Oleh Moh. Rifai, S.Ag., S.H., M.H.
BAGI saya, Radar Madura bukan sekadar nama sebuah surat kabar. Ia adalah kampus kehidupan yang mengajarkan arti disiplin, keberanian, kejujuran, sekaligus tempat menyimpan sejuta cerita yang hingga kini masih mengundang senyum.
Saya menjadi bagian dari keluarga besar Radar Madura Biro Sumenep pada kurun waktu 1999–2002, masa ketika dunia jurnalistik sedang menikmati euforia reformasi dan kebebasan pers mulai menemukan napasnya.
Kala itu, wartawan bukan profesi yang glamor. Honor tidak seberapa, tetapi semangat luar biasa.
Berbekal buku catatan kecil, pulpen yang sering kehabisan tinta, kamera analog, sepeda motor yang kadang mogok di tengah jalan, dan keberanian bertanya kepada siapa pun, kami berkeliling Madura mencari berita.
Ada pengalaman yang hingga kini masih membuat saya tertawa. Saat menelepon seorang pejabat untuk meminta konfirmasi, saya membuka percakapan dengan kalimat yang sudah menjadi kebiasaan, “Selamat pagi Pak, saya Rifai dari Radar Madura.”
Di seberang telepon terdengar jawaban, “Oh… dari Dik Kandar dari Madura ya?”
Saya sempat terdiam beberapa detik, lalu menjelaskan sambil menahan tawa, “Bukan Pak, Radar Madura… koran Jawa Pos Radar Madura, bukan Dik Kandar.”
Entah karena sinyal telepon waktu itu kurang jernih atau memang beliau belum begitu akrab dengan nama Radar Madura. Sejak saat itu, teman-teman di kantor sering menggoda saya.
Setiap kali hendak menelepon narasumber, mereka bercanda, “Hati-hati, nanti dikira dari Dik Kandar lagi, makanya tambahi Jawa Pos.”
Begitulah suasana ruang redaksi saat itu. Di tengah tekanan tenggat waktu, selalu ada humor yang membuat lelah berubah menjadi tawa.
Menjadi wartawan pada masa itu juga penuh perjuangan. Belum ada media online, belum ada aplikasi pesan instan, apalagi konferensi pers melalui Zoom.
Jika narasumber tidak ada di kantor, ya harus dicari ke rumah, ke sawah, ke pasar, atau menunggu berjam-jam sampai beliau datang.
Kadang setelah perjalanan jauh, jawabannya hanya satu kalimat, “Tidak ada komentar.” Rasanya ingin tertawa sekaligus menangis.
Mengirim berita pun bukan perkara mudah. Ketika bertugas jauh dari kantor, kami harus mencari wartel atau mesin faksimile. Pernah suatu kali saya sudah mengetik panjang lebar, tetapi listrik padam.
Semua harus diulang dari awal. Hari ini, wartawan cukup mengirim naskah lewat ponsel dalam hitungan detik. Dulu, setiap berita benar-benar diperjuangkan.
Saya juga masih ingat bagaimana setiap pagi kami berlomba mendapatkan berita eksklusif. Tidak ada istilah menyalin berita dari media lain.
Semua harus turun langsung ke lapangan. Sepatu berdebu, baju basah karena hujan, bahkan pulang larut malam adalah bagian dari kehidupan seorang wartawan.
Namun, justru dari proses itulah lahir persahabatan yang kuat. Ruang redaksi Radar Madura bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat saling belajar.
Wartawan senior membimbing junior, editor tidak hanya mengoreksi tulisan, tetapi juga membentuk cara berpikir.
Setiap berita yang terbit bukan sekadar hasil kerja individu, melainkan kerja tim yang penuh dedikasi.
Dalam pandangan saya, sejak berdiri hingga sekarang, Radar Madura telah menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Madura.
Ia tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga merawat identitas daerah. Tradisi karapan sapi, sapi sonok, musik saronen, batik Madura, pesantren, hingga nilai-nilai gotong royong masyarakat Madura terus mendapatkan ruang dalam pemberitaan.
Di situlah media menjalankan perannya sebagai penjaga budaya sekaligus pencatat sejarah.
Kini zaman telah berubah. Berita bergerak begitu cepat melalui media digital. Semua orang bisa menjadi penyampai informasi.
Namun, justru di tengah derasnya arus informasi itulah media profesional semakin dibutuhkan. Kecepatan memang penting, tetapi kebenaran jauh lebih penting.
Radar Madura telah berhasil melewati berbagai fase perubahan, dari era koran cetak menuju era digital.
Platform boleh berubah, tetapi nilai jurnalistik tidak boleh bergeser. Verifikasi, independensi, keberimbangan, dan keberpihakan kepada kepentingan publik harus tetap menjadi napas utama.
Sebagai mantan wartawan Radar Madura, saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan itu. Apa yang kami tulis dahulu mungkin hanya dianggap berita harian.
Namun, kini saya menyadari bahwa setiap berita adalah potongan sejarah yang akan dibaca generasi berikutnya.
Saya berharap Radar Madura akan terus menjadi “koran peradaban”, bukan hanya karena usianya yang panjang, tetapi karena konsistensinya menjaga marwah jurnalistik, mengawal keterbukaan informasi, mengawasi jalannya pemerintahan, dan merawat budaya Madura di tengah perubahan zaman.
Teknologi akan terus berubah. Kertas mungkin berganti layar digital, mesin ketik berganti komputer, wartel berganti telepon pintar, tetapi satu hal yang tidak boleh berubah: integritas seorang wartawan.
Sebab pada akhirnya, wartawan boleh berganti generasi, media boleh berganti platform, tetapi kepercayaan masyarakat tetap menjadi modal terbesar sebuah pers.
Tulisan ini juga sekaligus menjadi ungkapan terima kasih saya kepada Radar Madura. Di sanalah saya belajar bahwa menjadi wartawan bukan sekadar mencari berita, melainkan belajar memahami kehidupan, menghargai setiap narasumber, dan menyadari bahwa sebuah pena atau kini sebuah papan ketik dapat menjadi alat untuk menjaga budaya, mengawal demokrasi, dan mencatat sejarah Madura. (*/han)
*)Ketua KI Sumenep/Mantan Jurnalis JPRM
Editor : Hera Marylia Damayanti