juga: Fokus Belajar dengan Pembatasan Penggunaan Gawai di Sekolah

Setelah beberapa tahun berproses di JPRM Biro Pamekasan, manajemen memberikan amanah kepada saya menjadi redaktur. Kemudian, menjadi Wakil Manajer Digital yang mengembangkan Radar Madura TV. Saya kemudian dipercaya menjadi Kepala JPRM Biro Pamekasan sebelum akhirnya kembali ke dapur redaksi sebagai redaktur pelaksana (redpel).

Semua itu bukan hadiah. Itu adalah akumulasi dari proses panjang yang dibangun melalui disiplin, tekanan, kepercayaan, dan kegagalan yang berulang. Profesor Psikologi Angela Duckworth menyebutnya sebagai grit. Kombinasi antara ketekunan dan konsistensi dalam mengejar tujuan jangka panjang. Bakat memang penting. Namun, ketekunan jauh lebih menentukan siapa yang akhirnya bertahan. Saya percaya itu.

Sebab, saya bukan orang yang datang dengan bakat jurnalistik luar biasa. Saya hanya orang yang setiap hari dipaksa belajar hingga akhirnya mampu berdiri sejajar dengan mereka yang lebih dulu berpengalaman.

Kepercayaan yang diberikan manajemen JPRM adalah kehormatan yang sulit saya lupakan. Saya yang awalnya hanya seorang wartawan muda akhirnya bisa duduk semeja dengan jajaran pimpinan. Bahkan, pada masanya saya menjadi salah satu pimpinan termuda di lingkungan perusahaan. Pengalaman seperti itu tidak bisa dibeli. Ia hanya lahir dari proses panjang yang sering kali melelahkan.

Namun, hidup memang tidak pernah menawarkan kebersamaan yang abadi. Pada 2023, setelah sembilan tahun berlayar bersama, saya dan Jawa Pos Radar Madura memilih jalan masing-masing.

Baca Juga: Punya Bekal Memperkuat Strategi Pencegahan Tipikor, Kasi Intelijen Kejari Bangkalan Muhammad Nizar pasca Mengikuti Pendidikan di Austria

Saya membangun media digital bernama Klik Madura. Sebuah perahu kecil yang saya pahat sendiri dari nol. Sementara Radar Madura terus melanjutkan perjalanan dengan generasi baru yang membawa energi, gagasan, dan inovasi mereka sendiri.

Banyak orang mengira ketika seseorang keluar dari sebuah perusahaan, maka hubungan itu otomatis berubah menjadi persaingan. Saya tidak pernah memandang demikian. Radar Madura bukan rival.

Radar Madura adalah rumah besar tempat saya belajar memahami arti profesionalisme. Tempat saya ditempa menjadi pribadi yang berani mengambil keputusan. Tempat saya diajarkan bahwa keberanian seorang jurnalis bukan terletak pada kerasnya suara, melainkan pada keteguhan memegang fakta.

Dalam teori modal sosial yang diperkenalkan Pierre Bourdieu, seseorang tidak hanya dibentuk oleh modal ekonomi, tetapi juga oleh modal budaya dan modal sosial. Pengetahuan, pengalaman, jaringan, serta nilai-nilai yang diwariskan sebuah institusi akan terus melekat bahkan ketika seseorang telah meninggalkan institusi tersebut.

Saya membawa semua modal itu ketika membangun Klik Madura. Karena itulah, saya selalu berharap Radar Madura tetap menjadi media yang memiliki daya pengaruh besar dalam mengawal arah pembangunan Madura.

Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026, BRI Peduli Gelar Kegiatan Edukatif di Enam Sekolah Dasar

Tetap menjadi mitra strategis pemerintah tanpa kehilangan independensi. Mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Mengkritik dengan tajam ketika kekuasaan mulai menjauh dari kepentingan publik. Terus melahirkan jurnalis yang tidak sekadar pandai menulis, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial terhadap nasib masyarakat kecil.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan media bukan hanya jumlah pembaca atau tingginya traffic digital. Keberhasilan media adalah ketika masyarakat masih percaya bahwa di tengah banjir informasi yang tidak terbendung, masih ada ruang yang menyajikan kebenaran dengan disiplin verifikasi.

Di era post-truth, ketika emosi sering mengalahkan fakta dan hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, kepercayaan menjadi aset paling mahal yang dimiliki media. Sekali hilang, sangat sulit untuk kembali. Karena itu, inovasi memang sebuah keniscayaan. Teknologi harus diikuti. Platform baru harus dijangkau. Cara bercerita harus terus diperbarui. Tetapi, satu hal tidak boleh berubah. Integritas jurnalistik.

Selamat ulang tahun ke-27 Radar Madura.

Teruslah menjangkau lebih luas, bukan hanya dalam wilayah distribusi, tetapi juga dalam pengaruh, keberanian, dan kepercayaan publik.

Sebab koran boleh berganti bentuk menjadi layar. Ruang redaksi boleh berubah menjadi ruang digital. Namun, jurnalisme yang berpihak kepada kebenaran akan selalu menemukan pembacanya.

Dan bagi saya, sejauh apa pun perjalanan ini membawa langkah, Jawa Pos Radar Madura akan tetap menjadi rumah yang tidak pernah benar-benar saya tinggalkan. Maaf. (*/han)

*)Mantan Redpel dan Kepala JPRM Biro Pamekasan

Editor : Hera Marylia Damayanti
Menjangkau Lebih Luas desirable difficulties Tekanan pembelajaran jprm