Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dari Dapur Redaksi ke Ruang Demokrasi

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 19 Juli 2026 | 08:31 WIB
Sairil Munir
Sairil Munir

Oleh Sairil Munir*

 

BAGI sebagian orang, menjadi wartawan mungkin hanya sebuah profesi. Namun bagi saya, menjadi wartawan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) adalah sebuah cita-cita yang tumbuh sejak masih menjadi santri di Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan.

Setiap hari saya terbiasa membaca koran JPRM yang terpampang di mading pondok. Tidak hanya membaca, saya juga mengkliping berita-berita JPRM. Dari kebiasaan sederhana itu tumbuh keinginan besar untuk suatu saat bisa menjadi bagian dari media terbesar di Madura tersebut.

Pada 2011, meski belum menyelesaikan kuliah di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), saya memberanikan diri mendaftar sebagai wartawan JPRM. Keinginan itu begitu kuat karena saya melihat JPRM bukan hanya sebagai perusahaan media, tetapi juga sebagai institusi yang memiliki peran besar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat Madura.

Baca Juga: Inspektorat Bangkalan Tunggu Putusan Inkrah Pengadilan, Terkait Dugaan Penipuan Berkedok MBG oleh Oknum ASN

Alhamdulillah, kesempatan itu datang. Pada November 2011, saya resmi bergabung sebagai wartawan JPRM. Oleh pemimpin redaksi (Pemred) saat itu, saya ditempatkan di Biro Bangkalan. Selama enam bulan di Bangkalan, saya ditempa untuk memahami dunia jurnalistik secara langsung. Setelah itu, saya dipindahkan ke Biro Sumenep dan bekerja selama sekitar 17 bulan.

Menjadi wartawan JPRM memberikan pengalaman yang sangat berharga. Setiap hari saya dituntut untuk menulis berita, minimal tiga hingga lima berita sesuai dengan deadline. Kemampuan menggali informasi, melakukan wawancara, menyusun tulisan, hingga memahami persoalan masyarakat menjadi pelajaran yang tidak ternilai.

Selain kemampuan jurnalistik, profesi wartawan juga membuka ruang pertemanan dan jaringan yang luas. Saya bisa berinteraksi dengan berbagai kalangan, mulai dari birokrasi, eksekutif, legislatif, tokoh masyarakat, hingga tokoh nasional. Dari sana saya memahami banyak persoalan dan melihat langsung bagaimana media dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah.

Lebih dari itu, menjadi wartawan juga memberi kesempatan untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan perhatian. Melalui pemberitaan, persoalan masyarakat kecil bisa disuarakan agar mendapat perhatian dari pihak terkait.

Baca Juga: Moto Buds 2 dan Moto Buds 2 Plus Resmi Hadir di Indonesia, TWS Premium dengan Sound by Bose, ANC Dinamis, dan Baterai Hingga 48 Jam

Pada akhir 2013, saya kembali ke Bangkalan setelah menerima surat mutasi dari Pemred. Tidak lama kemudian, saya dipercaya oleh Direktur JPRM saat itu, Bapak Abd. Aziz, untuk menjadi Kepala Biro JPRM Wilayah Bangkalan.

Menjadi kepala biro menjadi fase baru dalam perjalanan saya. Tidak hanya belajar jurnalistik, saya mulai memahami bagaimana mengelola sebuah organisasi media. Saya belajar memimpin tim, mengarahkan wartawan agar menghasilkan tulisan yang tajam dan mendalam, sekaligus memahami bagaimana menjaga keberlangsungan perusahaan dengan target yang harus dicapai.

Tentu perjalanan tersebut tidak mudah. Ada dinamika, tantangan, target, dan deadline yang harus dipenuhi. Tidak jarang waktu lebih banyak dihabiskan di kantor, bahkan harus lembur demi menyelesaikan pekerjaan. Namun, semua itu menjadi pengalaman berharga tentang arti kerja keras, tanggung jawab, dan kerja sama dalam sebuah lembaga.

Selama kurang lebih tujuh tahun menjadi bagian dari JPRM, saya mendapatkan banyak pelajaran tentang dunia media dan kehidupan. Bagi saya yang berasal dari desa, kesempatan menjadi bagian dari media terbesar di Madura adalah anugerah yang harus disyukuri. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama.

Baca Juga: Berangkat dari Nol, Pengusaha Asal Pamekasan Percaya Bahwa Satu Risiko Berarti Mengurangi Satu Jatah Kegagalan

Setelah meninggalkan dunia jurnalistik, perjalanan pengabdian saya berlanjut. Saya mencoba mengikuti seleksi sebagai penyelenggara pemilu tingkat kecamatan pada Pemilu dan Pilkada 2018–2019. Kemudian pada Juni 2019, saya dipercaya menjadi anggota KPU Bangkalan periode 2019–2024 dan kembali dipercaya untuk periode 2024–2029.

Perjalanan tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari pengalaman selama menjadi wartawan JPRM. Dunia jurnalistik mengajarkan saya tentang independensi, kedisiplinan, komunikasi, memahami persoalan masyarakat, serta pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi.

Di usia ke-27 JPRM, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh keluarga besar JPRM. Semoga JPRM terus berkembang, tetap menjadi media yang menyajikan informasi berkualitas, terus mengawal kebijakan pemerintah, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan ikut menjaga demokrasi bangsa yang kita cintai bersama. (*/han) 

*)Komisioner KPU Bangkalan/Maneger Event JPRM 2016–2017

Editor : Hera Marylia Damayanti
media terbesar di Madura cita-cita wartawan pengalaman