Kampus Berdampak, Lalu Apa?

Anis Billah • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 18:09 WIB
Mardiyah Hayati Dosen Universitas Trunojoyo Madura
Mardiyah Hayati Dosen Universitas Trunojoyo Madura

Oleh: Mardiyah Hayati*

Beberapa waktu terakhir, istilah Kampus Berdampak menjadi pembicaraan di berbagai perguruan tinggi. Semangatnya sangat baik, yaitu mendorong kampus agar tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Kampus diharapkan hadir melalui riset yang bermanfaat, pengabdian yang menyelesaikan masalah, inovasi yang dapat diterapkan, hingga lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Di tengah semangat tersebut, saya membaca opini Prof. Mukhamad Najib di Jawa Pos yang mengangkat persoalan graduate mismatch, yaitu kondisi ketika lulusan perguruan tinggi bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Tulisan tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dalam jumlah besar. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Saya sependapat.

Perguruan tinggi memang harus adaptif terhadap perubahan zaman. Dunia kerja berubah sangat cepat. Perkembangan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, hingga perubahan struktur ekonomi menuntut lulusan yang memiliki kemampuan baru. Kampus tidak boleh tertinggal.

Namun, menurut saya, ada satu pertanyaan yang juga penting untuk kita renungkan.

Setelah lulusan memperoleh pekerjaan, lalu apa?

Apakah tugas perguruan tinggi selesai ketika alumninya diterima bekerja?

Ataukah masih ada tanggung jawab yang lebih besar?

Pertanyaan itu muncul karena selama ini kita sering mengukur keberhasilan pendidikan tinggi dari angka-angka yang mudah dihitung. Berapa banyak mahasiswa yang diterima bekerja? Berapa banyak yang lulus tepat waktu? Berapa persen lulusan yang bekerja? Berapa banyak publikasi yang dihasilkan? Berapa paten yang didaftarkan? Berapa mahasiswa yang mengikuti MBKM? Berapa banyak usaha rintisan yang dibentuk?

Semua ukuran tersebut tentu penting. Tidak ada yang salah dengan indikator-indikator itu. Perguruan tinggi memang membutuhkan ukuran kinerja yang jelas sebagai bentuk akuntabilitas.

Namun, apakah angka-angka tersebut benar-benar menunjukkan dampak?

Saya teringat pada sebuah contoh sederhana.

Bayangkan sebuah perguruan tinggi menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan bagi seratus perempuan dari keluarga prasejahtera. Ketika kegiatan selesai, laporan akan menyebutkan bahwa seratus peserta telah mengikuti pelatihan. Target tercapai.

Namun, apakah kehidupan mereka berubah?

Apakah mereka benar-benar memiliki usaha?

Apakah pendapatan keluarga mereka meningkat?

Apakah anak-anak mereka memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak mungkin diketahui pada hari pelatihan berakhir. Dampaknya baru dapat dilihat beberapa tahun kemudian.

Begitu pula dengan pendidikan tinggi.

Wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan. Justru setelah itulah perjalanan sesungguhnya dimulai.

Ketika seorang alumni kembali ke desanya lalu membantu petani meningkatkan produktivitas, ketika seorang guru mampu menginspirasi murid-muridnya, ketika seorang dokter memilih mengabdi di daerah terpencil, ketika seorang pengusaha membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, di situlah dampak pendidikan mulai terlihat.

Karena itu, menurut saya, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari kesesuaian lulusan dengan dunia kerja (graduate match). Kita juga perlu mulai berbicara tentang graduate impact, yaitu sejauh mana lulusan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Saya memahami bahwa mengukur dampak bukan pekerjaan yang mudah.

Dampak tidak bisa dinilai dalam satu semester, bahkan sering kali tidak terlihat dalam satu tahun anggaran. Berbeda dengan jumlah peserta pelatihan atau jumlah publikasi yang dapat dihitung segera, dampak memerlukan waktu, proses, dan kesabaran.

Inilah tantangan terbesar ketika kita berbicara tentang Kampus Berdampak.

Jangan sampai semangat menghadirkan dampak justru berhenti pada banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Sebab, kegiatan adalah proses, bukan tujuan.

Yang ingin kita capai adalah perubahan.

Perubahan pada kehidupan masyarakat.

Perubahan pada kualitas ekonomi keluarga.

Perubahan pada cara berpikir mahasiswa.

Perubahan pada masa depan bangsa.

Saya percaya, setiap perguruan tinggi sedang berupaya menuju ke sana. Namun, mungkin sudah saatnya kita mulai melengkapi cara kita memandang keberhasilan.

Bukan hanya bertanya, “Berapa banyak yang sudah kita lakukan?”

Tetapi juga bertanya, “Perubahan apa yang telah kita hadirkan?”

Bagi saya, pendidikan tinggi pada akhirnya bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan. Pendidikan tinggi adalah proses membentuk manusia.

Manusia yang mampu berpikir jernih.

Manusia yang memiliki integritas.

Manusia yang peduli pada persoalan di sekitarnya.

Manusia yang tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga menghadirkan manfaat.

Jika manusia-manusia seperti itu lahir dari kampus, saya yakin dampak akan mengikuti.

Karena sesungguhnya, universitas tidak mengubah masyarakat secara langsung.

Universitas membentuk manusia.

Dan manusialah yang kemudian mengubah masyarakat. (*)

 

Dosen Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura dan Kepala UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan.

Editor : Anis Billah
Mardiyah Hayati perguruan tinggi kampus berdampak dunia kerja