Oleh Zarnuji
"DARI Suramadu ke Masalembu,
Berlayar jauh di hari Rabu.
Bukan lagi menahan rindu,
Namun kecewa di dalam kalbu."
Tentu pantun itu tak hanya sekadar berima bu, melainkan ungkapan kekecewaan. Kalau dulu Jembatan Suramadu ditunggu-tunggu untuk kepentingan percepatan pembangunan empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep) di Madura, tapi saat sudah terbentang, pembangunan Madura belum juga maksimal.
Pemilihan kata Rabu pun dalam pantun itu tak hanya sekadar kata tersebut berakhiran bu, tapi hari ketiga dalam sepekan itu menjadi hari bersejarah karena Jembatan Suramadu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tepat pada hari Rabu, 10 Juni 2009.
Tapi sejak hari Rabu kala itu hingga 887 hari Rabu berikutnya, yaitu pada 10 Juni 2026, percepatan pembangunan Madura yang digembar-gemborkan belum juga tampak. Hampir semua politisi yang berkepentingan dengan Madura pada saat kampanye pemilu hanya mengikrarkan diri untuk membangun bumi Sakera, tapi kenyataannya jauh dari harapan.
Memang benar, pemerintah pusat sudah membentuk Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) setahun sebelum peresmian jembatan sepanjang 5.438 meter itu, tapi program yang dijalankan masih belum maksimal, terutama dalam mendorong pemerataan ekonomi masyarakat Madura, hingga akhirnya lembaga itu dibubarkan.
Pembangunan yang seharusnya merata dari labang (pintu) Suramadu, Kecamatan Labang, Bangkalan hingga Kecamatan Sapeken di ujung timur dan Kecamatan Masalembu, Sumenep di timur laut Madura, tapi masih terjadi ketimpangan.
Persoalan mendasar saja, terutama pada masyarakat kepulauan hingga sekarang belum tertangani dengan baik, yaitu mengenai sulitnya air bersih, listrik yang tidak bisa dinikmati 24 jam, keterbatasan alat transportasi, dan kendala sinyal dalam penggunaan alat komunikasi seperti ponsel.
Berdasarkan catatan Zarnuji dalam buku Ekspedisi Menantang Laut 2012, Sumenep memiliki 45 pulau berpenghuni. Jumlah tersebut tersebar di sembilan kecamatan kepulauan dan satu pulau masuk wilayah administrasi kecamatan daratan.
Dari puluhan pulau berpenghuni, hampir semua warganya mengalami persoalan tersebut. Hanya di pusat kecamatan atau pulau yang tergolong besar saja yang tidak terjadi.
Di Kecamatan Sapeken terdapat 19 pulau berpenghuni. Ironisnya, persoalan-persoalan mendasar itu masih saja dialami warganya hingga sekarang. Meski jaringan sudah bisa dinikmati warga di setiap desa, tapi masih sulit terkoneksi.
Begitu pun yang terjadi di Kepulauan Masalembu. Sejak JPRM menugaskan wartawannya melakukan ekspedisi kepulauan pada 2012, kepulauan dengan maskot Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abbotti) itu sampai sekarang belum ada perubahan signifikan.
Kecamatan Masalembu memiliki tiga pulau berpenghuni, yaitu Pulau Masalembu sendiri, Pulau Masakambing, dan Pulau Karamian. (*/han)
*)Mantan Kepala JPRM Biro Sumenep. Dosen Unija Sumenep.
Editor : Hera Marylia Damayanti