Oleh Nur Rahmad Ahirullah
PADA saat Jembatan Suramadu banyak dibahas pembangunan dan dampak sosialnya, saya sedang duduk di bangku kuliah. Di Fakultas Ekonomi, Universitas Trunojoyo Madura yang saat itu baru diresmikan sebagai kampus negeri. Diskusi banyak digelar saat itu untuk mempersiapkan Pulau Madura yang akan dihubungkan dengan Pulau Jawa. Tahun 2003.
Banyak harapan dibangun untuk Pulau Madura saat itu. Lapangan pekerjaan, kemudahan ekonomi, dan kemajuan pendidikan adalah hal yang paling menjanjikan dari Jembatan Suramadu. Saya termasuk mahasiswa yang belajar dengan baik di kampus. Aktif di organisasi dan di kelas. Salah satu tujuannya untuk mempersiapkan diri sebagai sumber daya manusia yang siap diserap kemajuan Madura pasca Suramadu.
Tapi ketika lulus kuliah, Jembatan Suramadu belum tersambung juga. Lapangan kerja yang dijanjikan sejak 2003 belum ada pada 2007. Kemudian di tahun yang sama dengan kelulusan kuliah, saya bekerja sebagai jurnalis di Jawa Pos Grup, Radar Madura. Di tubuh media terkemuka Madura itu juga saya masih menunggu peluang sambil mendorong kemajuan lebih besar di Madura.
Akhirnya Jembatan Suramadu diresmikan beroperasi pada Juni 2010. Jurnalis-jurnalis yang meliput acara peresmian tersebut tentu merupakan orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di jembatan terpanjang Indonesia itu. Saat itu belum tampak kemajuan juga di Madura, kecuali banyaknya pedagang yang bermunculan di kanan-kiri akses Suramadu. Madura menjadi wisata. Atau lebih tepatnya, Jembatan Suramadu jadi wisata. Orang menyeberang dari Surabaya, singgah sebentar di warung-warung akses Suramadu lalu kembali lagi ke Surabaya.
Pada 2011 saya masuk Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS). Mendorong kemajuan Madura dari dalam BPWS. Tapi BPWS lemah. Kurang greget. Maka, 2013 saya kembali ke Radar Madura mendorong kemajuan Madura lagi.
Sampai akhirnya saya out lagi dari Radar Madura pada 2014. Kemudian pindah, berkeluarga, dan tinggal di Surabaya, lalu sekarang hijrah ke Jakarta. Dengan kesimpulan, cita-cita saya tidak mungkin tercapai di Madura.
Anda bisa membaca dari awal betapa anak Madura satu ini menaruh harapan besar pada kemajuan di Madura. Namun, tak bisa terwujud dengan kondisi Madura yang tak menunjukkan kemajuan signifikan dari tahun ke tahun hingga saat ini. Saya yakin, di Madura banyak anak-anak seperti saya. Mereka yang akhirnya menyimpulkan Madura tidak bisa menampung cita-cita besarnya, apalagi anak-anaknya.
Saya sangat menghormati dan sangat menghargai anak-anak Madura yang mampu bertahan di Madura. Ketahanan dan ketabahan mereka begitu besar hingga bisa menerima keadaan di sana. Alih-alih stagnan, Madura tetap begitu-begitu saja sampai sekarang.
Kendati demikian, meski banyak anak-anak Madura yang tetap bertahan di sana, apakah Madura akan begitu-begitu saja?
Melalui tulisan yang tidak bisa panjang ini (karena pesanan redaksi Radar Madura), saya ingin menggugah seluruh pemerintahan di Madura untuk berbenah. Perbaiki dan majukan Madura. Setidaknya agar anak-anak Madura di sana tetap bertahan dan tidak datang ke daerah lain di Indonesia untuk jadi tukang parkir liar, debt collector kejam, preman raja tega untuk menguasai lahan-lahan sengketa bahkan jadi begal yang keji.
Sebab, mereka yang datang ke daerah lain dan mengisi ruang-ruang kerja dan kriminalitas yang saya sebut itu, benar-benar membuat anak Madura yang bekerja sesuai regulasi dan taat hukum malu. Anak Madura yang sudah mati-matian meredam stereotipe buruk tentang Madura, hancur upayanya karena oknum-oknum Madura yang banyak dan berisik itu.
Tapi, bagaimanapun oknum yang banyak itu tidak bisa disalahkan. Mereka adalah hasil dari ketidakbecusan pemerintah kabupaten-kabupaten di Madura mendorong pendidikan dan kecakapan. Dan, tidak mampunya pemerintah di sana menciptakan lapangan kerja baru.
Pemerintah di Madura hanya melaksanakan kerja-kerja rutin. Membiarkan masyarakat bertahan hidup dengan caranya sendiri. Maka, tak heran banyak anak Madura yang akhirnya menempuh jalur tidak taat hukum untuk bertahan hidup.
Semoga segera ada perubahan. (*)
Editor : Hera Marylia Damayanti